polaroid hitam putih

Agosto 4, 2009

Farewell Notes

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 12:54 pm

Tulisan ini saya buat jauh setelah blog post saya yang terakhir (saya selalu kesulitan menghadapi kontinuitas), tapi hanya beberapa hari sebelum saya berangkat. Jadi bisa saja dianggap sebagai farewell notes untuk semua yang ditinggalkan. Lagipula, rasanya sulit membayangkan akan menjalani hal seperti ini lagi di masa depan (yang rasa2nya sudah seperti menunggu besok pagi).

Perjalanan saya kali ini menghabiskan hampir 2 kali perjalanan termahal yang pernah saya jalani. Hampir 4 juta rupiah harus saya keluarkan untuk ini. Menempuh hampir separuh lebar Indonesia. Menjalani ketiga mode transportasi (darat, udara, dan laut). I like to think that every adventure is a spiritual. And, the longer road you walk, the purest you become. Okay, i’m being melancholic now.

Backpackers buat saya adalah ideologi, sebuah edukasi, dan kadang menjadi seperti anti-turis. Menurut wikipedia:

“backpackers constituted a heterogeneous group with respect to the diversity of rationales and meanings attached to their travel experiences. …They also displayed a common commitment to a non-institutionalised form of travel, which was central to their self-identification as backpackers”

And yeah i’m addicted to it. Saya rela menghabiskan uang itu demi sebuah perjalanan yang banyak orang akan berpikir dua kali untuk melakukannya, daripada membelikannya sebuah Blackberry – misalnya. We’re buying experience, not buying things. Saya rasa beberapa orang menghabiskan lebih banyak untuk sekedar beberapa hari di Singapura atau Bali.

Beberapa orang dalam perjalanan ini adalah orang-orang dan sahabat-sahabat terdekat saya. Adik saya, yang bekerja keras menyelesaikan tugas akhirnya untuk dapat ikut. Mike dan Abol, yang selalu percaya kemana saja saya pergi, dari Bandung, hingga puncak Bromo dan Gede, dan pantai-pantai tersembunyi di Jogjakarta. Dan Laras, yang setelah sekian lama, akhirnya menjadi partners in crime dalam menyusun itinerary yang melelahkan. Traveler without observation, is like bird without wings – so they said. Anggap saja ini juga merupakan farewell notes kepada kalian. Rasanya tidak mudah mengadakan reuni lengkap untuk ke –sebutlah- Halong Bay misalnya. You’ve all been the closest human being to me. And all that dusty roads we’ve walked on, its priceless. I can run out of money (or time) anytime soon, but i’ll never run out of stories to tell – all the beautiful sceneries and experience we’ve seen and had, traveling makes you speechless then turns you into a story teller.

So this is it. After months of waiting and dreaming, let us celebrate. For the shake of friendship.

Junio 1, 2009

Solar System in My By-The-Sea House, Haha

Archivado en: siempre de vida — Etiquetas:, — Bintang Pramodana @ 11:16 am

Belakangan ini saya mempunyai keinginan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Haha. Kegemaran saya menonton National Geographic, Discovery Channel, dan Discovery Travel and Living [DTL] (tidak ketinggalan majalah NG Traveler yang baru terbit) telah memenuhi otak saya dengan kehidupan yang mencoba berdamai (atau katakanlah meminta maaf atas salah kita pada alam yang mungkin sulit dimaafkan) dengan alam. Gaya hidup begini sering disebut dengan green-living dengan berbagai aspeknya. Yang paling sering saya baca tentu saja green-tourism dengan semboyan legendarisya “take nothing but photographs, and leave nothing but footprints.” Namun saya tidak sedang akan berbicara tentang itu, aspek lain yang sering saya lihat karena ada acaranya di stasiun2 tv tadi adalah green-house.

