Two Lifes at Once

Hi all. Banyak hal terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini dan berkat kombinasi antara kesibukan dan kemalasan, akhirnya tidak ada yang tertuang dalam tulisan.

As for my wedding, sebagian orang tidak bisa disalahkan mempertanyakan kenapa semua seperti tiba-tiba. Sebenarnya tidak. Beberapa teman dekat saja yang sudah tahu bahwa hal ini sudah direncanakan setidaknya satu tahun belakangan. Namun, the nature of my relationship with the-now my wife has been full of twists and can not be taken for granted, hence all the secrecy-look-alike. And good God, it has been a hell of a year.

What happened to both of us (and both our family) in this year couldn’t be understated. Masalah dan berita tidak mengenakkan silih berganti hadir sehingga pada satu titik saya merasa bahwa 2012 adalah tahun terburuk dalam hidup saya. Thankfully beberapa hal di bulan Desember ini memperbaiki sedikit mood. There were a handful of reason to ruin the wedding, or worst, it easily could be canceled.

I’m now living my life with the woman who has known me for almost a half of my age. It isn’t a short time. We both were at fault why it took us 10 years and a-stormy-on-and-off relationship to be here. Hubungan yang kami jalani sudah bukan lagi hubungan yang menggebu-gebu layaknya pasangan baru, but more like a warm jacket you’d like in a snowy winter. Tentu saja masih banyak hal dari dua orang keras kepala ini yang masih harus diperbaiki agar kita bisa memiliki 10 tahun berikutnya, tanpa masalah berarti, tidak seperti 10 tahun sebelumnya.

Namun, diterimanya saya di Departemen Anestesiologi sebagai PPDS baru juga memastikan bahwa hidup kami tidak akan semudah itu. Apakah kami bisa melaluinya dengan baik sepenuhnya tergantung dari diri kami sendiri. Dengan mudah kami memutuskan untuk tidak berbulan madu mengingat situasi yang tidak memungkinkan.

These are two new lifes I’m entering at the same time. It takes a better me to do both lifes at a good level. I’m a little scared tho. Hopefully, God will give me the strenght to do all my responsibilities as a husband and an anesthesiology resident. Both a full time job. Tough.

Saya akan makin jarang menulis sepertinya. Once in a while maybe. Best wishes for us.

Seven Eleven Kalimalang, Desember 21st 2012, menunggu istri yang sedang BL.

Melawan Korupsi Dengan Sopan? Omong Kosong.

Saya selalu berpikir bahwa menjadi ketua KPK harusnya adalah sebuah kehormatan. Memimpin sebuah organisasi super yang bertugas memberantas korupsi yang mana di Indonesia sudah dijalankan layaknya oleh organisasi mafia. Berbagai rintangan dan jebakan dipersiapkan oleh lawan-lawan. Sebuah tantangan. Adrenaline rush. Keadilan untuk semua tanpa kompromi.

Pada kasus seperti ini, negara harus memiliki seseorang yang mempunyai mental, keberanian, serta kemauan untuk melakukan the dirty works. Turun ke jalan dan membersihkan sendiri sampah-sampah walau dengan ancaman nyawa.
Bila saya ketua KPK, saya akan membuat tim super dengan visi dan misi yang sama. Sebuah tim solid yang akan melakukan dan mempertaruhkan apapun demi negara ini. Bila para koruptor mencoba membuat beratus peraturan yang menghalangi, tim ini akan menemukan ribuan cara bekerja di area abu-abu. Memberantas mafia korupsi dengan sopan dan ramah tamah? Omong kosong.

Bila memungkinkan, saya akan membentuk tim-tim independen dalam penyelidikan sehingga tidak perlu lagi terjadi konflik kepentingan dengan lembaga hukum lain seperti sebelum ini. Menumpas korupsi tanpa pandang bulu.
Pada kepemimpinan saya, KPK harus disegani. Sebuah organisasi super dimana para anggotanya adalah militan-militan anti korupsi yang bangga dengan apa yang dikerjakannya. Orang-orang dengan visi memberantas korupsi walaupun harus mati. Hasta la victorie siempre!!

