polaroid hitam putih

Noviembre 1, 2009

Why Liverpool Why?

Archivado en: sportivo — Bintang Pramodana @ 8:52 am

Yesterday night my heart was numb. One lost againts that London club, Fulham, made it 5 lost in 11 games. How bad could that be in the end of the season? What is actually happening in Liverpool this season after an brilliant run the previous season. And this is the worst run i’ve ever seen since i supported this club more than a decade ago.

I’m gonna break few things that are maybe the reason why Liverpool has been soooo unstable and unconsistant this season.

  1. I dont understand what Rafa priority is. The played in League Cup againts Arsenal with the second string players, they played againts Fulham with not even Agger , Skrtel, Riera, or Ngog was on the bench! Instead, there were Ayala (19 years old defender), Eccleston (19 years old winger, hadn’t been played in the PL before), Plessis (22 years old central midfield, few chances in the first team, not even offer something more than Lucas and Mascherano). If he wanted to concentrate on the CL, give me a break! The PL has been what we asked for. And there was still a chance to it. And now its gone. Maybe we should play in that lower Europa League next season.
  2. No Alonso to break down that defence line. Xabi Alonso was vital for Liverpool. His passes was superb. His vission of the game was brilliant. But stop mourning about Alonso. Lucas has been trying to put his feet in Alonso shoes. He hasn’t been successfull, but the good thing is that he improves a lot. He played consistantly, offered help to defence, read the game well. But he lacks of that creativity and ability Alonso has all the time. Againts Fulham, he tried few Alonso-like passes but never really got there. He looked confuse facing the hardcore defence line with 10 Fulham players were on their own side. Aquillani maybe will offer something better as he has the creativity and technique to tear down defenders.
  3. Liverpool can’t play like the way Arsenal play. Arsenal can play quicker and quicker so that even the hardest defence will eventually fail to read where the ball will be passed. Thats not the case with Liverpool.
  4. Defence has been what Liverpool can be proud of. But not this season. Carragher seems to pass his best, Agger are prone to injury, and Skrtel hasnt played good until now. Wing backs are the same. Let Arbeloa to Madrid was stupid. He may not be the world class right defender, but like Steve Finnan, he was a consistant player. Johnson maybe twice as goodas they were while attacking, but not when defending. Degen… no comment. His position was awful. In left, we have something quite good, but still need improvement. Insua sometimes looks too small that a bigger opponent can beat him easily. Dossena, yes he is bigger than Insua, but stupid!
  5. The last… Liverpool dont have the depth their rivals have. When Torres injured, who could replace him? Ngog? Babel? Voronin? Hell no. Benayoun can sometimes fill the hole when Gerrard cant play, but just him. Liverpool must spend money to fix this. There’s always a vancancy in the left wing as neither Riera nor Babel can play satisfyingly there. Silva or Juan Mata can be good but they come with a price. Promoting Dani Pacheco and Kristian Nemeth to the first team is maybe a good gamble as they were superb in the reserve team. At least they can give Ngog a competition to become Torres’s tag team and send Voronin back to Bundesliga.

So… i havent really that numb i suppose…

Agosto 6, 2009

English Angle: Will Premier League’s Big Four Survive This Season?

Archivado en: sportivo — Bintang Pramodana @ 12:37 am

Musim ini merupakan salah satu musim tranfer tergila selama saya mengikuti sepak bola Eropa. Bukannya saya percaya bahwa tidak akan ada orang bodoh yang membeli pemain lebih mahal dari Zidane, tapi karena transfer Zidane dipecahkan oleh 2 orang sekaligus dalam 1 musim (kalau bukan 3), dan oleh 1 tim! The Disneyfication of Real Madrid, so they say, untuk menyebut perkumpulan pria2 berkemampuan luar biasa dalam 1 tim itu.