Selain mempunyai banyak mimpi2 aneh lainnya, saya –tentu saja- juga bermimpi mempunyai rumah sendiri. Namun pengaruh acara2 tv tentang rumah membuat imajinasi saya kadang terlampau liar. The Wow Factor adalah acara favorit saya dulu di DTL, namun tampaknya sudah tidak ada lagi. Acara ini tentang seorang interior designer yang merombak sebuah sisi rumah sesuai dengan konsep pemiliknya, tapi juga menambahkan aspek seni luar biasa dan harga yang (menurut mereka) murah. Lalu ada berbagai acara lain seperti Living ETC yang makin membuat saya mengimajinasikan perabot apa saja yang akan ada di “rumah saya” nanti. Haha.

Satu yang selalu menarik perhatian saya (khususnya pada acara The Green House) namun selalu saya coba abaikan karena saya pikir tidak mungkin hal seperti ini sudah ada di Indonesia, atau kalaupun ada, tidak mungkin murah. Seperti kata Gde Prama, teknologi akan selalu berharga mahal. Yang saya maksud adalah solar panel.

Bayangkan, di Amerika saja mereka bisa memakai sistem PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) ini untuk musim dingin mereka. Masa iya, di negara tropis dengan suhu yang sangat panas pada siang hari ini justru tidak bisa memanfaatkan itu?! Memakai panel solar ini bisa mengurangi ketergantungan kita pada PLN dan pada akhirnya pada pemanfaatan gila2an dari minyak bumi. Ini bisa jadi salah satu wujud permintamaafan kita pada alam. Sekaligus untuk membalas kritikan Ayu Utami dalam Bilangan FU bahwa modernisme ternyata bukan hanya bisa menghancurkan alam.

Kembali masalahnya adalah harga. Brapa harganya pun tidak berani saya bertanya. Tapi sebuah artikel di Jakarta Post menulis: (http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/19/let-the-sun-shine.html)

1. Make a quick list of your home electricity needs, ranging from light bulbs to appliances. One easy shortcut around this is to pull out your last electricity bill and jot down your kilowatt per hour consumption. For the sake of this exercise, let’s say that your electric appliances total 250 watts.

2. Next step. Assuming you want to cover only part of your electricity needs with a solar panel system (hey, we can’t just write off PLN, can we?), how many hours of energy will you need? We’re going to opt for a reasonable 12 hours, which gives us 12 hours x 250 watts = 3,000 watts. Now, because the solar panel installation itself will consume 20 percent of the electricity it generates, we’re going to add 20 percent to our total electricity needs. This brings us to 3,600 watts.

3. We’re going to need batteries to store this wonderful free energy. For 3,600 watts, that will be four batteries of 12 volts each.

4. Now that we know how many watts we must generate each day to keep our teh botol chilled, watch CSI Miami AND light our desk as we pore over our tax return form (3,600 watts), we have also figured out how many solar panels we need. A handy 100 wp (watt peak) panel exposed to five hours of fierce tropical sunlight will provide 500 watts. As we need 3,600 watt, that means we’ll need eight panels. That, or give up on David Caruso and downsize to a more modest seven panels.

5. Now here comes the part where eyes roll back, tongues drop out and people flick over to a more interesting part of the magazine. So solar panel setups are expensive: about US$9–10 for each watt. For eight panels of 100 wp each, this gives us 800 watt x 10, or a rather intimidating US$8,000. Now let me explain why this is still a good idea.

Baca selengkapnya di website itu karena itu sungguh menarik. 80 juta rupiah untuk bumi plus penghematan listrik bertahun2 tampak “tidak” terlalu mahal. Haha. Apalagi kita bisa mencicil untuk itu. Katakanlah 1 panel solar dulu untuk AC dan TV. Lalu beberapa tahun lagi tambahkan untuk kulkas dan mesin cuci. Haha.

Tapi saya belum mengatakan hal baiknya! Di Jakarta Post, mereka bilang bahwa 1 watt harganya sekitar 100.000 rupiah kan? Lalu saya iseng (oh keisengan banget sih) mencari lagi di interet harga konkritnya alat ini di Indonesia. Dan… ternyata 60.000 rupiah per watts! Itu hampirsetengahnya! Dan artinya dengan 50 juta kita bisa memasang 8 solar panel. Hehe. (lihat http://industri.iklanmax.com/2009/05/10/panel-surya-solar-cell-12.html) .

