Arsip Kategori: Travel and Living

How To Travel: Solo Travel vs Group Travel

Hari ini saya membaca sebuah artikel tentang “solo travel vs group travel.” Sudah banyak memang artikel yang membahas mengenai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing cara. Berbagai perdebatan pun muncul tentang cara traveling yang terbaik. Perdebatan yang saya rasa sama panjangnya dengan perdebatan antara “backpacking vs non-backpacking” dan atau bahkan tentang definisi backpacking itu sendiri.

Kali ini saya tergerak untuk ikut menulis tentang apa yang saya pikirkan tentang hal itu.

Saya bukan pejalan kelas kakap. Dan portofolio jalan-jalan saya pun tidak semengkilap para senior-senior pejalan yang lain. Saya cuma seseorang yang mengalami adiksi untuk jalan-jalan secara independen. Saya sendiri sudah mengalami baik solo traveling maupun group traveling. Lalu, mana yang menurut saya lebih baik?

Jawabannya menurut saya tidak hitam putih. Dari membaca berbagai artikel dari para traveler menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka lebih memilih solo traveling. Dengan cara ini mereka lebih bebas menentukan segala sesuatunya. Mereka tidak harus berdebat tentang “kita tidur di dorm itu, atau hotel ini aja?” atau “gue bosen ah ke museum, ke pantai aja yuk.” Mereka tidak diributkan oleh kenyamanan orang lain. They travel to please themselves afterall. Buat apa sudah jauh-jauh jalan-jalan dan ternyata harus mengalami suasana tidak enak dengan teman jalan. Saya yakin semua orang yang pernah melakukan group traveling akan mengerti maksud saya.

Solo traveling membebaskan kita berjalan, with our own pace, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Menikmati apa yang ingin kita nikmati. Buat apa jalan-jalan di mall karena teman jalan minta ditemani ketika yang kita inginkan adalah bersantai di pinggir pantai sambil membaca buku?

Group traveling bukannya tanpa kelebihan. Dengan teman jalan yang tepat (dan ini sangat sudah dicari. Susahnya seperti mencari jodoh) sebuah perjalanan akan menjadi pengalaman yang sangat berharga. It feels bad when you have something to laugh or celebrate for, but there isn’t anyone to share with.

Atau ketika tertimpa musibah dan kesulitan di perjalanan, teman jalan yang tepat akan membuat kita sangat bersyukur mereka ada. Tapi teman jalan yang buruk akan membuat kita ingin meninggalkan mereka sendirian saat mereka tidur!

Sejauh ini, tipe perjalanan yang paling berkesan untuk saya adalah group traveling dengan beberapa teman dekat saya. Benar bahwa kami sering sekali berselisih paham dan membuat suasana tidak nyaman. Tapi itu selalu dapat diatasi.

Ada saat-saat dimana saya sangat menikmati solo traveling. Bisa menikmati waktu dimana saya memang ingin sendiri tanpa diganggu. Tentu ada harga yang harus dibayar untuk setiap hal.

Tapi saya rasa setiap pejalan pada akhirnya harus sering dan beradaptasi dengan solo traveling dan kesendirian itu. Ketika kita makin lapar dengan tempat-tempat dan petualangan baru, sedangkan teman-teman semakin jarang sependapat dan mungkin semakin sulit mengatur waktu. But, with solo traveling, we’ll meet someone new in the road.

Something great will (and always) unexpectedly happen when you travel.

Dengan kaitkata , , ,

[The Untold Story Series] Matahari Pagi Kelimutu

[originally posted for a travel article competition for Kompasiana. This article won “Pemenang Harapan”.
Dari bunyinya, bis tua ini terdengar berusaha sekali menaklukkan jalan antar kota dari Labuan Bajo ke Bajawa. Bau keringat bercampur dengan asap rokok dan kendaraan lain, tertiup angin masuk melalui celah-celah jendela ke hidung saya. Bis ini tidak hanya ditumpangi oleh manusia, seekor anjing pun ikut diangkut oleh seorang bapak tua yang duduk tidak jauh di depan saya. Teriakan anak-anak yang ikut di atap bis ikut menghiasi suasana. Duduk di atap bis tua dengan jalan antar kota Flores yang berbukit-bukit membuat duduk di atas kereta KRL seperti naik kereta di Istana Boneka.