Dengan kaitkata , ,

Cerita Tentang Mekilong Wenda

Anak-Anak Papua

Mekilong Wenda terlihat kebingungan melihat papan tulis di depannya. Raut wajah yang ragu-ragu, seakan melihat sesuatu yang tidak wajar di sana. Mekilong Wenda diam, mungkin berpikir sejenak apa yang hendak disampaikannya.

Sa (saya) orang Papua, bukan endonesa,” jawabnya bingung.

“Papua itu bagian dari Indonesia, Mekilong,” kata saya sambil melingkari gambar peta Indonesia buatan saya di papan tulis.

“Ah, tidak. Sa orang Papua,” katanya sambil ngeloyor pergi seperti ketika belajar pelajaran yang lain pada klinik saya sepulang sekolah.

Setelah hari itu. Saya tidak pernah lagi melihat Mekilong Wenda.

***

Saya masih ingat pertama kali melihat Mekilong Wenda datang bersama kedua orang tua dan adiknya yang masih kecil untuk berobat. Si adik sakit panas. Mekilong Wenda berdiri dengan senyum lebar di samping tempat duduk ibunya. Dan seperti layaknya anak-anak Papua, Mekilong bertubuh kecil kurus dengan perut buncit bertanda kekurangan gizi, dan ingus hijau yang hampir menetes dari salah satu lubang hidungnya. Anak Papua. Mekilong Wenda berusia 10 tahun tetapi memiliki berat tidak lebih dari 20 kg.

Buat orang Papua, anak-anak yang beringus (pilek) kental hijau yang hampir menetes jatuh tersebut adalah hal yang wajar saja. Toh semua anak seperti itu.

Mekilong tampak senang berada di klinik sekaligus tempat tinggal saya dan teman-teman karena memiliki sebuah kolam berisi ikan lele di belakang. Mekilong senang memancing. Jadi sering setiap pulang sekolah (ia baru saja masuk kelas 3 SD), Mekilong datang sendiri atau dengan adik dan temannya untuk memancing satu atau dua ekor lele.

Saya dan teman-teman tidak membiarkan mereka langsung bermain dan memancing, melainkan menyuruh mereka belajar dulu.  Hal yang menyedihkan adalah Mekilong belum bisa membaca. Jangankan membaca, mengenali huruf pun masih terbata-bata. Entah bagaimana mereka bisa naik kelas. Entah apa yang mereka lakukan di sekolah.

Suatu kali saya memberi tugas Mekilong untuk menulis huruf dari A sampai Z yang katanya sudah pernah diperlajarinya. Wajah Mekilong berubah dari serius, putus asa, dan diakhiri dengan tawa menyerah. Setelah dipaksa menyelesaikan tugas itu, ia pun segera pergi ke belakang, mencari cacing dan memancing lele, sesuatu yang dia lakukan dengan sangat lihai.

Sa su (sudah) capai di sekolah Bapa Dokter,” katanya beralasan.

Setiap kali pula Mekilong makan siang di rumah kami. Lele yang ditangkapnya kami goreng, dan dia pun makan dengan lahap. Bagaimana mungkin seorang anak bisa berpikir dengan baik ketika nutrisinya pun tidak terpenuhi sedangkan kebutuhan oksigen otaknya terganggu ingus-ingus kental yang menggantung.

 Potret pendidikan di Indonesia adalah Mekilong Wenda dan teman-temannya, bukan sekolah-sekolah mahal yang katanya berstandar internasional. Ketika anak-anak TK di Jakarta sudah dibebani dengan mengeja dan berhitung, Mekilong yang sudah masuk SD selama 3 tahun pun masih tertawa putus asa diminta mengeja huruf apa yang sudah dikenalnya.