Mimpi saya, punya rumah ditepi pantai. Kecil aja, tapi manis dan nyaman. Ketika jam 5 sore, cukup dengan mengintip dari balik gordin saya bisa melihat matahari yang berwarna merah jingga itu. Matahari yang menyalakan seluruh alat listrik rumah saya 12 jam sebelumnya. Lalu saya berkata:

“Saatnya menyalakan PLN-nya, sayang”

Abril 30, 2009

3 Dead Bodies and I’m Writing About Nothing

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 9:24 am

Something has gotten into me these days. Like, gosh, those days are coming. Those days when we will be no longer the kid from college. The days when we have to face life like an adult. The real life, like they say, has just begun.

Its not that we didn’t want to grow up. Its just, for me, in medical school, life walks slower. We grow inches by inches while in other places, the other kids grow running. Haha. Maybe its because the system of education in medical school is no different than when we were in elementary school!! We just have to follow the system. We don’t have to think (or maybe the contents of what we learn are just that enormous?!). We are now too hesitant to walk out of our comfort zone.

But now, things are different. Just about 3 months for now, the school era will finish (only to continue with another school era?!). the real life of a doctor and a full grown man starts there. And believe me, life wont give something that easy. Haha.

Marriage is another thing. Being in my mid 20’s i have to see one by one of my friends are getting married. I remember it was something unthinkable just a few years back, when we were too busy finding out whats new in town, the music, concerts, movies, photo huntings, and lots of that. And i have to get used to that.

“when will you get married?”, a friend was just doing a small talk to one of my friend. He never expected the answer was:

“next year. i’ll be engaged by the end of the year”, and the silence fell between us…

I know it will never be easy to be married. And i really hope they –who’s planning to be married soon- know what they do. Looking back on today, gimana kita masih bisa jalan2, milih2 pacar, buang2 duit jajan atau gaji untuk kesenangan pribadi. Sedangkan kalo lo udah terikat, oh man…

3 mayat kadaluarsa di ruang otopsi, dan gue di BFM menulis ini…

Enero 24, 2009

Belajar dari Nelayan

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 12:42 pm

Kadang kita ga pernah tau darimana kita belajar sesuatu. Oleh sebab itu juga tidak sepantasnya kita memandang rendah orang lain. Tulisan ini penghargaan saya kepada seorang nelayan di Pangandaran yang walau dengan pendidikannya yang mungkin terbatas dan tidak tinggi (astaga, saya tidak bermaksud memberikan judgement), pria ini bisa berpikiran lebih terbuka dan jernih daripada beberapa saudara kita yang merasa jauh lebih pintar.

Percakapan kami terjadi saat perjalanan pulang dari pantai di seberang Pangandaran yang waktu itu kami capai dengan perahunya. Pada awalnya pria ini bercerita tentang bagaimana tsumani menghancurkan sebagian besar sarana dan prasarana para nelayan di Pangandaran. Mereka kehilangan perahu dan alat2 mencari mata pencaharian dan bagaimana ganti rugi pemerintah tidak begitu memadai karena –ah, kita semua sudah bosa mendengarnya- korupsi. Harga satu kapal nelayan pangandaran rata2 adalah 15 juta belum termasuk motor yang seharga 20 jutaan. Ganti rugi pemerintah sebenarnya sudah seharga 15 juta, namun perahu yang hadir di pelabuhan ternyata bernilai 10 jutaan saja. Kualitasnya rendah, sehingga nelayan2 harus membenahinya lagi agar sanggup melaut di laut selatan yang ganas. Belum lagi membeli motor dan alat2 melaut lainnya. Keluhannya berlanjut pada naik turunnya harga ikan di Pangandaran, ia kesal dengan para pembeli yang kadang tidak mengerti bahwa melaut bagi nelayan di Pangandaran adalah mengadu nyawa. Bayangkan perasaan mereka ketika pulang dan mendapati harga ikan sedang turun.

Lalu sampailah kami pada pembicaraan pendek kami yang –ya- meskipun pendek sangat bermakna sekali menurut saya. Begini menurut yang saya ingat sebisanya:

“kalau tanggall 26 nanti ada acara mas (dia menyebutkan namanya Cuma saya lupa”, pria ini menarik kapal ke pinggiran pantai. Saya melompat turun dari kapal. Pasir pangandaran yang coklat masuk ke sela2 sendal saya.

