Hari sudah malam ketika kami menginjakkan kaki di Labuanbajo. Pelabuhan itu gelap dan tidak terlalu ramai. Penerangan seadanya saja dari beberapa lampu neon yang dipasang jarang-jarang. Tampaknya kami adalah kapal terakhir yang tidak di sini. Tentu saja, orang gila mana yang masih mengarungi laut ketika cuaca tidak terlalu bagus di malam hari? Kecuali orang-orang serakah seperti calo-calo kapal di Sape tadi, serta pelancong-pelancong nekad dan pasrah yang tidak punya waktu menunggu.
Penginapan kami pilih sekenanya saja. Sisa energi yang sedikit ini sebaiknya kami simpan untuk perjalanan yang baru setengah jalan. Kesalahan kami malam itu adalah: bertanya kepada orang-orang dimana lokasi penyewaan kapal untuk ke Pulau Komodo dan Rinca.
—
Besok paginya kami sudah berada di laut lepas. Rasa lelah dan kesal karena ternyata kami lagi-lagi tertipu calo kapal yang saya tanya kemarin malam hilang sudah. Laut dan langit seakan menyatu dalam gradasi biru yang indah. Bau laut dan burung-burung laut terbang. What a wonderful world…


—
Matahari terik bersinar ketika kami tiba di Pulau Komodo. Debu berterbangan ke udara. Kami mengambil trek menengah yang menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Jalur trek yang menarik adalah mengitari Pulau Komodo dari ujung ke ujung selama satu hari penuh dan menginap di tenda yang telah disediakan! Sangat menantang! Mungkin lain kali.


Pulau Komodo mengingatkan saya pada Jurassic Park. Pohon-pohon dan lanskap yang terkesan sama seperti ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Tidak tersentuh oleh modernisasi dan dirusak manusia. Ada baiknya juga Flores merupakan daerah yang gersang, bila saja berupa hutan, mungkin nasib komodo sudah sama seperti teman-teman mereka si harimau Sumatera, Anoa, Badak.

Perjalanan kami dilanjutkan dengan snorkeling di Pink Beach, mengejar hiu kecil, dan menikmati turunnya malam di Pulau Kelelawar. Bersamaan dengan gelap yang semakin nyata, ratusan kelelawar menghiasi langit yang masih kejinggaan. Malam tidak pernah disambut demikian indah.

Malam itu, berbaring di atap kapal, mendengarkan suara Astrud Gilberto, saya menyaksikan hujan bintang jatuh, mencari Southern Cross, dan menikmati indahnya rasi bintang Scorpio. Malam juga tidak pernah semeriah ini dalam kesendirian.

Simpler Life
—
Saya bangun dengan bahagia. Awal yang baik, pikir saya.

I woke up with this view before me
Kami kembali trekking di Pulau Rinca. Tidak banyak berbeda dengan Pulau Komodo memang. Hanya Komodo-Komodo di Rinca terihat lebih besar dan kekar!

Tapi keindahan sebenarnya dari Pulau Komodo adalah dasar laut Pulau Kanawa. Pulau yang sepi. Tidak banyak turis. Pantainya indah, dan ada seekor rusa di pulau kecil ini. Saya tanya penduduk setempat perihal rusa ini. Begini ceritanya:



Fail!
“Beberapa tahun yang lalu seorang penduduk membawa 2 ekor rusa dari pulau seberang. Penduduk ini berharap rusa tersebut beranak pinak dan memenuhi Pulau Kanawa yang sepi. Setelah beberapa saat, salah satu rusa tampak sangat tidak nyaman. Suatu ketika, rusa yang satu itu terlihat menyebrangi lautan untuk kembali ke pulau asalnya. Rusa yang satunya tidak berani ikut. Rusa yang menyebrang itu tidak pernah sampai. Ia tenggelam dalam keberaniannya sendiri.”

The Lonesome Deer
Saya sedih sekali mendengar cerita itu. Namun semua itu hilang begitu saya bersnorkeling di satu sisi pulau itu.
Air sedang surut, menyebabkan terumbu-terumbu karang membentuk maze indah yang kami telusuri dengan berenang. Ikan-ikan ramai berenang di sekitar kami, terumbu karang berwarna-warni, seakan-akan ada karnaval yang terjadi di bawah sana. Ketika 2 tahun sesudahnya saya berharap menemukan hal yang sama di Raja Ampat, saya sedikit kecewa.
Pulau Kanawa is my ultimate underwater paradise.