Tidak hanya itu. Bagaimana pemerintah berharap konflik di Papua bisa mereda jika seorang anak 10 tahun di sebuah kabupaten besar di Papua bahkan tidak mengenal arti Indonesia. Ini bukan cerita indah di film. Faktanya, mereka hanya merasa sebagai anak Papua. Mereka besar dengan mengetahui kekayaan alam mereka dimanfaatkan oleh pemerintah pusat dan asing, sedang anak-anak mereka tidak pernah tahu hasilnya.

Entah mengapa Mekilong Wenda tidak pernah lagi datang ke rumah setelah malam itu saya mengajarinya arti Indonesia. Orang tua dan adik Mekilong pun tidak lagi datang klinik. Mungkin mereka pindah. Mungkin Mekilong berhenti sekolah dan membantu sang Ayah di kebun. Mungkin Mekilong yang bingung bertanya kepada sang Ayah tentang Indonesia. Mungkin sang Ayah tersinggung. Ah, mungkin Mekilong hanya bosan berteman dengan saya.

***

Rusdi tersedu di telpon. Ini kali pertama dalam beberapa bulan semenjak ia berangkat mengajar di pedalaman Papua. Ia baru saja sampai Wamena, kota besar pertama setelah hampir 3 hari berjalan kaki dari desanya.

Sa berangkat sama masyarakat yang mo pergi ke kota. Pesawat mahal, dok, harus charter. Sa mo ambil gaji, belum turun su 3 bulan,” terdengar Rusdi bercerita sambil menahan tangis.

Saya kenal Rusdi sejak pertama sampai di Papua. Lulus dari sekolah guru di wilayahnya (satu-satunya perguruan tinggi adalah sekolah guru), Rusdi dijanjikan akan dijadikan PNS dan dipanggil bekerja di daerah tertentu. Sudah 1 tahun semenjak janji itu dan Rusdi belum lagi mendengar kabar. Jadilah dia bekerja di klinik saya. Tiba-tiba saja dia mendapat panggilan itu beberapa bulan lalu.

Rusdi bercerita bagaimana dia berjalan kaki masuk keluar hutan dan naik turun bukit. Bersama pace mace masyarakat daerahnya yang juga mau ke kota untuk berbagai urusan, mereka tidur di goa, rumah penduduk lain, atau apa saja yang bisa melindungi mereka dari hujan. Ia juga bercerita bagaimana ia hanya makan patatas (umbi-umbian) tanpa nasi dan protein hewani. Mereka bilang para guru muda ini akan diperhatikan. Mereka bilang gaji akan turun. Mereka bilang… ah.

Di akhir telpon itu Rusdi bertanya kepada saya, “apa sa bisa jadi guru di Jakarta saja, Dok?”

Saya tidak bisa menjawab apa-apa.

Dengan kaitkata , ,

How To Travel: Solo Travel vs Group Travel

Hari ini saya membaca sebuah artikel tentang “solo travel vs group travel.” Sudah banyak memang artikel yang membahas mengenai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing cara. Berbagai perdebatan pun muncul tentang cara traveling yang terbaik. Perdebatan yang saya rasa sama panjangnya dengan perdebatan antara “backpacking vs non-backpacking” dan atau bahkan tentang definisi backpacking itu sendiri.

Kali ini saya tergerak untuk ikut menulis tentang apa yang saya pikirkan tentang hal itu.

Saya bukan pejalan kelas kakap. Dan portofolio jalan-jalan saya pun tidak semengkilap para senior-senior pejalan yang lain. Saya cuma seseorang yang mengalami adiksi untuk jalan-jalan secara independen. Saya sendiri sudah mengalami baik solo traveling maupun group traveling. Lalu, mana yang menurut saya lebih baik?

Jawabannya menurut saya tidak hitam putih. Dari membaca berbagai artikel dari para traveler menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka lebih memilih solo traveling. Dengan cara ini mereka lebih bebas menentukan segala sesuatunya. Mereka tidak harus berdebat tentang “kita tidur di dorm itu, atau hotel ini aja?” atau “gue bosen ah ke museum, ke pantai aja yuk.” Mereka tidak diributkan oleh kenyamanan orang lain. They travel to please themselves afterall. Buat apa sudah jauh-jauh jalan-jalan dan ternyata harus mengalami suasana tidak enak dengan teman jalan. Saya yakin semua orang yang pernah melakukan group traveling akan mengerti maksud saya.