“acara apa tuh mas?”

“ya itu, persembahan ke laut”, saat ini saya mulai memikirkan judgement saya tentang pria ini: ah, ternyata pria ini percaya tentang legenda Ratu Laut Selatan.

“buat nyai ya mas?”, saya bercanda, mencoba mengikuti alur pikiran manusia di hadapan saya sekaligus mencari mkonfirmasi atas judgement saya. Sebisa mungkin saya tidak terdengar merendahkan.

“haha”, dia tertawa sebentar yang membuat saya heran, lalu melanjutkan, “itu sih saya ga tau mas. Itu sudah tradisi di sini. Buat saya sih, sepanjang tahun saya sudah nyari rejeki di sini, yah, anggap aja rasa syukur saya sekalian ngasih makan ikan2 di laut”

DEG! Hati saya tergetar. Pria kecil nelayan ini melebihi semua ekspektasi saya. Dan sampai beberapa saat sesudahnya, saya mengagumi sekali indahnya kata2 jujur yang diucapkannya tadi. Gila, yang kayak gini ga bisa dimiliki orang2 yang mengaku lebih berilmu, lebih beragama. Orang2 yang sedikit2 bilang musyrik, sedikit2 bilang haram. Merasa bahwa manusia adalah makhluk paling besar dan paling berhak atas bumi ini. Bahwa semua yang ada di bumi ini diciptakan untuk manusia. Menggrebek tempat2 kesenian, membakar buku2. Cih. Tidak salah Ayu Utami melancarkan protes keras dengan Bilangan Fu terhadap kaum kayak begini. Mereka2 yang secara tidak sadar telah merendahkan kesadaran masyarakat untuk menghormati alam dan makhluk2 di dalamnya, halus dan kasar. Mereka2 yang membuat masyarakat tidak ragu2 lagi meraup hutan tanpa takut oleh jin2 hutan, membom laut tanpa takut Nyai Roro Kidul. Mereka yang yakin mereka lebih suci…

