Sudah hampir 2 bulan sejak saya menyelesaikan “Tanah Tabu”-nya Aninditha atas saran seorang teman. Saya tidak akan bisa menulis review yang baik tentang buku ini karena penilaian saya akan sangat subjektif. Ini buku yang mengingatkan saya pada sebuah kota dan saat-saat yang sudah berlalu namun saya yakin akan terus mengikuti saya sampai beberapa waktu yang lama.

6 bulan bukan waktu yang singkat untuk mengenal sebuah kota dan kebudayaannya, tapi saya rasa cukup sebentar untuk menimbulkan perasaan cinta. Tentu saja saya tidak mencintai kota Timika yang hanya sebesar kompleks yang agak besar di Jakarta, dimana sarana hiburan sangat terbatas, dan satu-satunya perpustakaan dan video library hanya dikhususkan untuk karyawan Freeport dan keluarga-nya. Tapi masyarakat lokal lah yang benar-benar mencuri hati saya.
Saya bisa merasa kenal betul dengan sosok Mabel, atau Mama Anabel, seorang wanita setengah baya dari Lembah Beliem. Saya merasa pernah bertemu dengan Mace, perempuan yang berjuang sendirian untuk keluarganya. Saya merasa pernah menggendong Leksi kecil di klinik saya. Dan jemuran-jemuran beraneka warna di depan rumah mereka itu.
Mabel dan Mace mengingatkan saya pada banyak pasien saya. Mama Flora yang setiap kali bertemu saya di luar klinik selalu menyapa dengan suara keras yang kadang membuat saya malu: “Heii! Bapa Dokter ganteng!”. Mama Jubelina yang dengan bercocok tanam patatas dan sayur-sayuran mampu mengirim dua anaknya ke Jakarta, ia sendiri berencana ke Jakarta untuk wisuda anaknya bulan ini. Mama Anace yang saya beli noken buatannya, dan konon beberapa kali berkata “saya sedih” ketika berobat kembali dan mengetahui bahwa saya telah pindah ke Sorong. Mama Ugue Ulua, di SP 7, wanita tua sebatang kara. Ketika Mama Ugue sakit maag, saya menyarankannya agar makan teratur, dia menjawab “Mama makan itu bisa, tapi uang untuk beli makan itu yang tra ada.” Mama Hagar Gobay yang memberi saya hampir 100 bibit ikan mujair untuk kemudian hilang tanpa sisa ketika banjir.
Saya tidak bisa tidak lebih menyukai masyarakat asli. Mereka memang terkadang berbau cukup khas dengan olesan minyak babi-nya. Gigi-nya yang kemerahan karena memakan pinang. Dan kadang kurang sopan karena berbicara dengan bahasa suku Dani yang saya tidak mengerti di depan saya. Haha. Tapi mereka ini jugalah yang dengan setia menunggu klinik buka pada waktunya, kadang sampai tidur di teras klinik bila tau klinik masih tutup. Kadang dengan tubuh menggigil dan panas karena malaria. Mereka nyaris tidak pernah menggedor pintu ketika saatnya istirahat. Kalaupun mengetuk, ketika diberitahu klinik sedang tutup, mereka pun segera mengerti. Kadang ketika berbincang dengan Mama-mama itu saya secara tidak sadar merangkul mereka seperti saya kadang merangkul ibu saya sendiri di rumah.
Hal seperti ini tidak terjadi dengan kebanyakan pendatang. Mereka yang datang dengan mobil bisa membunyikan klakson sampai kita keluar. Memaksa-maksa dengan wajah memelas bahwa mereka dalam keadaan emergency. Dan nyaris selalu pulang dengan wajah marah ketika kami bersikeras menolak menerima pasien false emergency yang kadang hanya datang di waktu tutup karena malas mengantri.
Saya akan bercerita tentang 2 orang anak di Papua ini pada tulisan berikutnya. Mekiron Wenda, bocah suku Dani. Serta sedikit tentang Wahid, seorang Mujair (Muka Jawa Lahir di Irian), dan apa kesamaan mereka berdua, dan kenapa Papua mungkin butuh waktu yang lama untuk maju.
Salam…