Kami bertujuh memutuskan naik bis yang pertama berhenti di depan penginapan kami di Labuan Bajo setelah sebelumnya berkunjung ke Pulau Komodo. Tubuh kami sudah mulai terasa pegal-pegal. Perjalanan darat dari Bali menuju ke Flores sudah mulai menunjukkan akibat kurang baik bagi kesehatan. Tapi tidak ada yang mengalahkan perasaan itu. Rasa bebas. Bebas memilih, walau mungkin salah. Bebas menentukan dan mengambil risiko.

Kami tidak tahu harus naik apa dari Labuan Bajo menuju Desa Moni, pemberhentian terakhir sebelum Kelimutu. Yang kami tahu, saat ini, kami harus menikmati 7 jam duduk di bis tua ini, bersama seekor anjing, menuju ke Bajawa. Setidaknya ini langkah maju.

Kami tidak lama di Bajawa. Sebuah mobil sewaan berserta supirnya berhasil kami temukan. Cukup murah, mengingat biaya sewanya kami bagi tujuh.

Lagu-lagu disko pak supir menemani (baca: mengganggu) tidur kami malam itu. Jalan masih berkelak-kelok tanpa penerangan selain lampu depan mobil. Saya curiga pak supir sedang mabuk sambil menyetir. Haha.

Tengah malam kami baru sampai di Moni. Langit di Moni saat itu cerah dengan bintang yang berkerlap-kerlip. Tapi waktu istirahat tidaklah banyak. Kami harus naik ke Kelimutu sebelum subuh untuk dapat menyaksikan terbitnya matahari.

Jadilah pukul 3 pagi, dengan jaket tebal, saya dan teman-teman menuju ke Kelimutu. Perjalanan ke kaki bukit kami tempuh dengan tumpangan mobil sewaan kami yang dengan baik hati mau mengantar kami sampai tempat itu. Sayangnya, dia tidak bisa menunggu kami turun. Kami harus turun sendiri katanya. Tapi tidak ada yang terlalu perduli. Fajar sudah hampir menyingsing. Kami tidak sempat berpikir apa-apa dan langsung berlari memanjat bukit yang sudah dilengkapi tangga-tangga.

Tidak banyak orang di tempat itu. Tapi mungkin kami adalah satu-satunya orang Indonesia di sana. Ah, selain bapak penjual kopi yang menjadi sarapan kami sambil melihat matahari yang timbul perlahan. Perjalanan ribuan kilometer dari Jakarta berakhir di sini.

IMG 0913

IMG 0983

Danau Kelimutu sebenarnya adalah kawah gunung. Jumlahnya ada tiga dengan warna yang berbeda-beda dan berganti-ganti setiap waktu. Konon, menurut kepercayaan masyarakat, masing-masing danau adalah tempat berakhirnya arwah dari orang-orang yang telah meninggal. Pagi di Agustus itu, Kelimutu berwarna hijau toska, hijau muda, dan merah kehitaman.

P8187017

Ada mitos yang mengatakan bahwa kita tidak bis melempar batu sampai ke danau. Sebagai anak-anak muda yang dididik ilmu pengetahuan, kami mengambil batu-batu dan melemparnya kencang-kencang ke tengah danau. Percobaan itu… Gagal.

P8187094

Sampailah kami pada masalah berikutnya. Bagaimana cara pulang ke Desa Moni?

Beruntunglah kami akhirnya mengikuti bapak penjual kopi turun gunung ke desa-nya. Di tengah jalan kami beristirahat di beberapa rumah penduduk dan berbincang tentang kopi, kain tenun Flores, dan keluarga mereka. Saya rasa orang-orang Flores adalah yang teramah yang pernah saya temui.

