polaroid hitam putih

Julio 10, 2009

Flores on Shoestring (Jakarta-Kuta Bali-Senggigi-Gili Trawangan-Bajo-Komodo-Rinca-Kelimutu)

Archivado en: travel — Etiquetas:, , , , , — Bintang Pramodana @ 12:31 am

Teman-teman, ini adalah rencana jadwal kita utk berpetualang di flores. Ada cukup banyak perubahan dibanding posting yang dulu karena rencana ke Kelimutu dan juga mengejar puasa hari pertama tanggal 22 Agustus. Oleh karena itu perjalanan akan dibuat seefisien mungkin. Maaf bila budget menembus angka 3 juta. Beberapa angka masih berupa perkiraan (kadang2 karena data yang beragam), sehingga pengeluaran bisa lebih atau kurang dari itu. Belum lagi pengeluaran tidak tercantum seperti laundry, dsb.

Tgl 9, kita berangkat dengan pesawat Air Asia yang tiketnya sudah kita beli. Berangkat pukul 8 malam, kita akan tiba sekitar pukul 10-11 malam. Percuma langsung ke Kuta sekarang. Belum tentu kita dapat kamar. Kita tidur di bandara dulu ya. Hahaha. Besok pagi, kita ke Kuta naik taksi, harganya dulu 40ribu. Nginep di losmen sekitar Poppies Lane aja. Harapan gue berhemat ada di losmen2 ini. Yah walaupun ga banyak.. Segera booking tiket ke Senggigi di Perama dengan harga 150 ribu.

Tgl 10, ke Senggigi dengan Perama. Sampe disana bakalan sore. Langsung aja kita booking lagi tiket ke Bajo untuk tgl 13. Cari penginapan. Murah meriah juga disini. Tgl 11 kita ke Gili Trawangan dari Pelabuhan Bangsal. Berpuas-puaslah di Gili.

Tgl 13, kita balik ke Senggigi langsung naik bis ke Bajo dengan harga 175 ribu. Bakalan sampe Bajo jam 8 malem. Gue harap kita masih bisa carter kapal, entah dari penginapan atau dari pelabuhan di deket sana. Harganya bervariasi antara 400 ribu – 1,5 juta perhari!!! Gue ambil yang maksimal 1,5 juta utk 2 hari. Ada yang cerita gitu. Moga2 kita dapet.. kalo ngga… hm… kita pikirkan disana. Harga tiket masuk juga bervariasi. Yang resmi sih bilang 75 ribu plus 12 ribu. Tapi ada yang bilang sampe 200 ribu. Huh! Katanya kalo bilang pelajar jadi lebih murah.

Tgl 15, kta naik kapal ke Komodo-Rinca. Rutenya gue masih kabur. Apakah ke Komodo atau ke Rinca aja. Belom lagi rencana snorkeling. Kita bakal nginep di kapal sih kayaknya. Ini biaya masih bisa naik bgt disini. Be prepared. Gue belom ngitung snorkeling yang mungkin nambah 50 ribu per orang. Kalo bisa harga kapalnya udah termasuk makan dan snorkeling. Sampe Bajo lagi jangan lupa cari carteran mobil ke Moni. Naik bis sih bisa, Cuma kalo bisa dapet harga 600 ribu bakal lebih murah.

Tgl 17, kita agustusan dulu kali ya. Hahaha. Langsung ke Moni 17 jam. Fiuh. Malam kita langsung nginep aja. Be prepared kita bakal naik ke Kelimutu naik bis lokal yang brangkat jam 4 pagi. Berangkat naik bis, pulang jalan kaki 3 jam katanya. Gapapa. Toh kita masih punya banyak waktu.

Tgl 19, kita ke Ende dari Moni yang memakan waktu 2 jam saja. Kita menginap semalam disini karena besok pagi pesawat kita berangkat jam 10.

Tgl 20, kita meninggalkan Ende untuk sebelumnya ke Kupang sebelum bertolak ke Jakarta. Sekitar jam 2 kita sudah di Soekarno-Hatta.

Total biaya: 3.265 ribu. Huh, gue rasanya aga sebal. Apa boleh buat. Ada plan B yang lebih murah yaitu kita pulang lagi ke Mataram dengan jalur tadi. Kali ini kayaknya tanpa Perama deh. Lebih ribet. Lalu naik pesawat dari Mataram. Beda 400 ribuan. Cuma lebih kejar2an sama waktu. Pilihan di tangan kita, Cuma waktu aga mepet untuk memutuskan. Gue sih ingin semurah2nya karena backpacking adalah filosofi, haha.

Salam.

(data dari Lonely Planet dan website2 travel serta blogs2 pribadi)

.

.

.

.

Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
9

Ke Bali berangkat jam 8 malam, tiba jam 11 malam. Tidur di?? Bandara!

460 ribu

10

Enjoy Bali

15 ribu (Taksi)

50 ribu (makan)

35 ribu (losmen)

100 ribu

11

Pagi ke lombok, sampe senggigi

150 ribu (transpor)

50 ribu (makan)

35 ribu (losmen)

235 ribu

12

Ke gili

15 ribu (transpor)

35 ribu (losmen)

50 ribu (makan)

100 ribu

13

Balik ke senggigi

Jam 2 siang naik bis malam ke Bajo pake Perama

175 ribu (transpor)

50 ribu (makan)

100 ribu

14

Sampe Bajo jam 8 malam. Langsung nginep.

50 ribu (makan)

35 ribu (losmen bajo)

85 ribu

15

Nyewa kapal ke Komodo-Rinca 2 hari plus makan 1-1,5 juta. Masuk TN, bayar guide, dsb.

150 ribu (kapal)

100 ribu (tiket)

50 ribu (makan)

300 ribu

16

Pulang ke Labuan Bajo sore. Nginep sehari dulu. Besok pagi berangkat ke Moni

50 ribu (Makan)

35 ribu (losmen)

85 ribu

17

Pagi 17 Agustusan di Bajo. Baru berangkat ke Moni 15 jam. Kita nyewa mobil aja ya guys. 800 ribu sehari. Sampai Moni kita nginep dulu sehari. Besok sunrise di Kelimutu.

100 ribu (mobil)

50 ribu (makan)

35 ribu (losmen)

185 ribu

18

Sunrise di Kelimutu. Menikmati sore-malam di Moni.

