Arsip Tag: dinar

[Money_Talk] 2012, A Tough Year Indeed

Tahun 2012 bisa jadi adalah tahun yang vital untuk hidup saya puluhan tahun ke depan. Di tahun ini akan ada beberapa peristiwa penting yang mungkin akan saya alami. Sebelum pertengahan tahun ini saya sudah akan resign dari pekerjaan, lalu mempersiapkan diri untuk memasuki spesialisasi selama 4 tahun (incomeless), lalu sebuah rencana besar lain di akhir tahun.

Semua hal besar butuh niat, doa, kerja keras, dan sebagian besar butuh biaya. Dan kesemuanya tidak mudah dilakukan.

Salah satu yang benar-benar butuh usaha keras adalah mengusahakan tabungan sebesar mungkin agar bisa semandiri mungkin. Apalagi pada laki-laki yang belum berkeluarga seperti saya, penghasilan cukup, dan pekerjaan yang kadang sangat padat sehingga butuh sebuah perasaan untuk ingin selalu memberikan sesuatu pada diri sendiri. Entah itu berupa makanan enak, gadget mahal, atau beberapa sesi traveling.

Saya sendiri termasuk tipe yang agak susah mengatur uang. Oleh karena itu seringnya di awal bulan, saya langsung memecah gaji bulanan saya ke beberapa pos tabungan dan investasi dan hanya meninggalkan sekitar 20% saja di tabungan yang available untuk saya belanjakan bulan itu. Bila tidak seperti ini, uang saya akan habis di awal.

Bertahun-tahun saya sulit sekali menabung disebabkan karena kemalasan saya berurusan dengan bank seperti antrian panjang, tanda tangan yang kurang mirip, dsb. Hal ini sudah tidak menjadi halangan lagi karena dari 4 bank tempat saya menabung, 3 diantaranya dapat menggunakan internet banking. Jadi saya tinggal duduk di depan macbook saya, memencet-mencet tombol, dan they do the rest.

My Investments

Selain tabungan, I religiously invest my money into mutual funds and precious metals. Jadi selain 4 buah tabungan bank, saya punya 4 buah reksadana (mutual fund), emas, dinar emas, serta dirham perak. Apakah saya seorang milyuner?!! Apa penghasilan saya puluhan juta per bulan?!! Sesungguhnya saya hanya karyawan swasta rendahan seperti kebanyakan orang. Semua itu akan segera habis tahun ini, dan saya akan memulai lagi semuanya dari awal. Tapi itu tidak menyurutkan niat saya.

Kadang ada teman-teman saya yang tertarik menanyakan kepada saya tentang selak beluk reksadana sebagai salah satu moda investasi yang mulai sering dibicarakan, khususnya oleh financial planner. Saya sendiri rasanya cukup tahu diri untuk tidak sok tahu. Semua yang saya tahu pun saya dapatkan dengan bergerilya di internet serta toko buku. Dari hanya ingin tahu tentang unit link, tiba-tiba saya sangat tertarik dengan personal finance.

Investing cartoon

Reksadana (Mutual Funds)

Tapi untuk mencoba menyederhanakan, awam ke awam, reksadana itu menitipkan uang kita kepada sebuah tim yang lebih mengerti tentang investasi di saham, obligasi, dan teman-temannya. Kita tinggal pilih komposisi yang sesuai dengan kemauan kita. Saya sendiri termasuk tipe yang lebih senang di reksadana saham.

Salah satu keuntungannya (atau kerugiannya, tergantung darimana melihatnya) adalah kita tidak perlu sibuk memantau saham-saham perusahaan apa yang perlu dibeli/dijual karena sudah diurus orang yang lebih tau. Jadi sebenarnya ini adalah cara yang sangat nyaman dan menyenangkan bagi kita yang tidak mengerti serta tidak punya waktu dan minat untuk belajar investasi langsung di saham.

Lalu apakah pasti untung? Kuncinya ada pada kata “pasti”. Karena tidak ada yang pasti, oleh karena itu, jawaban pertanyaan tadi adalah: tidak pasti untung. Seperti salah satu reksadana saham saya, Panin Dana Maksima, saya membeli dari nilai satuannya 49 ribu, hingga pernah mencapai 59 ribu dalam beberapa bulan saja, lalu ambruk saat krisis kemarin sampai 46 ribu dan sekarang cukup stabil di 53 ribuan. Ketika kita tahu apa tujuan kita berinvestasi, maka ketika harga jatuh kita tidak berpikir “rugi”, tapi justru sedang “diskon”. With that thought, I bought some more!