IMG 1015

P8187135

Satu hal lagi. Ketika bertanya berapa jauh jarak dari Kelimutu ke Moni, semua orang yang kami temui dalam perjalanan turun gunung berkata “dekat lagi” atau “sebentar lagi”. Pada kenyataannya, kami berjalan kami selama hampir 5 jam sebelum sampai ke Desa Moni. Ternyata jarak itu relatif.

Di Moni ternyata lebih sering terdapat turis asing daripada turis lokal, sehingga makanan di warung pun banyak yang terkesan kebarat-baratan. Mahal pula! Tak mengapa lah. Hitung-hitung mendukung ekonomi warga lokal juga. Haha. Saya terbiasa tidak terlalu suka menawar harga kepada masyarakat lokal wilayah yang saya kunjungi selama masih masuk akal.

Esok paginya kami naik angkot ke Ende sebelum bertolak ke Jakarta. Supir angkotnya kali ini malah mengaku sedang mabuk. Tetapi jangan-jangan ini yang membuat mereka sangat ramah dan senang bercerita! Ha! Melewati kelok-kelok jalan rusak dan jurang, abang supir bercerita sambil tergelak, kami pun terkadang ikut tergelak sambil menahan mual dan berdoa dengan intensitas tinggi. Haha.

“Nanti coba sopi (minuman alkohol lokal), ya!” abang supir menyahut riang.

IMG 1091

PTT: What to Prepare

P4239336

Timika, 2010

Awal bulan depan, beberapa rekan sesama dokter akan berangkat PTT. Baru minggu ini diumumkan lokasi penempatan masing-masing dokter. Ada yang diterima di lokasi pilihan mereka, ada juga yang tidak, bahkan ada yang tidak lulus juga.

Sebagai seorang dokter yang post-PTT, beberapa kali saya ditanya juga mengenai persiapan-persiapan dan pengalaman-pengamalan selama PTT. Yang sering saya bilang adalah, yang pertama perlu disiapkan adalah niat dan mental.

Niat harus lurus dan jelas. Tidak ikut-ikutan teman, bukan sebagai pelarian karena ga lulus ujian PPDS (apalagi karena diputusin pacar), bukan semata-mata sebagai “kewajiban.” Karena ketika niatnya sudah miring-miring begini, biasanya akan mudah sekali merasa tersiksa di lokasi PTT. Akibatnya, kasian sekali masyarakatnya, ditangani oleh dokter yang tidak benar-benar peduli. Begitu juga dengan mental, menghadapi keadaan yang 180 derajat berbeda. Tidak ada mall, tidak ada kasur yang empuk, tidak ada AC. It will be a potent mood-breaker if you dont prepare well.

Setelah itu, baru deh kita mempersiapkan beberapa hal sebelum kita pergi. Prinsip packing saya tidak jauh beda ketika saya akan traveling.

First, Bring The Most Important Things

Ini termasuk:

  1. Pakaian
    
Bawa pakaian yang kalian suka saja, dan nyaman dipakai. Logikanya, kalo di rumah aja jarang dipakai, apalagi nanti. Bila lokasi yang dituju panas, perbanyak pakaian yang tipis. Sebaliknya, kalau di lokasi dingin, jangan lupa jaket! Pilih juga yang ringan dan cepat kering bila dicuci. Bawa secukupnya saja. Apalagi bila di daerah yang terpencil. Ga akan ada yang bilang “dokter bajunya sama terus, ga punya baju ya?” hehe. Selain baju, termasuk juga di dalamnya sepatu, sendal, dan lain sebagainya.
  2. Alat medis
    