50 ribu (makan)

17 ribu (bus ke kelimutu)

35 ribu (losmen)

116 ribu

19

Pagi kita ke Ende. Nginep di Ende. Menikmati hari di Ende

50 ribu (makan)

14 ribu (bus ke Ende)

35 ribu (losmen)

99 ribu

20

Pulang dari Ende jam 10 pagi dengan rute Ende-Kupang-Jakarta

1400 ribu

21 22 23

Junio 16, 2009

Mengejar Matahari Ke Gunung Gede – Part 2 (13-14 Juni 2009)

Archivado en: travel — Etiquetas:, , , , — Bintang Pramodana @ 12:01 pm

Perjalanan dari Gunung Putri ke Alun-alun Surya Kencana memakan waktu kurang lebih 7-8 jam. Formasi perjalanan selalu berubah-ubah dikarenakan satu lain hal seperti kelelahan, pengetahuan akan jalan, kenekatan, kesombongan, dll. Haha. Namun saya paling sering menghabiskan waktu berjalan, terutama saat2 terakhir bersama 4 orang: Wega, Mike, Reyhan, dan Zulfa. Ada catatan khusus tentang Wega dan Zulfa yang ingin saya ceritakan. Sebelumnya saya benar2 mengira Wega hanyalah pencinta pria biasa (setelah dikecewakan wanita, haha), tapi ternyata itu hanya superfisial saja. Wega adalah pencinta alam sejak lahir. Ayahnya baru saja mendaki Mahameru bersama adiknya yang ketua Mapala-nya Parahyangan. Wega sudah rafting dari umur 8 tahun. Sedangkan Zulfa adalah alumni UnHas dan TBM-nya disana. Pernah naik gunung 4 kali, dan tidak pernah terlihat terlalu capek. Gila ini cewek.

Figure 1 Reyhan, Michael, Zulfa, dan Wega – Ketika kami beristirahat sejenak

Setelah sesi foto yang menyenangkan di SK, kami mulai membangun tenda. 4 tenda kecil dibangun: 3 untuk pria, 1 wanita. Akhirnya saya belajar juga membangun tenda. Tenda wanita Cuma akan berisi Eci dan Zulfa dan berisiko akan kedinginan malam ini. Makan siang mulai dimasak. Jerry membuat kita semua terselamatkan dari makan nasi keras atau bubur nasi. Menu siang ini dengan mie instan dan sarden. Tidak bisa dibilang enak memang. Tapi mau apa lagi? McD belum lagi buka cabang di SK. Alfamart juga.

Figure 2 Saya, Padang Rumput, dan Edelweis

Sesi tidur siang menjadi acara selanjutnya. Malam gila kemaren membuat jam tidur kami dihabiskan untuk mendaki dan mendaki. Jadilah semua orang pulas siang itu. Sore hari ketika saya bangun, masih sedikit orang yang sadar. Kabut mulau turun dan membuat suasana mulai dingin. Saya mulai ngeri. Kalo jam 3 sore aja dingin kayak gini, gimana jam 3 subuh?!! Sore dihabiskan dengan minum2an hangat dan main kartu UNO. Haha.

Figure 3 Bermain UNO..

Figure 4 Kabut Mulai Turun Padahal Masih Jam 3 Sore

Malam harinya,sehabis makan malam, sekitar pukul 7 lebih, semua orang memutuskan untuk beranjak ke tenda saja. Acara ngobrol2 malam ditiadakan. Alasan utamanya jelas: dingin yang tadi sore bertambah puluhan kali lipat. Langit malam begitu cerah dan begitu indah. Bayangkan mendengar Claire de Lune-nya Debussy saat ini, dan kau tidak akan pernah ingin pergi. Tidak terbayang rasanya melihat ratusan bintang bertebaran di langit malam. Tidak setahun sekali kita bisa melihat ini. Kami berdoa agar hujan tidak turun. Amin.

Tuhan tidak mengabulkan doa itu. Hujan turun pada jam 12 malam hingga pukul 2 pagi. Air merembes membasahi tenda2. Satu hal ini bisa membunuh kita semua dalam diam: hipotermia. Baju yang kering adalah kuncinya. Terima kasih pada teman2 setenda (Abol, Mike, Wega) yang membuat tenda menjadi hangat. Yang dikhawatirkan terjadi, bahwa Eci dan Zulfa kedinginan hingga tidak bisa tidur. Wega berkali2 menawarkan untuk tidur setenda dengan mereka, tapi tampaknya mereka lebih suka mati kedinginan dibanding setenda dengan Wega. Haha.

Figure 5 Teman2 Yang Menghangatkan

Jam 3 pagi. Dingin sangat menggigit dan dalam kapasitas membunuh. Saya tidak bercanda. Kalau saya sendirian malam itu, saya pasti sudah mati hipotermia. Tenda2 mulai dibongkar. Ridho memasak air panas untuk minum dan makan pop mie atau bubur. Sebagian mempacking lagi tas mereka. Pukul 5 semua sudah hampir siap.

Pukul 5.30. Rombongan bergerak maju menuju puncak Gede yang terlihat dari SK. Semburat merah jingga mulai kelihatan sedikit demi sedikit. Kami akan terlambat mengejar sunrise! Sampai di puncak pukul 6 pagi, matahari memang sudah muncul, tapi kami tidak benar2 terlambat. Kata Iwan: “mataharinya kedinginan juga. Telat bangun dia”, haha.

Pagi di puncak Gede sungguh menkjubkan. Bromo mungkin mempunyai pemandangan yang lebih mistis dan menggairahkan, tapi puncak gunung Gede adalah puncak pertama yang saya capai dengan perjuangan setengah hidup. Matahari pagi mana yang sanggup menandingi itu?

Figure 6 Matahari Mana yang Mengalahkan Matahari Pagi yang ini?

Kami pulang melewati jalur Cibodas yang lebih landai tapi menyakitkan telapak kaki. Ya, karena trek disana full dengan batu2. Berjalan santai dan berhenti dibeberapa titik untuk bersantai, kami akhirnya mencapai Cibodas pada pukul 3 sore. Kelaparan dan kelelahan. Pada akhirnya kami mengenal teknologi lagi bernama HP, facebook, dsb. Di gunung, hanya senter, kompor, dan kamera teknologi yang kami kenal.

Pada akhirnya, kami (paling tidak saya) tidak menyesal mengarungi petualangan seru 3 hari ini. Saling mengenal lagi tabiat masing2. Ga ada yang bisa menyembunyikan diri mereka di gunung. Saya memang telah jatuh cinta terhadap laut dan pantai, tapi saya juga membuka diri untuk perselingkuhan dengan gunung. Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa harus ada reuni untuk ini. HARUS.

Figure 7 Tidak ada yang melebihi Indonesia untuk kekayaan alam…!