Masalahnya Real Madrid melakukan itu dengan memperkosa tim-tim lain, bukan, liga-liga lain. Madrid merampok AC Milan dan Liga Italia salah satu pemain terbaiknya dan mantan-calon-kapten-Milan Kaka. Harga Zidane sudah pecah. Tidak puas, Madrid merampok MU dan Liga Inggris pemain terbaik dunia-nya, Ronaldo. Rekor Kaka pecah. Masih kurang, Perez mencuri lagi intan dari Lyon dan Liga Perancis, seorang Benzema dengan harga yang juga tidak murah. Terakhir, mereka merebut one of the best of rare-kind-deep-lying-playmaker, Xabi Alonso, dari Liverpool dan Liga Inggris. Itu baru Madrid. Jangan lupa bahwa Barcelona membeli talenta terbaik juara Italia Inter Milan, Ibrahimovic dengan harga 40 juta euro plus Etoo! Karena Etoo juga adalah pencetak gol terbanyak Barca, maka harganya diperkirakan tidak kurang dari 30 juta euro. Maka, rekor Zidane pecah 3 kali tahun ini seakan2 itu tidak ada apa2nya.

Ada sesuatu yang saya lihat tidak adil disini. Tahun lalu, media mencaci maki habis Sheikh Mansour dan Man City karena berusaha menawar pemain2 kelas dunia dengan harga2 yang tidak masuk akal (tapi tahun ini jadi terlihat biasa saja!). namun, ketika Madrid yang melakukannya, kita semua seperti maklum. Satu dua memang mencibir, tapi tidak seperti tahun lalu. Terlihatnya seperti ini: Bila Man City yang melakukan itu, mereka sedang berusaha membeli sejarah dan kesuksesan. Kalau Madrid yang melakukan, ah itu wajar, mereka tim besar, juara Champions 9 kali, tentu saja mereka ingin juara lagi.

Tapi saya tidak 100% menyalahkan. Manajemen Man City adalah orang2 tolol yang kerjanya Cuma menumpuk penyerang! Ayo kita urut: Robinho, Benjani, Bojinov, Bellamy, Santa Cruz, Tevez, dan Adebayor. Nah, apakah Mark Hughes berpikir dia bisa memainkan 4 penyerang?! Saya kira malah dia hanya akan bermain dengan striker tunggal!!

Lalu, bagaimana para 4 Besar EPL akan bertahan menghadapi musim depan. Sir Alex sudah bilang bahwa tahun ini bukan tahun yang tepat untuk membeli pemain. Jadi bisa dibilang tidak akan ada perubahan besar dalam tim2 itu saat EPL mulai. Man U seperti kehilangan setengah mesin gol-nya karena kehilangan Ronaldo dan Tevez sekaligus. Membeli Owen adalah perjudian besar, tapi dia adalah alternatif yang murah. Liverpool juga kehilangan Xabi Alonso yang bermain fantastis musim lalu sekaligus mengorkestrai lini tengah Liverpool. Apalagi keloyalan Mascherano juga dipertanyakan. Arsenal lebih parah kelihatannya. Kehilangan Adebayor dan Kolo Toure ke City, Arsenal hanya membeli seorang bek, yang namanya saja saya lupa. Berharap pada Jack Wilshere dan Theo Walcott agaknya terlalu berlebihan. Chelsea adalah yang paling stabil. Tidak banyak berubah dan terombang-ambing. Man City, setolol apapun saya menganggapnya, tetap saja bisa mengancam. Belum lagi Aston Villa. Saya pikir Chelsea paling siap untuk musim depan.

Di Liga Champions, saya cukup pesimis melihatnya. Apalagi bila Pelligrini berhasil meracik paduan pemain2 terbaik itu jadi sesuatu yang menakutkan. Kombinasi Alonso-Kaka-Benzema-Ronaldo saya kira cukup mengerikan. Saya juga sampai merinding membayangkan Iniesta-Xavi-Henry-Messi-Ibra. Tampaknya masa kejayaan Liga Inggris ada di ujung tanduk.

Mari kita saksikan bersama musim depan yang gila. Dan buktikan apakah uang benar2 bisa membeli sepak bola?