Tidak semua puskesmas mempunyai peralatan yang memadai. Terkadang, stetoskop pun tidak ada. Peralatan standar seperti stetoskop dan tensi, tentu tidak terlalu memberatkan untuk dibawa, kecuali memang sudah yakin bahwa di lokasi PTT ada. Yang lebih jarang ada tetapi sama pentingnya adalah otoskop. Cukup sering ada pasien dengan keluhan nyeri telinga, atau lebih parah, bintang masuk telinga. Saya pernah temukan seekor kecoa di telinga kanan pasien saya. Otoskop akan memudahkan kita memeriksa keluhan tersebut.
  3. Obat-obat pribadi
    Penderita asma wajib membawa obat-obatnya sendiri. Kalau sampai kehabisan dan kebetulan berlokasi di balik gunung, wah, repot sekali harus ke kota besar. 
Masalah kesehatan yang biasa ditakutkan di daerah timur adalah malaria. Sebenarnya, ini risiko pilihan ya. Tapi sebagai profilaksis, saya dulu memakai doksisiklin 1×100 mg selama 2 bulan karena saya baca memang tidak disarankan lebih dari itu. Selebihnya ya pakai kelambu dan obat nyamuk saja. Kalau kena bagaimana? Ah santai saja. Saya kena 3 kali, dan masih hidup, hehe.
  4. Emergency Lamp
    Seperti kita ketahui bahwa di Jabodetabek pun listrik sering mati. Di daerah hal ini berkali-kali lebih sering. Lampu ini akan sangat membantu jika suatu saat listrik mati. Jika kalian takut gelap, ini jadi barang wajib.

    Images 1

    persis seperti ini yang saya bawa. hanya sebesar batu bata.

  5. Dokumen-dokumen
    
Dokumen-dokumen seperti ijazah dan STR kadang diperlukan. Oleh karena itu, bawalah, dan simpan dengan baik.

It Shouldn’t Be Always Work, Work, and Work

A year in a remote area can be boring (and even depressing) sometimes. Jadi kita harus mempersiapkan juga hal-hal yang membuat kita bisa menikmati waktu-waktu luang yang ada.

Buat saya, barang wajib untuk traveling adalah: iPod dan kamera saya. Untuk PTT, ditambah laptop dan hard disk penuh berisi film dan serial. Haha.

Lalu, buku-buku. Tapi sepertinya, dengan kecanggihan teknologi, kita hanya tinggal membawa gadget dengan segala aplikasi dan ebook-nya. Ringkas! Kalau lupa dosis sebuah obat, tinggal buka gadget, cari. Walaupun internet belum tentu ada ya.

Teman-teman kadang ada yang membawa alat snorkeling juga. Tapi menurut saya terlalu memberatkan. Toh hanya dipakai sesekali.

But of course, our gadgets shouldnt be keeping us from interacting with people. Rasa gembira kadang hadir ketika kita memancing bersama masyarakat, ikut acara adat, dsb. Blend with the environment. Forget for sometimes that we know those gadgets.

Spend Your Money While You Can

Sebelum berangkat, belilah barang-barang yang diperlukan. Termasuk gadget untuk hiburan kita. Jangan pelit, tapi juga jangan berlebihan. Suka dengar musik? Beli iPod / music player lain. Belum punya laptop? Beli! Sekalian dengan hard disk eksternal dan isi dengan film-film dan serial kesukaan, atau, game-game terbaru. Ingin tablet terbaru? Ambil! Isi dengan segala macam aplikasi, games, dan ebook-ebook. Sepatu baru? Carrier baru? Tas baru? Beli bila memang perlu.

Kenapa? Karena akan tiba saatnya ketika walaupun kalian punya uangnya, tapi kalian tidak bisa beli apa-apa. Cuma tentu harus bijak juga ya membelanjakan uang kalian.

Tapi jangan lupa bawa uang cash yang cukup. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi nanti kan? Belum tentu ada ATM.

How To Pack

Ini sih sebenernya pelajaran untuk traveling, hehe. Dan tergantung selera juga. Cuma, saya sarankan membawa tas carrier (yang biasa dibawa naik gunung, atau sering juga dipelesetkan jadi “keril”) sekurangnya 45 L dengan kualitas baik, ditemani dengan satu buah koper jinjing untuk masuk kabin.