Mengejar Matahari ke Gunung Gede – Part 1 (12-13 Juni 2009)

Archivado en: travel — Etiquetas:, , , , — Bintang Pramodana @ 9:22 am

Awal dari semua ini adalah ketika Michael Mandagi meminjam buku2 saya. Di antara itu semua, terseliplah 1 buku, “5 cm”. Selesai membaca buku ini, Mike mengajak saya ke Semeru. Saya berjanji untuk menemaninya. Sebelum itu, saya mengusulkan trek pembuka, sekalian latian naik gunung, Gunung Gede. Awalnya, kami hanya akan berangkat ber3 (dengan Abol). Untunglah, hanya H-3 dari keberangkatan, pembicaraan saya dengan Reyhan menyelamatkan hidup kami ber3. Reyhan berjanji untuk menemani kami asalkan jadwal perjalanan diundur 1 bulan. Kami setuju. Reyhan mengatur apa yang pada akhirnya menjadi “FKUI 2003 GOES TO GUNUNG GEDE”.

Figure 1 Teman Seperjalanan yang Hampir Melakukan Kebodohan

“kalo ada 250 orang ke Gunung Gede, yang tinggal Cuma 13 orang”, itu kata2 Ridho yang paling berkesan buat saya. Menggambarkan hanya 13 orang yang mewakili FKUI 2003 untuk mendaki puncak Gede. Ini adalah nama-nama luar biasa itu:

  1. Albertus Marcelino (gol A)
  2. Bintang Pramodana (gol A)
  3. Iwan Junianto (gol C)
  4. Jerry E. Putra (gol C)
  5. Michael Mandagi (gol D)
  6. Ridho Ardhi S (gol D)
  7. Resita Sehati (gol D)
  8. Reyhan Edi (gol D)
  9. R. Siddhi Andika (gol D)
  10. Qushay Umar (gol D)
  11. M. Irsyad (gol D)
  12. Septo Sulistio (gol E)
  13. Wega Sukanto (gol E)
  14. Zulfa Eka Sari (adalah alumni TBM UnHas dan adalah wanita yang luar biasa hebat; sudah dibaptis menjadi anggota kehormatan tim FKUI 2003 di puncak Gede)

Dr. Ratna, dekan FKUI, dan dr. Akmal Taher, direktur RSCM, membuat saya gelisah karena acara mereka baru selesai jam 5 sedangkan tim belum lagi berkumpul untuk packing. HokBen pun dipesan untuk makan malam karena tidak sempat lagi untuk makan malam dijalan. Ini akan menjadi pengalaman pertama saya naik gunung. Ada gairah sendiri untuk ini. Walaupun banyak orang yang meminta saya memikirkan ulang perjalanan ini, saya berkeras. Kita akan lebih menyesal bila kita tidak melakukan sesuatu, dibandingkan menyesal telah melakukannya. Percayalah. Si pencinta laut, anak pantai tropis, akan beranjak ke gunung. Pantai yang hangat, Gunung yang dingin membunuh. Saya gelisah dan takut, namun berusaha tidak menunjukkannya dihadapan orang2.

Wita melewatkan jalan2 bareng BFM untuk nonton Star Trek dan menemani saya sampai sebelum saya berangkat. Hal yang cukup menjadi anti-ansietas. Makanan dan barang2 dibagikan agar berat tas seimbang dan sesuai kemampuan. Saya menyesal telah menjadi satu dari yang paling tidak bisa diandalkan. Namun, teman2 cukup suportif dan tidak berkata apa2 tentang itu. Apa lagi yang bisa diharapkan dari teman2?

3 mobil telah siap mengantar kami semua ke Cibodas, sebagai basecamp pertama, sebelum melanjutkan ke basecamp sebenarnya di Gunung Putri karena kami akan naik lewat jalur itu. Jalur yang dikenal berat… Rombongan Mike bertugas mencari minyak tanah, Reyhan mengambil spanduk, dan Ridho menjemput Eci sambil membeli barang2 yang kurang, khususnya makanan.

Jam 11 malam semua tim telah sampai di Cibodas. Persiapan akhir dilakukan, briefing, dan berdoa. Angkot kuning telah menunggu. Kami berangkat ke Gunung Putri dan bercanda tentang betapa gilanya saya dan Mike. Padahal itu hanya sebulan yang lalu, tetapi terasa konyol sekali. Haha.

Figure 2 Di Basecamp Gunung Putri

Pendakian dimulai sekitar pukul 1 pagi dari basecamp Gunung Putri. Target sampai alun-alun Surya Kencana adalah pukul 8-9 pagi. Inilah awal kegilaan itu. Trek2 awal masih dalam batas kewajaran (ataukah karena masih jam2 awal??). saya sempat akan terjatuh namun menahan dengan kaki kanan saya dan menyebabkan straining pada otot quadriceps saya. Irsyad pun terpaksa berkorban dengan berkali2 menyemprotkan kloro etil ke paha saya demi agar saya bisa melanjutkan perjalanan tanpa rasa nyeri.

Figure 3 Frustasi di Gn Putri

Pukul 4 dini hari, kami beristirahat. Beberapa tertidur hanya beralaskan batu dan tanah. Dingin mulai mencekam dan menggila. Saya, yang tidak tahan dingin, menggigil sebisanya. Sakit! Solat Subuh pun dilakukan dengan tayamun dan dengan baju tebal. Ini belum lagi hujan. Kalau hujan, saya tidak bisa membayangkan. Ngeri.

Perjalanan lanjut jam setengah 6 pagi. Dan makin membuat frustasi. Jalan makin terjal dan tidak bersahabat. Trus menanjak dan sedikit sekali bonus jalan landai, jangan harap ada turunan. Awalnya support “ayo, dikit lagi sampai tuh”, “pohonnya udah pendek, berarti udah deket”, atau “puncak udah keliatan tuh”, cukup membuat semangat naik lagi. Tapi berkali-kali kecewa karena itu semua ternyata bohong belaka, hingga akhirnya kalau ada orang yang berteriak seperti itu, ingin rasanya saya melemparnya turun.

Pukul 9 pagi. Apa yang kami tuju hari ini akhirnya terlihat di depan mata… hamparan savana dengan rumput2 pendek berwarna kekuningan dan pohon2 bunga Edelweis yang abadi memanjakan mata. Tukang nasi uduk legendaris sudah siap menawarkan dagangannya. Sensasi ketika melewati pohon terakhir yang menutupi padang ini adalah seperti orgasme panjang setelah sesi sadomasokis yang mengerikan… saya tidak berlebihan.

Figure 4 Penjual Nasi Uduk Legendaris (berbaji biru berdiri) Menawarkan Dagangannya

Figure 5 SEMANGAT!!

-berlanjut ke Part 2-

Mayo 10, 2009

Tiba-Tiba Saya Ingin Menjadi Menteri Pariwisata Indonesia

Archivado en: travel — Bintang Pramodana @ 6:58 pm

Entah kenapa pikiran ini tiba-tiba saja muncul di kepala saya. Mungkin karena kekesalan saya pada fakta bahwa industri pariwisata Indonesia bagai berjalan ditempat dan tidak ada langkah-langkah strategis dan nyata untuk mengubah itu semua. Jangan bilang slogan Visit Indonesia yang Cuma jadi sekedar slogan. Buka website-nya, dan kita bisa temukan tidak ada informasi berarti sama sekali dari situ. Kementrian kayaknya tidak tahu apa kekuatan dan kelemahan industri kita ini. bahkan, jangan-jangan mereka juga tidak tahu bahwa ada lagi lokasi pariwisata kelas dunia selain Bali??