Solo traveling membebaskan kita berjalan, with our own pace, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Menikmati apa yang ingin kita nikmati. Buat apa jalan-jalan di mall karena teman jalan minta ditemani ketika yang kita inginkan adalah bersantai di pinggir pantai sambil membaca buku?

Group traveling bukannya tanpa kelebihan. Dengan teman jalan yang tepat (dan ini sangat sudah dicari. Susahnya seperti mencari jodoh) sebuah perjalanan akan menjadi pengalaman yang sangat berharga. It feels bad when you have something to laugh or celebrate for, but there isn’t anyone to share with.

Atau ketika tertimpa musibah dan kesulitan di perjalanan, teman jalan yang tepat akan membuat kita sangat bersyukur mereka ada. Tapi teman jalan yang buruk akan membuat kita ingin meninggalkan mereka sendirian saat mereka tidur!

Sejauh ini, tipe perjalanan yang paling berkesan untuk saya adalah group traveling dengan beberapa teman dekat saya. Benar bahwa kami sering sekali berselisih paham dan membuat suasana tidak nyaman. Tapi itu selalu dapat diatasi.

Ada saat-saat dimana saya sangat menikmati solo traveling. Bisa menikmati waktu dimana saya memang ingin sendiri tanpa diganggu. Tentu ada harga yang harus dibayar untuk setiap hal.

Tapi saya rasa setiap pejalan pada akhirnya harus sering dan beradaptasi dengan solo traveling dan kesendirian itu. Ketika kita makin lapar dengan tempat-tempat dan petualangan baru, sedangkan teman-teman semakin jarang sependapat dan mungkin semakin sulit mengatur waktu. But, with solo traveling, we’ll meet someone new in the road.

Something great will (and always) unexpectedly happen when you travel.

Dengan kaitkata , , ,

[The Untold Story Series] Matahari Pagi Kelimutu

[originally posted for a travel article competition for Kompasiana. This article won “Pemenang Harapan”.
Dari bunyinya, bis tua ini terdengar berusaha sekali menaklukkan jalan antar kota dari Labuan Bajo ke Bajawa. Bau keringat bercampur dengan asap rokok dan kendaraan lain, tertiup angin masuk melalui celah-celah jendela ke hidung saya. Bis ini tidak hanya ditumpangi oleh manusia, seekor anjing pun ikut diangkut oleh seorang bapak tua yang duduk tidak jauh di depan saya. Teriakan anak-anak yang ikut di atap bis ikut menghiasi suasana. Duduk di atap bis tua dengan jalan antar kota Flores yang berbukit-bukit membuat duduk di atas kereta KRL seperti naik kereta di Istana Boneka.

Kami bertujuh memutuskan naik bis yang pertama berhenti di depan penginapan kami di Labuan Bajo setelah sebelumnya berkunjung ke Pulau Komodo. Tubuh kami sudah mulai terasa pegal-pegal. Perjalanan darat dari Bali menuju ke Flores sudah mulai menunjukkan akibat kurang baik bagi kesehatan. Tapi tidak ada yang mengalahkan perasaan itu. Rasa bebas. Bebas memilih, walau mungkin salah. Bebas menentukan dan mengambil risiko.

Kami tidak tahu harus naik apa dari Labuan Bajo menuju Desa Moni, pemberhentian terakhir sebelum Kelimutu. Yang kami tahu, saat ini, kami harus menikmati 7 jam duduk di bis tua ini, bersama seekor anjing, menuju ke Bajawa. Setidaknya ini langkah maju.

Kami tidak lama di Bajawa. Sebuah mobil sewaan berserta supirnya berhasil kami temukan. Cukup murah, mengingat biaya sewanya kami bagi tujuh.