Diciembre 26, 2008

Carolina

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 7:55 am

So, she’s my spanish teacher. She’s tall, she’s blonde, she’s 31 years old, and she’s cool. Carolina Pardal Belinchon –begitu nama legkapnya, kadang datang dengan sepatu yang sedikit diseret, kadang dengan langkah gembira, dan menyapa “hola?”, “esta bien?”. Dan kami pun menjawab bodoh “si!” atau “bien”.
Carolina paling ga bisa mneghafal nama. Kadang hal ini menyebalkan untuk sebagian orang. Bayangkan, its been 3 months and she’s still calling me by “el doctor!” sambil tersenyum nakal. Itu masih cukup beruntung karena kita dikenali dengan profesi kita. Teman2 yang lain juga dipanggilnya dengan “el marinero” (si pelaut), “el investigador” (the analyst), atau “la profesora” (si guru). Sialnya, beberapa yang lain dipanggil hanya dengan penampilan fisik belaka!! Yang terkadang menyamain orang lain. Contoh: “chiko gaffas” (pria berkaca mata), “chika, rosa” (wanita, merah). Haha. Dan yang paling parah, ada cewek cina yang dengan selengean dipanggilnya “singapur” karena menurutnya mirip orang2 singapur. Haha.
She’s cool. Very cool. She reads Naguib Mahfouz, she watches Almodovar, she likes flamenco. Dan yang paling keren dari dia adalah keberadaannya di Indonesia.
Gue heran, kenapa orang kayak dia bisa berada di sini. Di Jakarta. Spanyol jelas tempat yang lebih menyenangkan dari Jakarta. Dan ia suka sekali bercerita mengenai berbagai macam kebudayaan spanyol. Kemarin, sambil ngopi2 di kantin Prima seusai memberikan raport, gue beranikan diri bertanya:
“why do you teach here?”
Dan ia bercerita bahwa ini memang pilihannya, dan bagaimana ia jatuh cinta kepada Asia sejak tinggal di India selama 1 tahun. Ketika kembali ke Spanyol, ia memutuskan untuk ke Indonesia, negri dengan banyak pulau, katanya. Sampai kapan disini? Kita bertanya. Mungkin untuk waktu yang lama, katanya. Lalu ia bercerita lagi mengenai rencana tesisnya tentang gender. Ia sedang berusaha mencari jalan untuk masuk ke Timor Leste dan meneliti tentang gender disana.
“you know, women there have an average 7,3 children”, katanya menjelaskan alasannya memilih Timor Leste. “They’re the poorest country in Asia”.
Damn, gue selalu kagum dengan semangat2 gila kayak gini. Bayangin, elo bangun dari tempat tidur empuk lo di Spanyol sana, dan memutuskan tinggal dirumah kontrakan di Jakarta. GILA, menurut gue. Dan dia masih muda, belum menikah, belum punya anak, dan dia sama sekali tidak jelek. Pulang balik naik ojek dan bajaj. Haha, ngebayangin abang ojeknya lagi ngeboncengin dia, apa ya yang dipikirin si abang ojek. Haha.
Sekali ia terlihat sedih ketika ultahnya yang kami rayakan secara sederhana di kelas dengan membelikannya sebuah kue coklat yang pada akhirnya pun dimakan bareng2. Awalnya dia nanya ke kita semua:
“at 31, what would Indonesia women be?”
Semua menjawab serempak, dan gue menjawab ngasal : “a mother”
“a mother? Si?”
“si”
“why?”
Dan gue jelaskanlah betapa risiko kehamilan di atas 30 tahun cukup banyak dan kemungkinan membesar terus. Dia kaget. Dan tiba2 bertanya nakal:
“do you want to have a child, now?”
Haha. Gue ga tau gimana muka gue ditanya begitu. “si senorita, si!” hehehe.
Dan beberapa saat ia terlihat sedih dengan penjelasan gue. Dan gue sedikit menyesal. Namun setidaknya gue memperingatkan hal itu. Namun setelah mendengar ceritanya dan cita2nya yang liar, gue rasa, ga banyak pria yang bisa membuatnya jatuh cinta (sok tau sih), dan dengan tulus gue berharap, semoga semua penakit ibu hamil macam pre eklampsia, plasenta previa, kelainan kongenital, atau bahkan abortus dijauhkan darinya. Amin….

Diciembre 20, 2008

learning from the bad

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 4:11 pm

Kadang elo belajar jadi sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yag buruk. Sesuatu yang elo ga suka.

Selama di Obgyn ada beberapa PPDS yang sungguh membuat gue dan beberapa teman mengurut dada karena kekesalan yang tidak bisa dilampiaskan. Namun orang2 ini juga yang pada akhirnya mendorong gue untuk menjadi orang yang insya Allah ga nyebelin kayak gitu.

Beberapa PPDS menyuruh kita melakukan sesuatu dengan semangat menyuruh pembantu. Ini benar2 menyebalkan.

“dek, liatin kamar A dong! Pasiennya udah dipindah belom?”

Setau gue kamar A kosong, gak ada pasien.

“bukannya kosong dok?”

“Yang sebelahnya dong! Ngebantah lagi lo!”

Anjing bgt. Dia pikir gue babu-nya apa? Cuma susah juga hidup di Obgyn, bermasalah dikit, bisa2 ngulang stase! Huh.

PPDS lain membuat teman gue memukul tembok karena kesal setengah mati. Pasien sedang ramai, dan dari awal jaga, teman saya disuruh untuk memfollow up dulu semua pasien di sana. Belom lagi tugs itu selesai, datang pasien baru lagi.

“Kamu anamnesis dulu ampe selesai dek!” kata si PPDS.

Jdilah teman gue meninggalkan tugas lamanya. Ketika baru saja pasien baru itu selesai di anamnesis, si PPDS balik lagi. Nanya:

“kok ini follow up belom selesai?!!”

“kan tadi dokter suruh anamesis pasien?”

“bantah lagi lo!”

BUK! Teman saya memukul tembok. Untungnya tidak di depan si PPDS.