Buat saya, yang orang awam ini aja, kekuatan pariwisata Indonesia bukannya pada mall-mall di Jakarta sehingga kita harus latah bikin sale-sale kayak di Singapur. Come on, itu emang kekuatan Singapur karena mereka ga punya tanah yang luas dan pemandangan alam yang kaya. Tapi mereka bisa maju. Belakangan, saya melihat mereka mulai bergerak ke industri musik dengan mengadakan konser-konser kelas dunia. Musisi Singapur memang ketinggalan jauh banget dari Indonesia, tapi mereka tau gimana cara manfaatin kelemahan itu.

Kekuatan Indonesia pada dasarnya justru pada nature itu sendiri. Kenapa musti latah dengan sale-nya Singapur dan Truly Asia-nya Malaysia? Kita bisa dan harusnya emang jadi pusat kegiatan adventure di Asia! Coba, apa yang ga ada di Indonesia? Dari langit, kita punya paragliding, bisa terjun payung. Di tanah, kita punya banyak gunung-gunung untuk ditaklukan, dan kebanyakan kalian pasti tidak tahu kita punya lokasi trekking savana di Jawa Timur. Kita tidak kekurangan pantai, pasti sedikit juga di antara kita yang pernah menjelajahi pantai Karimun Jawa dan Senpu yang notabene masih di Jawa! Lokasi snorkeling dan diving kita berlimpah ruah. NG menyebutkan bahwa kita punya 34 spot diving sedangkan Thailand hanya 13. Tapi pendapatan Thailand mencapai 240 juta dolar AS, Indonesia HANYA maksimum 24 juta!! Itu 10 kalinya teman2!

Apa yang menyebabkan pariwisata kita segitu mandeknya melihat banyaknya potensi yang kita punya. Saya pikir ada 2 masalah utama. Sulitnya transportasi dan kurangnya informasi. Gini aja deh. Satu-satunya kesempatan kita untuk masuk 7 wonders of nature setelah Borobudur dicoret adalah Pulau Komodo. Masalahnya, saya yakin sekali bahwa 95% orang Indonesia belum pernah menginjakkan kaki di sana! Lebih parah, asumsi saya 50% di antaranya tidak tahu Pulau Komodo itu dimana. Ironis ga sih? Saya bahkan harus menghabiskan waktu 2 minggu penuh riset untuk memiliki gambaran rute untuk ke Pulau Komodo, sebagian besar dari Lonely Planet dan website tulisan bule-bule. Yang paling ironis adalah, bahwa website PELNI tidak memiliki jadwal untuk armada-armadanya, namun saya memperoleh data lengkap perjalanan PELNI selama tahun 2009 ini dari website Lonely Planet hasil riset seorang Swedia selama berbulan-bulan. Gila ga sih? Mahalnya transportasi juga jadi masalah besar. Raja Ampat adalah situs diving dan snorkeling yang terkenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Untuk ke sana, tiket pesawat ke Papua bisa menghabiskan 7-8 juta PP. tambahkan 1-2 juta lagi, dan anda sudah bisa mendarat di Madrid!! Ayolah, bukankah ini menggelikan?

Saya ga pengen meracau tanpa solusi. Yah, walaupun kemungknan kecil akan ada yang baca dan melaksanakannya. Kalau saya jadi menteri Pariwisata, selain program visit Indonesia yang terkesan basa-basi itu lebih dioptimalkan dengan slogan yang lebih spesifik (misal: Adventure Indonesia, atau apalah), kayaknya program per tahun juga bisa mendukung itu. Maksud saya, bikinlah tiap tahun tema kunjungan yang berbeda. Contoh: Snorkeling Komodo Island 2010. Nah, selama setahun penuh dirancanglah segala hal yang dapat meningkatkan minat orang ke sana. Dengan promosi, dengan bekerjasama dengan perusahaan2 transportasi untuk berkomitmen menekan biaya, dengan agen2 travel yang menawarkan paket2 murah, pokoknya memudahkan kita ke sana deh. Nanti dilanjutkan dengan Sailing Musi 2011 misalnya, terus Trekking Borneo 2012, atau apalah.

Haha. Pada akhirnya saya tidak tahu tujuan menuliskan ini apa. Mungkin Cuma sekedar membuang unek-unek biar ga kesel sendiri.Setuju dengan adek dan pacar saya yang bilang bahwa mentri di Indonesia ga dipilih berdasarkan kompetensi dan passion, tapi lebih kepada kepentingan politis dan koalisi. Sampah. Lain kali, pilihnya orang yang mencintai pariwisata untuk menteri pariwisata, orang yang mencintai sepakbola untuk PSSI, orang yang mencintai pendidikan untuk mentri pendidikan. Orang yang mencintai uang untuk mentri keuangan?? Hahaha.

Tabik!

Gambar 1 Pulai Sikuai – Sumatra

Gambar 2 Baluran Savanna – Jawa Timur

Gambar 3 (bukan di Afrika) Way Kambas – Lampung

 

Abril 25, 2009

Itinerary Rencana Travel Bali-Lombok-Komodo 12 hari

Archivado en: travel — Etiquetas:, , , — Bintang Pramodana @ 12:50 pm

Ini adalahr rencana perjalanan saya dan teman2 Agustus nanti.

Tujuan perjalanan kali ini adalah sebuah pulau di NTT yang justru terkenal di kalangan bule tapi ga laku utk orang lokal. Pulau Komodo adalah salah satu calon 7 keajaiban dunia tapi gue pikir 90% orang Indonesia belom ke sana. jadi, perjalanan ambisius antar pulau (bukan lagi antar Jawa!! lihat jaraknya di peta!) ini jelas sesuatu yg harus direncanakan dgn matang. prinsip gue, dengan perencanaan matang, every place is reachable at a very reasonable price, hahaha. fisik dan mental khususnya harus oke. yang rewel2, tinggal aja di Jakarta, haha.

fyi, semua orang boleh mencalonkan diri utk ikut kalo emang serius. dan itinerary ini silahkan saja ditiru kalo ga sempet jalan bareng (kalo jadi insya Allah). gue akan coba menjabarkan lagi agar lebih jelas rute perjalanan ini.