Mayo 7, 2009

2 Things To Learn For Barcelona

Archivado en: sportivo — Bintang Pramodana @ 4:09 am

Malam ini kita lagi-lagi melihat drama dalam sebuah pertandingan sepak bola. Dan lagi-lagi sebuah pertandingan yang tidak sehat untuk jantung, bahkan untuk yang bukan pendukung salah satu tim. Pertandingan Chelsea melawan Barcelona seharusnya dapat mengajari Barca beberapa hal.

Satu, bahwa semua tim Inggris akan sulit dikalahkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini tim-tim Inggris adalah tim-tim terkuat di Eropa. Okelah Barcelona hari ini keluar sebagai pemenang dengan 63% possession dan 14 tendangan. Tapi tunggu dulu, sadarkah anda bahwa Barca hanya 1 kali menendang ke arah gawang, yaitu pada saat Iniesta mencetak gol? Chelsea membuat hidup Barca sulit dengan bermain rapat dan efektif. Chelsea menerapkan closing down hampir kepada semua pemain Barca yang memegang bola. Attractive football-nya Barca melawan Effective football-nya Chelsea. Guardiola boleh memprotes bahwa Chelsea mempermalukan sepakbola menyerang dengan bermain negatif. Tapi itu hanya alasan saja, karena Guardiola sendiri tahu bahwa bermain terbuka dan menyerang melawan Barca adalah mempermalukan diri sendiri. Lihat Madrid. Guardiola hanya sedang melakukan mind games.

Melawan MU di final, Barca harus siap menghadapi permainan rapat itu lagi. Messi tidak mungkin diberikan waktu berlama-lama dengan bola. Iniesta dan Xavi bolehlah punya skill untuk memegang bola, tapi pada siapa bola harus dioper ketika Eto’o tidak bisa bergerak? Ditambah lagi bila Barca bermain dengan barisan belakang yang medioker seperti hari ini. Mereka beruntung Anelka tidak mendapat penalti dari handsball Pique. Abidal tidak ada, berarti harus ada taktik lain melawan sayap2 MU.

Dua, bahwa Barca kekurangan pemain tengah dengan karakter fisik yang kuat. Ini terlihat vital hari ini ketika Chelsea memainkan 3 orang gelandang tengah dengan fisik prima. Ballack, Lampard, dan Essien jelas jauh lebih unggul dalam permainan fisik melawan Iniesta dan Xavi. Lihat berapa kali gelandang2 tengah Chelsea ini melakukan tackling2 dan body charge yang menyulitkan atraksi gelandang2 tengah Barca. Guardiola dan pelatih2 Barca sebelumnya terlalu puas dengan kemampuan brilian gelandang2nya yang memang super, tapi tidak berpikir akan ada pertandingan2 seperti malam ini. Ya ya, Barca memang lolos, tapi kita harus melihat bahwa itu hanya sedikit keberuntungan. Messi tidak sesulit itu dihentikan. Saya ingat 2 tahun yang lalu Messi juga dibuat tidak bergerak oleh Alvaro Arbeola.

Sebagai pendukung Liverpool, jelas saya mendukung Barcelona untuk final kali ini. Peraturannya jelas, semua boleh juara kecuali MU. Tapi saya juga harus realistis bahwa MU sedang dalam permainan terbaiknya. Dan walaupun Barcelona adalah tim dengan rekor gol menakutkan, saya rasa, melawan MU itu tidak cukup. Tim2 Inggris tidak seperti Madrid jaman sekarang yang Cuma bisa buang2 duit dan terlalu banyak omong.

Selamat menunggu 27 Mei di Roma!

Diciembre 28, 2008

Hope and Fears – a football review

Archivado en: sportivo — Bintang Pramodana @ 5:15 am

Tidak perlu lagi gue mengatakan bahwa gue adalah Liverpudlian. And this season is their best chance for decade to win EPL. Apakah gue –pada akhirnya- akan benar2 menyaksikan Liverpool menjuarai EPL? Entahlah, gue hanya bisa berharap. Ini adalah tim terbaik Liverpool sejak gue mendukung tim ini belasan tahun lalu.

