Kadang kita ga pernah tau darimana kita belajar sesuatu. Oleh sebab itu juga tidak sepantasnya kita memandang rendah orang lain. Tulisan ini penghargaan saya kepada seorang nelayan di Pangandaran yang walau dengan pendidikannya yang mungkin terbatas dan tidak tinggi (astaga, saya tidak bermaksud memberikan judgement), pria ini bisa berpikiran lebih terbuka dan jernih daripada beberapa saudara kita yang merasa jauh lebih pintar.
Percakapan kami terjadi saat perjalanan pulang dari pantai di seberang Pangandaran yang waktu itu kami capai dengan perahunya. Pada awalnya pria ini bercerita tentang bagaimana tsumani menghancurkan sebagian besar sarana dan prasarana para nelayan di Pangandaran. Mereka kehilangan perahu dan alat2 mencari mata pencaharian dan bagaimana ganti rugi pemerintah tidak begitu memadai karena –ah, kita semua sudah bosa mendengarnya- korupsi. Harga satu kapal nelayan pangandaran rata2 adalah 15 juta belum termasuk motor yang seharga 20 jutaan. Ganti rugi pemerintah sebenarnya sudah seharga 15 juta, namun perahu yang hadir di pelabuhan ternyata bernilai 10 jutaan saja. Kualitasnya rendah, sehingga nelayan2 harus membenahinya lagi agar sanggup melaut di laut selatan yang ganas. Belum lagi membeli motor dan alat2 melaut lainnya. Keluhannya berlanjut pada naik turunnya harga ikan di Pangandaran, ia kesal dengan para pembeli yang kadang tidak mengerti bahwa melaut bagi nelayan di Pangandaran adalah mengadu nyawa. Bayangkan perasaan mereka ketika pulang dan mendapati harga ikan sedang turun.
Lalu sampailah kami pada pembicaraan pendek kami yang –ya- meskipun pendek sangat bermakna sekali menurut saya. Begini menurut yang saya ingat sebisanya:
“kalau tanggall 26 nanti ada acara mas (dia menyebutkan namanya Cuma saya lupa”, pria ini menarik kapal ke pinggiran pantai. Saya melompat turun dari kapal. Pasir pangandaran yang coklat masuk ke sela2 sendal saya.
“acara apa tuh mas?”
“ya itu, persembahan ke laut”, saat ini saya mulai memikirkan judgement saya tentang pria ini: ah, ternyata pria ini percaya tentang legenda Ratu Laut Selatan.
“buat nyai ya mas?”, saya bercanda, mencoba mengikuti alur pikiran manusia di hadapan saya sekaligus mencari mkonfirmasi atas judgement saya. Sebisa mungkin saya tidak terdengar merendahkan.
“haha”, dia tertawa sebentar yang membuat saya heran, lalu melanjutkan, “itu sih saya ga tau mas. Itu sudah tradisi di sini. Buat saya sih, sepanjang tahun saya sudah nyari rejeki di sini, yah, anggap aja rasa syukur saya sekalian ngasih makan ikan2 di laut”
DEG! Hati saya tergetar. Pria kecil nelayan ini melebihi semua ekspektasi saya. Dan sampai beberapa saat sesudahnya, saya mengagumi sekali indahnya kata2 jujur yang diucapkannya tadi. Gila, yang kayak gini ga bisa dimiliki orang2 yang mengaku lebih berilmu, lebih beragama. Orang2 yang sedikit2 bilang musyrik, sedikit2 bilang haram. Merasa bahwa manusia adalah makhluk paling besar dan paling berhak atas bumi ini. Bahwa semua yang ada di bumi ini diciptakan untuk manusia. Menggrebek tempat2 kesenian, membakar buku2. Cih. Tidak salah Ayu Utami melancarkan protes keras dengan Bilangan Fu terhadap kaum kayak begini. Mereka2 yang secara tidak sadar telah merendahkan kesadaran masyarakat untuk menghormati alam dan makhluk2 di dalamnya, halus dan kasar. Mereka2 yang membuat masyarakat tidak ragu2 lagi meraup hutan tanpa takut oleh jin2 hutan, membom laut tanpa takut Nyai Roro Kidul. Mereka yang yakin mereka lebih suci…