Hari 1 (menuju Bali)
pesawat adalah jalan paling nyaman menuju Bali karena hanya 1 jam saja dari Jakarta, namun, harga tiket pesawat rata2 adalah 600an ribu. jadi pilihan dengan bus eksekutif Jakarta-Denpasar pun jadi alternatif karena semua armada bis mengerahkan armada terbaiknya utk rute ini. lama perjalanan sekitar 24-27 jam. dengan kereta juga bisa dengan rute Jakarta-SUrabaya-Gilimanuk-Denpasar, cuma dengan kereta eksekutif, biaya membengkak jadi 500an ribu. kereta bisnis dan ekonomi jelas lebih murah, tapi apa mau ambil resiko capek diawal perjalanan??
dengan bis, sebenarnya sempet kepikiran juga utk ke Mataram langsung biar menghemat dikit uang dan waktu. cuma bis ke mataram kualitasnya jauh dengan yang ke Bali. lagian, kuat 36 jam di bis??
sedapetnya riset gue, harga rata2 ke Denpasar adalah 350-380ribu. dan kalo ga salah udah termasuk makan. cuma ini masih harus dikonfirmasikan. salah satu armada bis yang bisa digunakan adl Lorena yang brangkat dari rawamangun!
Naik bis+makan     350.000

Hari 2 (enjoying Kuta)
sampe Denpasar besoknya, kita masih bisa menikmati Kuta dan sunsetnya. segera cari kamar di sekitar Poppies Lane. harga sekitar 60-100 ribuan bisa buat 2-3 orang. yang penting bersih. you cant expect more. makan di Kuta bisa kok sampe cuma 10ribuan, karena waktu itu gue ama Bayu makan cuma 5000. hahaha. dari Denpasar bisa naik Bemo sampe pangkalan bemo di Kuta.
Denpasar-kuta         10.000
Hotel poppies         35.000
Makan             50.000

Hari 3 (pindah ke Senggigi)
Kemaren gue bilang langsung ke Gili Trawangan, cuma kayaknya ga bisa. ke Gili dari kuta menghabiskan 300ribu sendiri. cuma, elo harus ke Gili, karena disini keren bgt. jadi kita naik Perama yang akan mengantarkan kita ke Senggigi dengan 150ribu. sebenernya, bisa lebih murah dengan sendiri melalui jalur: Kuta – naik bis ke Padang Bai – naik kapal ke Lembar – carter mobil di Lembar.
masalahnya, kita ga tau ni kapal ontime nggak. perjalanan lautnya sendiri menghabiskan 5 jam. karena itu Perama berangkat jam 6 pagi!! pelabuhan Lembar dikenal tidak nyaman utk turis karena lo ga punya pilihan selain naik mobil carteran yang kadang harganya nembak dan pake berantem dulu. kalo sampenya sore….beh, bisa ribet bgt nanti. makanya Perama, walaupun lebih mahal, tapi lebih aman. harganya ditotal ga jauh kok.
Perama ke senggigi     150.000
Hotel di senggigi     35.000
Makan             50.000

Pantai Senggigi

Hari 4 (jalan2 ke Gili Trawangan)
caranya adalah dengan naik angkot ke pelabuhan Bangsal. ga jauh kok. dari sana tinggal naik perahu yang ke Gili Trawangan. biasanya sama orang lokal yg abis belanja ke Senggigi. kita nginep aja sehari di Gili. kita ngapain? santai di Gili. ada yang mau snorkling? disini keren bgt taman lautnya.
angkot ke bangsal 3.000
kapal ke gili         8.000
Hotel di gili         35.000
Makan             50.000

Gili Nanggu (anjrit, kok kayak lebih bagus dari Gili Trawangan??!!)

 

Gili Trawangan

 

Diving & Snorkling di Gili Trawangan

Hari 4 (balik ke Senggigi, kejar kapal Pelni ke Lembar!!)
nah dimulailah perjalanan kita yang sebenarnya di mana elo dan gue sama2 buta keadaan. hahaha. seperti gue bilang, kapal Pelni ini cuma dateng 2 minggu sekali. kita ga boleh telat. kapal Pelni ini kapal ekonomi, jadi kemungkinan besar kita ga bakal mandi deh. sampe kapal cepet2 ngetek kamar (bayar lagi) kalo ga mau tidur pake sleeping bag (ini jg kalo punya!). makanan dapet, cuma yah.. gitu. katanya sih ada kantin yang makanannya masih oke. nah yang gue ga dapet cuma angkutan dari senggigi ke lembar ini. perjalanan laut ini membutuhkan waktu sekitar 26-30 jam. jadi sampe Labuanbajo jam 7 malem.
Ke senggigi         11.000
Ke Lembar         ????
Kapal Pelni         200.000
Kamar             35.000 (mungkin)
makan (tentatif)     30.000

KM TILONGKABILA à rumah kita selama 24 jam! hehe

 

Mau tau tidurnya gimana kalo ga dapet kamar?? hehe!!

Hari 5 (Labuan Bajo saat malam)
ga punya pilihan. harus segera cari penginapan..
makan malam         20.000
Kamar             35.000

Labuan Bajo saat malam…

Hari 6 (Labuan Bajo, dan saatnya berangkat ke P. Komodo)
Paginya, segera cari ke pelabuhan kapal nelayan lokal yang mau kita carter buat ke Komodo. hoki2an sih. katanya ada yang nyaranin juga utk ambil 2 malem aja sekalian ke Pulau Rinca. harganya lebih mahal jelas.. kita ambil perhitungan yang1 hari aja dulu.. ke Komodo akan menghabiskan waktu 4 jam dari Labuan Bajo. disana kita trekking utk nyari Komodo. ada yang bilang kalo mens ga boleh ke sana, tapi katanya sih gapapa asal deket2 guide-nya jangan deket2 komodonya. hehe. gue ga tau hari ini bakal sempet snorkling apa nggak. tapi kayaknya sih ngga ya.. jadi kita balik dan nginep lagi sehari di Labuan Bajo (ini diluar perhitungan awal gue kemaren). kayaknya rutenya sekalian ke pantai merah jambu itu.
Carter kapal (8-10 orang) 600.000     (60-70.000/orang)
makan                     50.000
karcis masuk                 45.000
guide                     30.000 (entah tiap orang atau per guide nih. anggap aja per orang)
karcis kamera                 25.000

Suatu tempat di Labuan Bajo

Hari 7 (snorkling day)
Konon mengunjungi pulau Komodo tanpa diving dan snorkling adalah kayak mengunjungi Bali ga ke Kuta, hehe. disebut-sebut mempunyai taman laut salah satu yang terindah di dunia. jadi, bagi yang mau bersnorkling, ayo.. malemnya kita langsung balik ke Mataram dengan bis malam. ga tau pasti lama perjalanannya. tapi mungkin bisa seharian..
sewa alat         50.000
sewa kapal (4 orang)     250.000 (65.000)
makan             50.000
bis malam ke mataram    230.000

Pulau Komodo

 