Masukkan sebagian pakaian, dan barang-barang yang berat ke dalam carrier karena ini yang akan masuk bagasi. Tips lain, taruh barang yang paling berat di atas. Gulung pakaian kalian, dan masukkan ke dalam plastik. Jangan taruh barang berharga di sini. Berat tas ini maksimal 15-20 kg (karena ini batas maksimal bagasi sebelum dikenakan overbaggage) dan HARUS masih bisa dibawa sendiri.

Images 2

gambar dari travelismo.com

Lalu masukkan sisa barang bawaan ke koper. Jangan terlalu berat.

Kenapa saya tidak menyarankan membawa koper super besar atau beberapa koper? Kalau kalian yakin ada yang menjemput dan membantu sampai tujuan, boleh! Tapi coba bayangkan kalian harus membawa-bawa sendiri barang itu, naik angkot misalnya. Atau ternyata jalannya berbatu-batu dan naik turun. Saya saja ngeri membayangkan harus membawa koper 15 kg dalam kondisi seperti itu!

Let’s Get Lost

Setelah semua selesai, saatnya bersantai. Saran lagi, expect nothing! Or better, expect the worse. Karena dengan begitu, otak dan perasaan kita terbebas dari beban ekspektasi kita sendiri. Dan dalam kondisi seperti itu, kita akan lebih bisa bersyukur akan apapun yang kita dapatkan.

Overall, PTT adalah life changing experience bagi mereka yang benar-benar mencoba memahami. Pulang PTT, kalian akan merasa sesuatu yang lain. Apalagi bertemu sesama teman post PTT. Ada sebuah kebanggaan. Dan mengutip kata-kata Anies Baswedan di Indonesia Mengajar, saat itu, kita bisa dengan bangga berkata “I have served my country.”

Dengan kaitkata , , ,

Bucket List: Travel Places

As a traveler, I have my own list about where I dream of going. Some look really far and too expensive for me at the moment. But dreams are something that keep us going. And am not afraid to dream real big.

So, let start my travel bucket list:

1. Patagonia


Ecia Nibepo  10

shellseekers.co.uk

It must be this place. Even before I started my first backpacking trip a few years back, I have dreamt of this mountain.

I’m not a mountain person to be honest, not at all. Both my only trip to mountains were Mt. Gde and Mt. Semeru, which I considered a near death experience. Well, I might exaggerate that a bit.

But Patagonia, shared by Chile and Argentina, has become my ultimate travel goal. I make it personal. One day, I’ll be riding horses around this mountain. And after that, maybe I’ll never travel again.

2. Machu Pichu


Inca trail 1

Peru Machu Picchu Sunrise 2

Machupicchuviajesperu.com
es.wikipedia.org

Machu Pichu is a close second for my ultimate travel experience. Imagine trekking for 3 days to see the sun rises from the back of Machu Pichu. The place is located in another South American country, Peru. The reason why I want to get here? Machu Pichu can speaks for itself.

3. The Amazon


Amazon Rainforests Amazonia South America
theamazonjungletpbp.blogspot.com

Another Suramericano? If I can blame something/one for making me want to ride along the amazon river, cross the jungle, and disconnected for some time from humanity and technology, it must be the National Geographic channels. And, to some extent, Gio, one character of Dewi Lestari’s Supernova.

4. Liverpool

Anfield stadium inside
This my pilgrimage as a Liverpool fan. As a kid, all you want is go watching your favorite club play in one of the most respectable stadium in the world. Singing “You’ll Never Walk Alone” and watch the players trashing every opponents.

And of course The Beatles. So, it kinda a double pilgrimage for me.

5. Europe on Shoestring

Taormina

Sicily

italianvisits.com

Well, yeah, who doesnt want to travel to Europe? Particularly Spain. I even learned the language, well, eventhough that mostly because the South American use it too, haha. I wanna go to Basque. Maybe visiting Stefano in Milan, and then travel around to Sicily and Perugia.