PPDS lain beda lagi. Dia ga membiarkan elo tidur ataupun duduk2 walaupun kagak ada pasien. Ada aja elo disuruh2 sesuatu yang sebenernya bukan kerjaan yang bersifat klinis. Ambilin ini itu lah, nganter ini itu lah, yang penting elo kagak tidur!

Pada akhirnya, kita Cuma bisa ngambil positifnya aja. Kita semua belajar, bahwa menjadi PPDS yng menyebalkan itu sangat tidak menyenangkan. Diomongin adek kelas, dihujat di belakang. Mending ngajarin apa gitu. Ya, semua orang punya pilihan lah. Toh pada akhirnya mereka terkenal juga di kalangn adek2nya kan? Haha!

Noviembre 23, 2008

PTT??

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 11:52 am

Beberapa waktu belakangan ini, saya mulai sering berpikir tentang apa yang akan saya lakukan setelah lulus. Hal2 macam STR, SIP, dan segala macam birokrasi yang kita tau bersama tidak akan pernah simpel di negara kita tercinta ini. Belum lagi masalah PLD dan ujian kompetensi. Rasa-rasanya rencana saya untuk PTT secepatnya akan mundur beberapa waktu.

Setelah kemaren ada kayak sharing tentang PTT gitu di kampus bersama beberapa senior yang sudah kembali dari PTT, saya semakin yakin juga untuk PTT. Yah, walaupun saya yakin juga bahwa tidak semuanya berjalan indah dan lancar. Tujuan utama saya adalah bisa membayar sendiri program spesialis saya, selain tentunya untuk membebaskan diri dari pendidikan yang memuakkan ini.

Kalau bisa tentu saja daerah yang mau saya tuju adalah daerah2 dengan pantai-pantai indah dan pasir putih dengan ombak biru yang senang bercanda dan berbicara. Sulit memang untuk mencapai situasi ideal macam begini. Namun setidaknya mendekati lah. Jangan di gunung atau kota dan daerah2 yang gersang. Ada beberapa daerah yang sudah ditawarkan pada saya melalui beberapa kenalan ibu (yang walaupun bukan dokter, kok bisa banyak yang nawarin anaknya PTT). Yang paling konkret adalah tawaran ke Kaltim dari teman ibu yang dokter Obsgyn di sana. Namun dia belum bisa menjamin keadaan finansial di sana, padahal itu salah satu tujuan saya PTT bukan? Saya ga mau mebuang2 waktu hanya untuk mendapatkan sedikit uang untuk kemudian membebani orang tua lagi. Sampah sekali. Beberapa tempat lain yaitu Papua (saya pengen ke sini!), Lombok (saya juga cinta lombok!), dan Karang Anyar (yang langsung saya tolak mentah2). Tapi kedua tempat pertama tadi belum sempat di follow up sehingga tidak jelas sampai sekarang.

Setelah dari meng-email dokter Seno di Balikpapan untuk sekedar keep contact, sekalian aja saya mencari di google tentang pantai2 di Kalimatan dan khususnya diving spot di Kaltim. Dan ternyata….. ADA!! Ada 3 diving spot di Kaltim yang bagus. Ah, how i love the sea… segera saja saya melanjutkan pencarian google saya untuk “alat snorkeling dan diving”, hahaha! Mendapatkan beberapa toko di Jakarta yang menjual dengan harga berkisar 700-1,4 juta per paket. Good enough, hehe.

Jadi, jika saya PTT, sudah ada beberapa barang yang wajib saya bawa nih.

1. Laptop! Mencegah kebosanan adalah hal penting. Laptop mungkin juga harus dilengkapi dengan modem untuk koneksi internet (semoga bisa!!), lagu2 saya yang berjumlah 30 GB, film2 yang di download di Jakarta, dan tentu saja kumpulan ebook yang sudah di download. Males banget kan bawa2 buku tebel2 ke sana.

2. iPod. Apalagi yang perlu dijelaskan? I cannot live a day without it…

3. needle holder sendiri. Hehehe. Ini hasil dipanas2in Anne nih. Sial2nya dapet puskesmas yang alat2nya udah bapuk semua. Lagian punya needle holder yang bagusan (ada ga ya yang erkisar 200-300 ribuan) biar bisa dipake terus2an dan tetep bisa “megang”.