Kapal yang disewa untuk snorkeling

 

snorkeling Komodo

Hari ke 8 (tiba di Mataram)
dengan bis malam ke Mataram, ada kemungkinan kita juga sampe malam hari di Mataram. keuntungannya pake bis malam adalah kita hemat 1 malem tidur di bis. hehe. tapi hari ini jadi ga bisa ngapa2in dan sebaiknya kita bermalam di Mataram aja…
makan         50.000
kamar         35.000

Hari ke 9 (ke Senggigi)
Kita bermain2 lagi di Senggigi, atau bisa jalan2 ke pantai Kuta Lombok, atau ke Gili lagi. kabarnya Kuta Lombok itu secantik Kuta Bali. tapi bayangkan Bali 100 tahun yang lalu, sebelum orang2 pada ke Bali dan beramai2 ria. itulah Kuta Lombok. jalan2nya ga diitung dulu ya secara belom tau mau kemana. harga dari Mataram ke Senggigi juga masih nembak..
transpor ke senggigi 10.000
makan         50.000
jalan2         ????
kamar         35.000

Kuta Lombok –> Kuta Bali 100 tahun yang lalu

 

Kuta Lombok

Hari ke 10 (kembali ke Kuta)
Senang di Lombok, saatnya meniti jalan pulang. naik Perama untuk pulang kembali ke Kuta. sebenarnya kita lagi2 bisa ngeteng. cuma belum cukup riset untuk yang ini. nanti di update lagi.. tapi gila.. harganya mahal betil. perahu perama utk ke Bali ini adalah private boat yang sangat nyaman. 2 tahun yang lalu harganya 200 ribu. sekarang? 350 ribu!!!! nanti dibandingin sama kalo ngeteng.
Perama         350.000
makan 2 x     30.000
kamar         35.000

Hari ke 11 (balik ke Jakarta)
dengan bis juga, kita akan balik lagi ke Jakarta…
bis         350.000

Bis Lorena Jakarta-Denpasar

Total 2.662.000

NB:
1. harga yg sebenarnya bisa aja jadi lebih mahal karena banyak hal2 yang ga bisa dan belom dihitung. seperti: beli cemilan di Alfamart, Circle K; laundry kiloan (haha, secara biasanya gue cuma bawa 3 kaos, 1 jeans, sama 1 celana pdk).
2. kalo Laras ikut akan sangat membantu dalam hal akuntansi, hehe.
3. kalo Ana dan Bohay ikut akan sangat membantu dalam hal dokumentasi.
4. yang punya kamera pocket harap beli casing anti air-nya, haha. yang paling murah cuma 200ribu kok. kan sayang, snorkling tapi ga ada fotonya..

Abril 14, 2009

To The Island Where Dragon Rules

Archivado en: travel — Bintang Pramodana @ 11:38 am

Cerita travel lagi, atau lebih tepatnya mimpi travelling lagi, secara gue punya banyak bgt rencana jalan2 yang entah kapan terealisasikan. Mungkin gue Cuma suka bikin itinerary-nya aja. Bikin itinerary buat gue kayak bikin diagnosis kerja dan diagnosis banding pasien, milih2 obat apa yg cocok utk stiap keadaan khusus. Atau kayak nyusun puzzle yang menegangkan. Yang paling asik adalah ketika elo mengetahui bahwa setiap tempat itu reachable kalo lo punya rencana yang matang. Money and time will always be some factors, of course.

Balik lagi bahwa ceritanya gue akan lulus dan punya waktu panjang untuk sekedar merayakan kebebasan seorang anak manusia dari sebuah pembentukan karakter selama 6 tahun. Sebelumnya gue merencanakan untuk pergi selama sebulan backpacking Asia Tenggara. Segala hal udah mulai direncanakan, sebelum akhirnya gue berpikir lebih baik rencana ambisius itu ditunda saja. It takes a lot of money. Gue baru akan pergi kalo udah punya duit sendiri mungkin.

Akhirnya belakangan gue tiba2 terpikir untuk mengunjungi kawan lama, pantai Senggigi di Lombok dan Pulau2 Gili. Rencana ini pengennya dilanjutkan dengan mengunjungi rumah makhluk mistis dari purbakala itu, ya, the only one Komodo.

Bali-Lombok mungkin gue dan Bayu udah tau lah celah2nya. Nginep di Poppies, makan di warung muslim murahan, trus ke lombok naik kapal ferry di Padang Bai, penginapan murah di sekitar Senggigi, atau mau nginep di Gili. Tapi yang menjadi tantangan dalam beberapa waktu belakagan ini adalah mencari jalan ke Pulau Komodo. Ini sulit, karena kebanyakan sekalian menawarkan tur yang harganya jelas diatas budget kita sebagai backpackers. Haha. Akhirnya pencarian gue diselamatkan oleh, ya penyelamat yang itu2 lagi (hehe), Perama Tour. Mereka menyediakan bis dari Senggigi ke Labuan Bajo!! Agak gila sih emang. Ga tau akan berapa lama. I’m about to send them an email.

Kalopun nanti ternyata mustahil ke Komodo karena berbagai sebab, paln B adalah melakukan trekking gunung Rinjani. Haha. I’m not so much into a hiker, but just for fun and for a surge of adrenaline, its worth trying. Haha. Info yang saya baca, kita tidak perlu mempersiapkan banyak hal, karena semua bisa disewa dan bisa menyewa porter juga. Asik kan? Kalo ga pake tur, kita bisa sepuasnya disini.. hehe.

Tapi sebelumnya… selesaikan dulu pendidikan karaktermu!!

Enero 15, 2009

Another Great Escape: Laporan Perjalanan Pangandaran – Batu Karas – Green Canyon

Archivado en: travel — Bintang Pramodana @ 8:35 pm

Kijang Krista silver itu perlahan dipenuhi barang2 –tas2 berisi pakaian, makanan kecil yang melimpah, jaket, dan kamera- semua persiapan sudah beres untuk sebuah road trip jangka pendek dengan rute yang ga bisa dibilang pendek. Pangandaran berjarak lebih dari 300 km, dan artinya, perkiraan lama perjalanan adalah 6-7 jam. Belum lagi kami harus mampir ke Jati Nangor untuk menjemput Bohay. Jumat siang jam 2 kami berangkat.

Uang kas pertama dikumpulkan: Rp. 100.000 per orang untuk biaya bensin dan tol. Laras lagi2 bertugas mengurus pengeluaran. Haha, sehebat2nya gue mengatur rencananya perjalanan dan budget, tidak ada yang dapat merealisasikannya menjadi neraca keuangan yang bisa dimengerti selain Laras. Perjalanan keliling Jawa yang 10 hari dan menghabiskan uang lebih besar saja bisa tertata rapi, hal kali ini mungkin bagai berjalan kaki ke depan rumah bagi Laras. Haha.
Bayu menyetir dengan santai menuju Jati Nangor, menjemput Bohay di dekat Unpad, dan berjalan menuju Tasik. Kita baru berjenti untuk makan di sekitar Tasik, tempat makan transit gitu, dengan makanan dingin yang tidak menggugah selera. Tapi, daripada menanggung risiko sakit maag yang mengganggu liburan, jadilah kita berhenti. Makan malam Rp. 8000-15000 per orang.