And not to forget. Another football pilgrimage for me is visiting every stadium where Liverpool won the European Cup. They are Paris, Rome, London, Istanbul, and Dortmund (this one is UEFA Cup 2001).

6. Eastern Europe

Polska

Poland

aaronsinternationaltravel.com

I read The Historian and then become enchanted by the story of Vlad Tepez and Dracula. The myth was told to live around here. Bulgaria, Hungary, Croatia. It must be fun to discover Europe beside those famous European cities like Paris, Vienna, Milan, or London.

But to be honest. I think it will give me the chill to really come here.

7. Great Barrier Reef


Great Barrier Reef coral outside

http://toursholic.com/2011/great-barrier-reef-the-worlds-largest-of-coral-reefs/great-barrier-reef-coral-outside

I love to dive and see the underwater world. I couldn’t tell how amazing it was to see a jungle of reefs and coral in Raja Ampat. We were so small, yet, this egocentric species can destroy a million years of lives down there.

8. Myanmar

Inle sunset

Inle Lake

silverbirdstravel.blogspot.com

I might be late about this one. With the new political era has just begun, it may affect the culture and the people. Just like Indonesia after the 1998. We are never the same.

Every travelers that I met in my travel always encouraged me to go there, and as soon as possible. Yes, the road are sucks. Yes, food are tasteless. But I want to be there, talking to the oppressed people who eager to know whats the world out there. They don’t have any good internet connection. I bet they don’t have any smartphone there. And hell yes I wanna be there.

9. The Middle East

DSC 1278

Kyrgiztan

fauna-flora.org

I have this weird dream about going to the middle east. Not just Mecca and Medina who would be the real pilgrimage for me as a moslem, but also to countries like Afghanistan, Turkmenistan, Kirgystan, Iran, or Iraq.

I hope the political turmoil around the Middle East will resolve soon. Safety is never granted there nowadays.

10. Others??

I have no idea. Haha. I fancy Morocco too. Or maybe America. New Zealand? Ah, I want a lot of things, really. So, i guess i’ll have to work (and pray) real hard.

Dengan kaitkata , , , , , , ,

Kuala Lumpur: A Backpacker’s Headquarter

Selepas makan siang, saya baru akan mulai berjalan-jalan ringan saja di sekitar KL. Dengan waktu yang tersisa hanya 2 hari, saya tidak akan memaksakan diri berkeliling melihat semua yang ada di dalam guide book saya. Apalagi besok saya juga akan berkunjung ke Melaka. Jadi bisa jadi hanya hari inilah saya melihat-lihat KL.

KL Is A Backpacker’s Headquarter

Satu hal yang paling membuat saya terkagum-kagum miris adalah bagaimana transportasi yang sudah sedemikian rapi di sini. Dari kereta modern, ke kereta dengan stasiun kuno, sampai ke bis pun sudah sedemikian terintegrasi. Turun dari sebuah moda transportasi, kita tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan moda transportasi berikutnya. Stasiun kereta KL Sentral saja sistemnya sudah semodern bandara. Dan orang-orang semua mengantri dengan tertib.

VI011070

LRT Station in Kuala Lumpur

Hal lain lagi adalah tidak banyaknya pengendara motor seperti di Indonesia. Mobil pun masih bisa dibilang normal saja. Rasanya kendaraan pribadi bukan kebutuhan pokok di Malaysia. Buat apa bayar mahal cicilan mobil, biaya perawatan mobil, dan bensin (ingat, bensin premium di Indonesia adalah yang termurah! Di Malaysia yang paling murah sekitar 9000an, Kamboja dan Vietnam pun sama. Dan masyarakat kita masih mengamuk karena premium mau naik jadi sekitar 6000) kalau kita bisa beli kartu langganan naik kendaraan umum yang nyaman tanpa perlu repot? Di Indonesia, kita “dipaksa” untuk membeli kendaraan sendiri kalau tidak mau repot naik kendaraan umum yang sangat tidak terintegrasi dan tidak nyaman dan aman itu. Jadi agak geram bahwa para pejabat itu sampai jauh-jauh studi banding (busway itu dari adaptasi Kolombia kalau tidak salah) bila negara tetangga macam Singapura, Malaysia, dan Thailand saja jauh lebih baik daripada kita.