4. Snorkeling equipment! Hehe.

5. Olympus E-500 yang sudah menemani keliling jawa bali.

6. Pengennya sih punya kamera underwater. Atau paling ngga kamera pocket dengan plastik penutup anti air yang harganya 200 ribuan. Atau lebih bagus kalo casing underwaternya si Olivia (nama Olympus E-500-nya, hehe).

Yah itulah… semoga aja jalan saya dimudahkan ya… amin…

Noviembre 9, 2008

Death and All His Friends

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 5:18 pm

Kemana kematian membawa seseorang sebenarnya? Apakah mendekati Tuhan, atau malah menjauhinya?

Saya berbincang dengan seorang teman saya di mobil. Dia bercerita tentang kesedihannya ditinggal ayah yang sudah berpuluh tahun ini menemani dia sendiri. Kematian orang ini memukulnya karena pada akhirnya ia hanya seorang diri. Kakak dan ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dengan jarak hanya 4 hari. Tidak terbayang rasanya kalau saya harus mengalami itu.

Saya sering sekali berpikir bahwa saya ingin menjadi orang yang pertama kali meninggal. Bukan karena merasa paling siap, justru karena saya merasa tidak akan pernah siap menunggu untuk ditinggal. Saya merasa tidak akan kuat menjadi yang ditinggalkan. Sebutlah saya egois, tidak mengapa.

“gue sempet marah ke Tuhan, ke Allah,” begitu teman saya berkata, “gue jadi males solat.” Dia berkata seperti itu dengan nada yang cukup datar sampai saya bisa ttersenyum dan berpikir dia berlebihan. Walaupun begitu, saya tahu bahwa kehilangan ayahnya adalah pukulan yang berat baginya, terlebih saat kejadian dia tidak jadi mengambil cuti karena pekerjaan di kantor. Sang ayah meninggal sendirian di kamar, paling tidak suasana sesak ketika aja dipanggil itu tidak dirasakan juga oleh satu-satunya anaknya. Apakah sang ayah bersyukur atau tidak, saya tidak tahu. Dan perasaan sang anak, teman saya ini, membuat saya curiga adalah campuran dari perasaan bersalah dirinya sendiri.

Namun, siapa yang bisa memastikan kita tidak mengalami hal itu?

Siapa yang bisa memastikan ketika keluarga yang kita sayang mendekat kepada Tuhan, kita tidak malah menjauh dan menyalahkan Tuhan?

Kalau mencintai seseorang ternyata mempunyai konsekuensi seperti ini, apakah kita akan berhenti mencintai?

Septiembre 29, 2008

Buka Puasa bersama dan pertanyaan2 yang menginduksi “quarter life crisis”

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 7:29 am

Bulan puasa selalu saja ada berbagai macam buka puasa dengan berbagai kelompok teman dan urusan. Hal ini kadang mengasikkan, ketemu dengan teman2 lama, bertukar cerita tentang apa sejauh mana hidup sudah berjalan meninggalkan masa lalu kita dulu. Kalaupun sama2 sefakultas dan seangkatan, misalnya, jarak dan jadwal yang ada sudah cukup memisahkan kita untuk ga bertemu. Sebegitu mudahnya hidup terpisah. Tempat dan waktu.

Buka puasa bersama adalah jalan untuk menyamakan kembali tempat dan waktu tersebut, sehingga kita bisa lagi saling bercengkerama, mengingat kembali nama-nama dan memori yang sudah terhapus dan tergantikan memori2 baru. Oleh karena itu, buka puasa bersama seringkali adalah salah satu hal yang paling ditunggu dalam bulan ramadan.

Tapi, ada hal yang paling ga gue suka dalam buka puasa beberapa tahun belakangan. Bukan saja karena gue pasti jadi ga solat teraweh, tapi ada lagi.