Pangandaran dicapai mendekati tengah malam. Kita memutuskan singgah di Pangandaran dan tidak langsung ke Batu Karas karena waktu yang sudah malam. Gila! 9 jam dijalan membuat pantat kita semua seperti terkena tumor tulang belakang yang membuat hipestesi pantat! Masuk pangandaran Rp. 26.000. hati2, jangan mau kalau ditawari penginapan oleh orang2 di sana, karena jatuhnya akan lebih mahal! Itu karena mereka akan dapet tip dari yang punya penginapan! Kita metal aja bilang udah booking, hehe. Mampir ke penginapan milik temannya teman kita, bernama Topan. Gile, dari luar sih ancur bener ya ini tempat, hehe. Ternyata kamarnya ga begitu buruk. 1 kamar mempunyai 3 tempat tidur dengan kombinasi acak (ada yang pake double bed ada yang semua single bed). Sekamar boleh brapa orang Pak?

“terserah aja, haha”, jawaban yang menarik.

Jadilah kita menyewa 2 kamar yang tersisa. 1 kamar dihuni gue, Tata, Laras, dan Ana; sedang kamar lain dihidupi Abol, Mike, Bayu, dan Bohay. Penginapan Topan Rp. 75.000/kamar.

Paginya, seperti biasa, gue bangun paling pagi, bangunin solat yang mau solat, dan ngajak jalan2 ke pantai pagi2. Buat apa liburan singkat kalo Cuma tidur doang? Hehe. Setelah setengah mati ngebangunin Mike yang tidur kayak kerbau pake headset, kita pergi ke pantai dan dengan segera menyetujui bujukan tukang kapal untuk ke pantai yang lebih putih pasirnya. Pangandaran adalah pantai berpasir hitam dengan bibi pantai yang luars dan ombak yang tidak besar untuk ukuran pantai selatan. Dan ini membuatnya menjadi tujuan wisata pantai utama warga Jawa! Sayangnya hal ini tidak menimbulkan kesadaran para warga dan pelancong untuk menjaga kebersihan. Sampah terlihat di sana sini. Pemerintah pun tidak memberikan perhatian khusus, sehingga potensi Pangandaran dibiarkan meredup. Di pantai yang kita tuju, pasirnya memang lebih putih, namun “kotor”, merujuk pada banyaknya bebatuan, kerang2, sehingga kurang asik untuk melempar tikar dan berjemur. Kesempatan snorkeling tidak mungkin gue lewatkan. Walaupun pemandangan bawah lautnya tidak spesial, beberapa ikan berwarna warni, dan tumpukan rumput laut yang berdansa serasi indah, cukup menghibur gue. Menyewa kapal Rp. 85.000 per kapal, snorkeling set Rp.15.000 per set sepuasnya. Haha.
Melanjutkan perjalanan ke Batu Karas menghabiskan waktu 1 jam dari Pangandaran. Berhenti hanya untuk makan bakso dan mie ayam karena kelaparan. Makan Rp. 6000-12.000. Di tengah perjalanan kami dihadapkan pada kenyataan pahit, Green Canyon berada dalam kondisi yang buruk = coklat dan airnya tinggi. Masuk Batu Karas Rp. 13.000.

Berlayar...

Berlayar...

Penginapan di Batu Karas tidak begitu banyak dan Teratai Hotel termasyur di kalangan pelaku budget trip. Bayangkan, satu rumah dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi hanya dihargai Rp. 75.000! Teratai hanya mempunyai sekitar 10 rumah yang terdapat dalam 1 kompleks kecil. Dengan harga seperti itu, tidak heran kami kehabisan tempat. Pindah ke Bonsai Hotel yang bertarif Rp. 400.000 per kamar dengan 6 kasur, bisa tambah ekstra bed, dan kamar mandi luar. Kemahalan buat kami untuk fasilitas seperti itu. JavaCove akhirnya memikat hati kami. Kamar kecil dan manis, dengan 2kasur single bed, kamar mandi, dihargai Rp. 120.000. bisa untuk 4 orang katanya. Mahal memang. Tapi lihat, duduk diteras saja, pemandangan pantai sudah terlihat. Kita bisa duduk2 di Sundaze yang PW berat! Ditemani sebotol Mix Max, segelas teh, atau secangkir kopi, sudah cukup membuat kita merasa uang segitu ga ada artinya. Kita menyewa 3 kamar yang tersisa (hati2, mereka hanya punya 5 kamar!!). 5 kamar di JavaCove Rp. 396.000 (tambah Ppn, hehe).

JavaCove. Kamar kami yang dibelakangnya!!

JavaCove. Kamar kami yang dibelakangnya!!

Brown Canyon

Brown Canyon

Akhirnya kita bisa tenang ke Green Canyon. Walaupun mengecewakan, tapi, kata2 “udah disini lah”, akhirnya membuat kita tetap naik kapal. Ternyata pemandangannya tetap bagus karena melewati lereng2 dan goa purba dengan tetesan air alami. Sampai di ujung. Terlihat air yang berjalan deras, membuat kapal2 tidak bisa lagi berjalan terus. Pada keadaan normal, kapal bisa lanjut ke depan dan kita berjalan kaki ke “danau” alami di tengah yang katanya indah bgt. Tapi ternyata kami beruntung. Berkat kegilaan sopir sampan salah satu perahu yang kami naiki, akhirnya kedua sampan kami dengan gila menerjang ombak dan menyebabkan kami bisa berdiri di batu dan dikelilingi air yang mengalir deras! Ternyata tidak sampai disitu, si abang sampan menawarkan untuk berenang (ya! Di air coklat lumpur itu!) dengan berbody rafting sejauh 500 meteran. Abol ragu2. Tapi pria2 lainnya tidak berpikir 2 kali. IF WE CAN THROUGH THE OSCE, WHAT CRAZIER THING WE CANT DO?? Abol ga mau rugi. Dia ikut juga. Memakai safety jacket kita melompat! Mengikuti arus! Berteriak girang! Diliatin orang2! Ga terhitung banyaknya orang dengan pandangan aneh seperti “ngapain sih orang2 itu?”, “jorok banget sih, goblok”, sampai pandangan iri “ih, gue mau dong!”. Kita mencintai perasaan ini, adrenalin rush ini. Yang pada akhirnya membuat kita memohon si abang sampan untuk kembali membiarkan kita melompat. TOO HELL WITH GREEN CANYON, BABY!! THIS BROWN WATER WILL DO THE TRICK TOO! WOOHOO!!