Tidak heran bila KL sering disebut sebagai markas besar para backpacker yang ingin menjelajahi Asia Tenggara. Para backpacker dari negara-negara Eropa sampai Amerika sebagaian besar akan mendarat terlebih dahulu di KL, untuk kemudian memulai perjalanan mereka dari sini. Dari Malaysia semua jelas. Mau ke Singapura, Thailand, Vietnam, Indonesia, sampai Myanmar pun bisa! Tinggal pilih mau naik apa. Pesawat murah? Bis? Kereta?

Turis-turis Asia Tenggara yang ingin naik pesawat murah ke Eropa dan negara Asia Pasifik pun transit lebih dulu di KL. Tidak heran di KL kita bisa menemukan bule-bule di hampir semua tempat, lalu melihat orang Jepang sekamar dengan kita di dorm, dan orang Cina sedang berjalan-jalan di kota. Bayangkan devisa negara yang masuk dari industri pariwisata saja.

IMG 0332

Kesturi Walk. Gedung berwarna biru di sebelah kiri adalah Central Market, pusat oleh-oleh

Tapi tiap negara ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Satu hal yang saya lihat di Malaysia agak berbeda dengan Indonesia adalah bahwa tiga suku yang ada di sana India, Melayu, dan Cina, sepertinya memegang tradisinya sedikit terlalu teguh. Orang Melayu akan berbahasa melayu, sedangkan yang India dan Cina, berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri. Hampir di semua tempat seperti ini. Bedakan dengan di Indonesia yang dari Sumatera sampai Papua, paling tidak sebagian besar masyarakat paham dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dengan baik. Kabarnya sekolah mereka pun tidak sama. Masing-masing punya sekolah untuk suku mereka sendiri.

Okelah, kembali ke lokasi-lokasi yang saya kunjungi di KL.

Dimulai dari Mesjid Jamek yang berdiri sejak 1909 dan dikatakan mempunyai tipe arsitektur moorish. Dari situ, diselingi dengan makan roti canay telur dan kopi susu lembu, kami (saya dan Dewi, kali ini) berjalan dalam gerimis menuju ke Merdeka Square dan melihat arsitektur moorish lainnya di gedung Sultan Abdul Samad.

IMG 0349

Mesjid Jamek

VI011040

Sultan Abdul Samad Building

Sorenya barulah saya dan Dewi ke tempat yang belakangan menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Malaysia: The Petronas Tower.

IMG 0365

Petronas Tower

Saya baru tahu ternyata Petronas Tower ini di dalamnya juga terdapat mall dan beberapa ruangan besar lain yang salah satunya dipakai oleh Malaysia Philamornic Orchestra. Yah, jujur saja, saya tidak pernah terkagum-kagum bila masuk mall besar dan modern. Malah, saya bisa berjalan berjam-jam dibawah terik matahari, tapi begitu masuk mall, rasanya saya lemas dan malas berjalan. Hahaha.

IMG 0360

Di Dalam Petronas

Kami menunggu, sambil makan, sampai malam ketika lampu Petronas Tower ini dinyalakan. Sepertinya banyak juga yang menunggu momen ini. Dapat dilihat dari banyaknya orang di taman depan gedung ini yang siap berfoto dan berpose dengan berbagai gaya.

Hari itu selesai di situ. Besok kami masih harus bangun pagi untuk berjalan-jalan di Melaka. Walaupun tentu saja, saya masih terjaga di bar reggae sekitar hostel saya untuk menonton bola. Well, sayangnya Liverpool harus kalah 2-1 dari Arsenal malam itu.