Di depan gawang, Pepe Reina jelas adalah salah satu kiper terbaik di dunia saat ini. Dan semua penjaga gawang Liverpool sejak jaman David James, Sander Westerveld, Brad Friedel, dan Jerzy Dudek berada pada 1 level di bawahnya.

Liverpool mempunyai bek tengah yang sangat hebat jika mereka semua fit. Tidak ada yang meragukan Jamie Carragher. Gue rasa dia rela mematahkan kaki kirinya demi menjaga gawang Reina. Dan tentu saja, Daniel Agger dan Martin Skrtel, 2 bek muda paling menjanjikan saat ini. Siapa lagi bek muda yang sehebat mereka, katakan pada gue. Siapa lagi pemain pengganti sebaik legenda Finlandia, Sami Hyypia, yang di klub lain sudah pasti menjadi pilihan pertama. Masalahnya, di posisi full back Liverpool tidak pernah serapuh ini. Alvaro Arbeloa menjaga sisi kanan tanpa pengganti yang memadai. Di sisi kiri lebih kritis lagi. Sejak John Arne Riise kehilangan sentuhannya dan dibuang ke Roma awal musim ini, tidak ada yang benar settle di sana. Aurelio bukannya jelek, tapi kebiasaannya cedera sungguh mengkhawatirkan. Andrea Dossena lebih mengerikan, mungkin lebih baik bermaik dengan 10 orang saja. Harapan ada pada bek muda Argentina, Emilliano Insua, yang bermain brilian saat melawan Arsenal. Tapi ia pemain muda, mentalnya belum lagi terasah.

Sangat sedikit klub yang memiliki gelandang tengah sekomplit Liverpool saat ini. Steven Gerrard, si legenda hidup Liverpool, si kapten super yang selalu menjadi tumpuan harapan. Xabi Alonso dalam permainannya yang paling gemilang sejak masuk tahun 2004 lalu, pemain timnas Spanyol yang baru saja menaklukkan Eropa. Ada lagi Javier Mascherano, kapten Argentina yang selalu hadir buat pemain2 lawan, untuk menghajar mereka. Lucas Leiva mungkin 1 level di bawah mereka semua, tapi ia punya potensi. Pemain terbaik Liga Brazil 2006 dan mantan kapten Brazil U-20 sudah cukup untuk membuktikan potensinya. Dibawah mereka masih ada Damien Plessis, Jay Spearing, dan pemain muda lain yang mungkin harus menunggu lamaaaaaaaa untuk merebut tempat itu dari senior mereka.

Dan sisi sayap selalu menjadi titik lemah Liverpool. Liverpool tidak pernah memiliki pemain sayap yang profilic seperti halnya lawan2 mereka. Namun harapan besar datang sejak Albert Riera bergabung dan langsung nyetel dengan permainan Liverpool di sisi kiri. Si pekerja keras Dirk Kuyt adalah pilihan utama Benitez di kanan. Para pemain pengganti tidak terlalu menjanjikan. Ryan Babel bermain tanpa konsistensi di sayap kiri yang membuat gue berpikir ada baiknya memasang pemain muda ini di posisi favoritnya, penyerang tengah, siapa tahu dia bermain lebih baik. Yossi Benayoun terkadang menemukan kreatifitasnya dan bermain gemilang. Jermaine Pennant malah dalam posisi akan dijual.

Kenapa Ryan Babel tidak mendapat tempat sebagai striker? Tentu saja, siapa bisa menggantikan Fernando Torres, si mantan kapten Atletico yang bermain kesetanan di musim pertamanya tahun lalu. Musim ini Torres banyak cedera, pemain lawan mulai sadar, cara menghentkan Torres adalah dengan membuantnya digotong keluar lapangan. Gue ga heran kalo suatu saat Torres menjadi kapten Liverpool bila dia terus bersama Liverpool. Bila Torres cedera? Siapa lagi yang menggantikan selain pemain mahal dari Totenham itu, Robbie Keane. Keane baru saja menunjukkan kehebatannya dalam 2 pertandingan terakhir ini. Pemain uda David Ngog baru saja didatangkan dari Prancis dan masih menjadi understudy untuk Torres dan Keane. Kriztian Nemeth seharusnya diberi kesempatan. Menonton dia di pertandingan reserve sangat menyegarkan.