Entah kenapa, gue selalu merasa minder tiap kali buka puasa. Pertanyaan2 seperti “lagi sibuk apa lo?”, “kerja dimana lo?” sudah mulai sering muncul sehubungan dengan makin tua-nya umur kita. Dan pertanyaan2 itu menggedor integritas gue. Ketika teman2 sudah mulai bekerja dan melepaskan diri dari biaya orang tua, gue masih menunggu uang jajan bulanan. Dan pertanyaan “lo lagi dimana tang?”, selalu dengan menysakkan gue jawab “masih belajar aja. Di RSCM”. Anjing! Udah berapa ttahun gue jawab kayak gitu!

Buka puasa teman2 SMA di kalimalang berisi teman2 akrab seperti Adit dan Ogi yang sudah sejak SMP berteman dengan gue. Untunglah ada yang melepaskan gue dari pertanyaan2 itu, yaitu cerita2 mengenai travel kita masing2. Kebetulan atau tidak, gue, ogi, da adit sama2 sudah mengunjungi Gili dan jatuh cinta dengan lokasi itu. Tidak lama sampai kami memutuskan untuk berkelanan bersama. Tujuan kami adalah ke Karimun Jawa, pulau di utara Semarang itu.

Hah, bagaimanapun, gue masih akan terus menerima pertanyaan2 itu tadi, dan mengalami apa yang kita sebut “quarter life crisis” atau “krisis usia seperempat”, hehehe. Setidaknya untuk setahun ke depan lah…

God, grant me the right way to walk..

Septiembre 7, 2008

we dont really have to change

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 3:53 pm

Why do people change anyway? Why do they change in a way that some may not understand? But they perhaps dont really care about it.

John Mayer menyanyikan “Why Georgia?”

Coba kita melihat diri kita masing2. Have we changed that much? When did it happen? Or why? Dan bila kita mulai menyadarinya, coba kita mencari lebih jauh, apa yang menyebabkan perubahan itu, atau siapa.

Pada dasarnya setiap hidup manusia mempunyai turning point. Titik dimana kita berubah, entah menjadi apa. Dan di titik itu juga ada sesuatu atau seseorang yang membuatnya seperti itu. Bila seorang pria berubah, sebagian besar alasannya pasti adalah wanita. Apa elo juga gitu?

Gue sendiri menyadari tahap2 perubahan dalam hidup gue. Dan gue menikmati itu. Dan selalu ada katalis dalam setiap kejadian itu. Orang2 yang pernah hadir dalam hidup gue. Teman2 di masa SMP merupakan titik balik terbesar gue dari seorang anak-kecil-ga-tau-apa2 menjadi abg-sok-tau. Dua orang wanita terpenting dalam hidup gue di SMA membuat gue memasuki trak hidup gue sekarang. Dua wanita yang mengembangkan sisi2 terbaik dan terburuk dalam hidup gue skaligus, yang membuat gue mulai menulis dan menghargai seni. Teman2 di SMA yang menambah saja kegilaan dalam hidup gue. Orang2 yang secara ga mereka sadari, telah menjadi katalis perubahan. Agent of change.

Sampai saat ini, gue melihat banyak orang berubah. Dari pematangan kedewasaan yang bagus, sampai jadi penganut ajaran sesat. Menarik bukan, bagaimana manusia berubah? Dan kadang sungguh membanggakan bila kita bisa sedikit geer bahwa kita adalah agent of change itu.

Salah satu teman terdekat gue di kuliah saat ini berubah drastis sejak masuk kuliah. Dari sifat, gaya hidup, dan kepribadian. Bahkan genre musik! Si pencinta musik anime pada akhirnya menjadi penganut indie pop eropa.

Namun ketika seseorang terdekat kita berkata: “you’ve changed a lot, that i dont know you anymore”, kita patut khawatir, dan berpikir ulang ke belakang. Sejauh apa kita berubah? Untuk apa? Apa yang kita korbankan? Mungkin kita berada di jalan yang benar dan menuju sebuah kebaikan, tapi mungkin juga kita sedang tersesat pada hutan coklat menggiurkan yang dihuni para nenek sihir. Bila yang terakhir lebih mendekati, ada baiknya kita meyusuri jalan pulang lagi…

People change, i know, but sometimes we dont really have to. Aight?

Entradas más antiguas »

Blog de WordPress.com.