Melaka

IMG 0379

Stasiun Kereta

IMG00309 20120304 0949

Terminal Bus di BTS

Esoknya dari stasiun kereta KL, saya naik kereta ke BTS, lokasi terminal bis yang menurut saya hampir sama modern-nya seperti terminal 3 Soekarno Hatta. Dari situ, diperlukan 2 jam lagi untuk sampai di Melaka. Kota tua yang disebut-sebut kental dengan arsitektur Cina dan Portugis.

IMG 0410

Christ Church - Melaka

IMG 0416

Hiasan Naga Raksasa

Objek turisme Melaka sendiri ternyata kecil saja dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki seharian. Wilayah kota lainnya sudah sama seperti kota-kota sekarang.

Menurut sayapun wilayah turismenya memang sudah terlalu ramai dan tidak lagi original. Beberapa jam saya rasa cukup untuk melihat-lihat A Famosa, Stadhuys, Christ Church, serta berjalan-jalan sedikit di sekitar sana.

The Unfortunate Event

Senin itu saya harus kembali ke Jakarta. Sayangnya, justru hal paling tidak menyenangkan selama perjalanan saya terjadi di hari terakhir ini.

Ceritanya, sejak pagi saya sudah mobile check in untuk penerbangan saya jam 13:40. Karena tidak membawa bagasi saya tenang-tenang saja. Saya sampai di LCCT pukul 12 lebih dan menyempatkan diri makan siang dulu.

Jam sudah menunjukkan jam 1 kurang ketika saya ke mesin pencetak boarding pass Air Asia. Setelah mesin menscan barcode di handphone saya, dia pun mencetak boarding pass, yang saya bawa dengan tenang ke petugas. Masalah dimulai di sini. Ternyata boarding pass yang tercetak bukan atas nama saya, dan dengan tujuan Langkawi bukan Jakarta.

Saya mulai panik. Sudah pukul 13:10, atau waktu boarding jika pesawat tepat waktu. Saya disuruh petugas ke counter check in AA, yang ternyata sudah tutup dan harus berlari lagi ke counter AA yang lebih besar. Petugas India di counter itu memarah-marahi saya bahwa ini semua kesalahan saya yang datang terlalu mepet dan tidak mencek ulang boarding pass yang dicetak. Dia meminta saya membeli tiket baru saja karena pesawat sudah boarding katanya. Brengsek! Saya berkeras untuk minta boarding pass saya di print. Akhirnya setelah berdebat dia mencetak ulang boarding pass saya.

Saya berlari lagi dari ujung ke ujung. Sialnya, saya sampai terjatuh cukup keras. Lutut kiri saya kadang masih nyeri hingga hari ini. Lolos pemeriksaan, saya masih harus antri di imigrasi. Keringat membasahi wajah dan baju saya. Nafas saya tersengal-sengal. Antrian itu tidak terlalu panjang. Hanya 3 orang. Tapi waktu sudah menunjukkan 13:30. Saya tidak punya waktu lebih lama.

Saat itulah, sepasang bule paruh baya memanggil saya, dan meminta saya langsung antre di depan mereka! Mereka sudah berada di barisan paling depan, jadi saya bisa langsung ke petugas imigrasi. Have I said that people are genuinely kind, if you travel enough to find them?

Ketika sampai di ruang tunggu, ternyata pesawat saya belum boarding. Alhamdulillah. Tidak sampai 5 menit kemudian, panggilan untuk boarding terdengar di ruang tunggu.

Saya jadi pulang ke Jakarta.

IMG 0439

Hasta mañana, KL!

PS:
Yes, yes, I know that my photos ini this post are a bit “different”. Actually it was my first try to use my iPhone as a photography tool. And I used fish eye lense for my iPhone too. Seperti dengan pacar baru, sepertinya masih perlu banyak penyesuaian ekspektasi dan saling memahami. Hahaha.

This slideshow requires JavaScript.

Dengan kaitkata , , , , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.