Lagu-lagu disko pak supir menemani (baca: mengganggu) tidur kami malam itu. Jalan masih berkelak-kelok tanpa penerangan selain lampu depan mobil. Saya curiga pak supir sedang mabuk sambil menyetir. Haha.

Tengah malam kami baru sampai di Moni. Langit di Moni saat itu cerah dengan bintang yang berkerlap-kerlip. Tapi waktu istirahat tidaklah banyak. Kami harus naik ke Kelimutu sebelum subuh untuk dapat menyaksikan terbitnya matahari.

Jadilah pukul 3 pagi, dengan jaket tebal, saya dan teman-teman menuju ke Kelimutu. Perjalanan ke kaki bukit kami tempuh dengan tumpangan mobil sewaan kami yang dengan baik hati mau mengantar kami sampai tempat itu. Sayangnya, dia tidak bisa menunggu kami turun. Kami harus turun sendiri katanya. Tapi tidak ada yang terlalu perduli. Fajar sudah hampir menyingsing. Kami tidak sempat berpikir apa-apa dan langsung berlari memanjat bukit yang sudah dilengkapi tangga-tangga.

Tidak banyak orang di tempat itu. Tapi mungkin kami adalah satu-satunya orang Indonesia di sana. Ah, selain bapak penjual kopi yang menjadi sarapan kami sambil melihat matahari yang timbul perlahan. Perjalanan ribuan kilometer dari Jakarta berakhir di sini.

IMG 0913

IMG 0983

Danau Kelimutu sebenarnya adalah kawah gunung. Jumlahnya ada tiga dengan warna yang berbeda-beda dan berganti-ganti setiap waktu. Konon, menurut kepercayaan masyarakat, masing-masing danau adalah tempat berakhirnya arwah dari orang-orang yang telah meninggal. Pagi di Agustus itu, Kelimutu berwarna hijau toska, hijau muda, dan merah kehitaman.

P8187017

Ada mitos yang mengatakan bahwa kita tidak bis melempar batu sampai ke danau. Sebagai anak-anak muda yang dididik ilmu pengetahuan, kami mengambil batu-batu dan melemparnya kencang-kencang ke tengah danau. Percobaan itu… Gagal.

P8187094

Sampailah kami pada masalah berikutnya. Bagaimana cara pulang ke Desa Moni?

Beruntunglah kami akhirnya mengikuti bapak penjual kopi turun gunung ke desa-nya. Di tengah jalan kami beristirahat di beberapa rumah penduduk dan berbincang tentang kopi, kain tenun Flores, dan keluarga mereka. Saya rasa orang-orang Flores adalah yang teramah yang pernah saya temui.

IMG 1015

P8187135

Satu hal lagi. Ketika bertanya berapa jauh jarak dari Kelimutu ke Moni, semua orang yang kami temui dalam perjalanan turun gunung berkata “dekat lagi” atau “sebentar lagi”. Pada kenyataannya, kami berjalan kami selama hampir 5 jam sebelum sampai ke Desa Moni. Ternyata jarak itu relatif.

Di Moni ternyata lebih sering terdapat turis asing daripada turis lokal, sehingga makanan di warung pun banyak yang terkesan kebarat-baratan. Mahal pula! Tak mengapa lah. Hitung-hitung mendukung ekonomi warga lokal juga. Haha. Saya terbiasa tidak terlalu suka menawar harga kepada masyarakat lokal wilayah yang saya kunjungi selama masih masuk akal.

Esok paginya kami naik angkot ke Ende sebelum bertolak ke Jakarta. Supir angkotnya kali ini malah mengaku sedang mabuk. Tetapi jangan-jangan ini yang membuat mereka sangat ramah dan senang bercerita! Ha! Melewati kelok-kelok jalan rusak dan jurang, abang supir bercerita sambil tergelak, kami pun terkadang ikut tergelak sambil menahan mual dan berdoa dengan intensitas tinggi. Haha.

“Nanti coba sopi (minuman alkohol lokal), ya!” abang supir menyahut riang.

IMG 1091