Setengah musim sudah berlalu, dan Liverpool masih berada di puncak klasemen. Gue Cuma bisa berharap ini akan terus bertahan. Lain tidak.

Septiembre 6, 2008

City, Al Fahim, dan Nasib Sepakbola Modern

Archivado en: sportivo — Bintang Pramodana @ 2:43 pm

Apa yang dilakukan Manchester City baru2 ini memang mengguncangkan sebagian besar dari kita, pencinta sepakbola. Awalnya kita dibuat tidak percaya bahwa klub kelas menengah seperti The Citizens mampu membeli salah satu talenta dunia paling terkenal saat ini, Robinho, dari Real Madrid dengan harga transfer 32 juta pound yang menjadi rekor di Inggris. Lalu perlahan kita mulai khawatir dengan nasib sepaknola modern di tangan para pemegang uang dan pemain2 mata duitan ini.

Para investor baru tim2 liga Inggris adalah para pengusaha yang pikirannya hanya berada pada uang dan apa yang bisa dibeli dengan uang itu. Al Fahim berpikir dia bisa membeli semua pemain di dunia dengan uangnya itu. Dia pikir bisa menumpuk Buffon, Fabregas, Ronaldo, Robinho, dan Torres di satu tim, lalu memenangkan liga. Dia pikir sepakbola adalah permainan matematis sekumpulan individual apa?

Para pemain besar tersebut, bahkan Buffon yang sudah berumur lebih dari 30 tahun dan ditawari kontrak pemecah rekor dunia, tidak akan berpikir untuk pindah ke City. Ya kecuali pemain2 mata duitan macam Robinho. Football is the passion that lies within it. City sama sekali ga punya sejarah sebagai tim besar, dan sekarang dengan uang yang tidak terbatas, ia berharap bisa membeli sejarah? Bermimpilah.

Al Fahim tentu tidak tahu bahwa sepakbola adalah permainan tim. Dan bahwa building tim dan kekompakan adalah yang terpenting di sepakbola. Dari setiap satu orang pemain top dunia, ada belasan pemain lain yang membantunya dan rela namanya tidak banyak disebut dalam sejarah. Kita tahu bahwa dari rekor gol Fernando Torres tahun lalu, ada Dirk Kuyt dan Ryan Babel di sampingnya, yang rela bekerja keras demi sebuah peluang gol untuk Torres. Kita tahu bahwa di belakang Christiano Ronaldo selalu ada Gary Neville atau Patrick Evra yang menjaga agar Ronaldo tidak perlu berpikir tentang pertahanan ketika membongkar pertahanan lawan. Siapa yang ingat bek Argentina ketika Maradona membuat mereka menjuarai Piala Dunia 1986? Apa Maradona bermain bola sendirian di lapangan? Apakah headlines koran waktu itu “Maradona membawa Argentina juara dunia” adalah sebuah kesalahan?? Selalu hanya satu orang yang disebut dalam sejarah.

Pikirkan bila semua pencetak sejarah dan nama2 besar itu berada dalam satu tim. Bisakah mereka menerima ada di bawah bayang2 nama yang lain? Bisakah mereka meletakkan ego mereka di bawah kepentingan tim? Kadang hal ini sulit, sangat sulit. Dan City beserta Al Fahim-nya jelas tidak paham hal ini. Dan itu akan menjadi awal berhamburannya uang Al Fahim untuk sekedar papan tengah liga Inggris –sesuatu yang dicapai Aston Villa atau Porthsmouth dengan 10% apa yang dikeluarkan City.

Viva Sepakbola!

Blog de WordPress.com.