Memasuki lembah...

Memasuki lembah...

Arus yang deras... kapal pun merapat..

Arus yang deras... kapal pun merapat..

Kami menghabiskan waktu sore bersantai di Batu Karas dengan ombak tenang yang ah….nikmatnya. pasir hitam yang bersih. Langit mendung tidak bisa menghentikan keceriaan orang2 di sana. Bermain di Batu Karas tidak butuh banyak biaya. Kita bisa berjalan jauh ke tengah dan tinggi air hanya sedagu kita. Bersantai tidur di atas ban karet juga menyenangkan. Ada penyewaan surfing, ada permainan banana boat juga.

Morning at Batu Karas

Morning at Batu Karas

Kita makan malam seafood di dekat hotel. Makan gila2an Cuma habis Rp. 169.000 ber 8. Enak…
Paginya, kita masih sempat bermain2 sebentar sebelum pada jam 11 siang, kita beranjak menuju Bandung lagi. Perjalanan yang panjang untuk menutup liburan kali ini. Di bandung kita makan di Boemi Joglo, memesan banyak tempe mendoan, sate sapi yang enak, dan Nasi Liwet yang ga mirip nasi liwet.

Morning at Batu Karas 2

Morning at Batu Karas 2

Setelah di total. Perjalanan kali ini membuat kami mengeluarkan uang kas 250.000 per orang ++. ++ dihitung untuk makan2an kecil lain, pengeluaran2 yang bukan milik bersama. Yah, kira2 per orang habis Rp. 350.000. Menyenangkan rasanya kabur di akhir minggu setelah minggu yang penat. Another great escape…

Great Escape Team

Great Escape Team

Agosto 21, 2008

The Java Trip (4 – habis)

Archivado en: travel — Bintang Pramodana @ 10:26 pm

Di Malang kita menginap di penginapan milik mas Agus Supriyanto bernama Helios yang gue dapatkan di internet. Harga kamarnya lumayan murah dan terdiri dari yang paling ekonomis sampe yang superior. Yang gue salut, yang ekonomis awalnya udah penuh di booking ama bule2. Yah itulah yang sering terjadi. Hotel2 mewah padat dengan orang lokal banyak duit, tapi di losmen2 kayak gini malah isinya bule semua. Kata anak2, best deal lah. Kamarnya double bed atau 2 single bed dengan ac dan kamar mandi dalam. Asik dah. Sebenernya ac ga gitu perlu sih karena udah dingin kalo malem. Masalahnya, kadang di salah satu kamar yang sempit itu beberapa orang suka berkumpul main kartu ampe pagi. Hal ini, yang bila tidak dibantu ac, akan mengakibatkan bencana! Haha.

Jalan2 di sana Cuma seputar makan aja. Yang paling berkesan buat gue sih makan belut goreng ke pelosok mana gitu (untung ada Bohay, pangeran dari Malang, hehe). Cuma 6000 udah kenyang, enak bgt lagi! Ini nih ahirnya Abol kepikiran juga untuk ngebuat berbagai macam franchise makanan2 enak di pelosok (ingat gudeg Yu Djum!).

Malam kedua, menjelang pagi, sekitar pukul 1, kami semua bangun. Saling menelpon untuk memastikan yang lain bangun. Bersiap2 dengan berbagai baju dingin, topi rajut, kaos tangan rajut, dan berbagai macam jaket. Begitu pada kumpul, gue ngeliat Abol, dan terkejut: dia Cuma pake jaket 1 lapis dan celana pendek. Anjing!

“Woi pake celana panjang lo!”

“emang sedingin itu?”, tanya Abol.

Gila…

Akhirnnya Abol berganti celana juga. Dan kita berangkat jam setengah 2 lewat. Naik mobil kolt yang bagus. Semua duduk dengan nyaman dan yang belum puas tidur mulai tertidur pulas. Beda dengan jalur Probolinggo yang 2 kali sebelumnya gue lewatin, dimana harus pake Jeep. Tour yang disusun Mas Agus jelas lebih murah daripada pake Jeep. Dan lebih nyaman.

Bromo masih sepi, dan dingin ketika kami datang. Hanya beberapa bule yang sudah setia di menanti di sana. Kami menyibukkan diri dengan foto2. Lalu jam 5an tempat itu mulai penuh dengan bule2 raksasa! Dan ketika sinar mulai menerangi gunung Pananjakan itu, terlihat sudah bahwa satu2nya orang Indonesia di tempat ramai itu adalah kami…. dan para penjual aneka rupa. Huhuhu! Seperti di Swiss jadinya. Dan ketika matahari itu akhirnya datang: HORE!! MERAYAKAN 5 TAHUN PERSAHABATAN DI ATAS MT. PANANJAKAN!!

Dingin2 di Mt. Pananjakan

Dingin2 di Mt. Pananjakan

Suasana menjelang matahari terbit

Suasana menjelang matahari terbit

Selepas dari situ kita naik ke Bromo dengan melintasi lautan pasir. Sekarang trek perjalanan makin jaub karena tidak bolehnya Jeep dan Kolt untuk parkir dekat Pura. Jadi sekitar 1 kiloan dari Pura. Lautan pasir benar2 berpasir! Dan bertai kuda! Dan bila kuda2 bertai itu lewat denga bule2 di atasnya, kita pun terserang badai pasir akut, hehe. Perjalanan menanjak sangat melelahkan. Ana terlihat paling tersiksa dari perjalanan naik ini. Tapi setibanya di atas di atas, kita serasa udah sampe klimaks. Inilah tujuan perjalanan kita. Gunung bromo ini.

Bromo dan Semeru

Bromo dan Semeru

Setelah turun gunung!

Setelah turun gunung!

Perjalanan pulang diwarnai dengan ikut mendorong mobil Kolt yang dinaiki orang Prancis dan Jepang. Mobil mereka ban-nya selip sehingga semua pria mendorong.

Bule Prancis yang berpose bersama para penolongnya, hehe

Bule Prancis yang berpose bersama para penolongnya, hehe

Ah, Bromo! Indah nian di sana.

Sehari lagi di Malang, dan paginya kita mengejar kereta untuk ke Surabaya (benar2 mengejar, karena mepet waktunya, dan kita jalan kaki ke stasiun). Di Surabaya memang seperti anti-klimaks. Segalala kelelahan kita 9 hari di belakang. Ukh! Dan Surabaya amat panas untuk menikmati berjalan kaki. Kami Cuma sempat ke Zargandi, lalu ga jelas di TP, dan akhirnya ke pasar genteng sebelum pulang. Fiuh!

Blog de WordPress.com.