Screen Shot 2012 01 03 at 8 02 39 PM

Mulai membeli reksadana sendiri sebenarnya tidak sulit. Hampir semua bank besar menjualnya. Saya sendiri sempat beli di Bank Mandiri, walaupun sudah tidak lagi, karena di Bank Mandiri pembelian reksadana harus datang ke kantor cabang. Akhirnya saya memakai Commonwealth Bank yang bisa membeli reksadana dengan internet banking. Dan pembelian yang paling murah ada yang hanya Rp.100.000. Jadi kita bisa menabung sedikit demi sedikit.

Saya sendiri berharap bahwa ketika diperlukan nanti, investasi saya sudah membuahkan hasil walau mungkin belum begitu terasa. Entah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang makin baik sehingga IHSG menembus angka 4000an lagi, serta perkembangan harga emas yang melonjak ke angka 600 ribuan mungkin. Kita lihat saja.

Tapi seperti saya bilang di atas. Seringkali kita ingin sebuah reward dari pekerjaan yang sudah kita lakukan. Dan sialnya tidak cukup dengan melihat tabungan. Kita ingin sesuatu yang nyata! Hah! Oleh karena itu, saat menulis artikel ini pun, saya sambil membeli sebuah iPhone 4 white 32 GB. Ya ampuuunnnn…

NB:
Untuk bacaan bagus mengenai reksadana, silahkan download pdf dari Bapepam di sini

Dengan kaitkata , , , , ,

Dirham yang Mana?

Baru hari ini tiba-tiba saya terpikir untuk mengkonversikan tabungan haji saya ke dalam dirham. Ide ini muncul tiba-tiba saja ketika akan tidur tadi. Oleh karena itu segera setelah bangun saya membuka macbook saya dan mulai browsing di internet.

Sebenarnya sudah beberapa waktu ini saya berminat membeli dirham hanya saya belum bertemu dengan sistem yang semudah m-dinar, dimana saya menabung dinar saya. Gerai dinar saya tahu juga menjual dirham, tapi saya cari-cari sepertinya tidak ada yang online seperti dinar.

Kenapa konversi ke dirham? Alasan investasi sebenarnya. Bila disimpan dalam rupiah, pastinya nilai tabungan haji saya terus menurun karena biaya haji juga terus naik. Dirham pun masih terbilang murah, dan menurut pendapat berbagai ahli masih akan terus naik karena fitrahnya berada pada kisaran 1/15 dari dinar. Saat ini masih sekitar 1/30. Alasan lain tentunya karena ingin sedikit banyak mengaplikasikan hal-hal islami dalam kehidupan saya.

Tapi itulah awal dari kebingungan saya.

Saya akhirnya menemukan ada 3 harga dirham yang cukup jauh berbeda dari penjual yang berbeda. Gerai dinar (GD), wakala induk nusantara (WIN), dan dinarfirst (DF).

Selama ini saya selalu mengira dinar dan dirham yang dijual sudah terstandardisasi dan diakui masyarakat Islam di dunia. Ternyata saya salah. Di Indonesia saja 3 organisasi ini tidak mengakui DD satu sama lain. Semua beranggapan paling benar.

Ini adalah hal yang miris buat saya. Ketika 3 organisasi itu mengklaim ingin memajukan DD sebagai salah satu jalan tegaknya ekonomi Islam dan ingin agar DD menggantikan uang kertas yang penuh riba, mereka sendiri saja tidak mengakui sesama pemroduksi DD. Bagaimana bisa DD menggantikan uang kertas kalau begitu? Bagaimana masyarakat awam seperti saya bisa sepenuhnya percaya pada DD? Ini semua menggelikan!

Ini baru soal mata uang, di 1 negara. Kita belum bisa akur dan sepakat. Belum masuk masalah akidah, di seluruh dunia pula. Saya tidak begitu paham agama, tapi saya merasa ada yang salah dengan ini.

Bahwa pada akhirnya saya memilih salah satu organisasi bukan berarti saya menganggap mereka paling benar dan terpercaya. Saya yakin semua bisa dipercaya. Harapan saya suatu hari nanti masalah di antara mereka bisa selesai dan mata uang DD benar-benar bisa maju demi kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Dan semoga tabungan saya benar-benar bisa mengantar saya ke tanah suci. Amin.

Salam.

link:

1. gerai dinar

2. wakala induk nusantara

3. dinarfirst

Dinar/Dirham geraidinar

gerai dinar

Dirham win

WIN

dinar/dirham DF.jpg

Dinarfirst

Dengan kaitkata , , , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.