Arsip Kategori: My Work Story

Cerita Tentang Mekilong Wenda

Anak-Anak Papua

Mekilong Wenda terlihat kebingungan melihat papan tulis di depannya. Raut wajah yang ragu-ragu, seakan melihat sesuatu yang tidak wajar di sana. Mekilong Wenda diam, mungkin berpikir sejenak apa yang hendak disampaikannya.

Sa (saya) orang Papua, bukan endonesa,” jawabnya bingung.

“Papua itu bagian dari Indonesia, Mekilong,” kata saya sambil melingkari gambar peta Indonesia buatan saya di papan tulis.

“Ah, tidak. Sa orang Papua,” katanya sambil ngeloyor pergi seperti ketika belajar pelajaran yang lain pada klinik saya sepulang sekolah.

Setelah hari itu. Saya tidak pernah lagi melihat Mekilong Wenda.

***

Saya masih ingat pertama kali melihat Mekilong Wenda datang bersama kedua orang tua dan adiknya yang masih kecil untuk berobat. Si adik sakit panas. Mekilong Wenda berdiri dengan senyum lebar di samping tempat duduk ibunya. Dan seperti layaknya anak-anak Papua, Mekilong bertubuh kecil kurus dengan perut buncit bertanda kekurangan gizi, dan ingus hijau yang hampir menetes dari salah satu lubang hidungnya. Anak Papua. Mekilong Wenda berusia 10 tahun tetapi memiliki berat tidak lebih dari 20 kg.

Buat orang Papua, anak-anak yang beringus (pilek) kental hijau yang hampir menetes jatuh tersebut adalah hal yang wajar saja. Toh semua anak seperti itu.

Mekilong tampak senang berada di klinik sekaligus tempat tinggal saya dan teman-teman karena memiliki sebuah kolam berisi ikan lele di belakang. Mekilong senang memancing. Jadi sering setiap pulang sekolah (ia baru saja masuk kelas 3 SD), Mekilong datang sendiri atau dengan adik dan temannya untuk memancing satu atau dua ekor lele.

Saya dan teman-teman tidak membiarkan mereka langsung bermain dan memancing, melainkan menyuruh mereka belajar dulu.  Hal yang menyedihkan adalah Mekilong belum bisa membaca. Jangankan membaca, mengenali huruf pun masih terbata-bata. Entah bagaimana mereka bisa naik kelas. Entah apa yang mereka lakukan di sekolah.

Suatu kali saya memberi tugas Mekilong untuk menulis huruf dari A sampai Z yang katanya sudah pernah diperlajarinya. Wajah Mekilong berubah dari serius, putus asa, dan diakhiri dengan tawa menyerah. Setelah dipaksa menyelesaikan tugas itu, ia pun segera pergi ke belakang, mencari cacing dan memancing lele, sesuatu yang dia lakukan dengan sangat lihai.

Sa su (sudah) capai di sekolah Bapa Dokter,” katanya beralasan.

Setiap kali pula Mekilong makan siang di rumah kami. Lele yang ditangkapnya kami goreng, dan dia pun makan dengan lahap. Bagaimana mungkin seorang anak bisa berpikir dengan baik ketika nutrisinya pun tidak terpenuhi sedangkan kebutuhan oksigen otaknya terganggu ingus-ingus kental yang menggantung.

 Potret pendidikan di Indonesia adalah Mekilong Wenda dan teman-temannya, bukan sekolah-sekolah mahal yang katanya berstandar internasional. Ketika anak-anak TK di Jakarta sudah dibebani dengan mengeja dan berhitung, Mekilong yang sudah masuk SD selama 3 tahun pun masih tertawa putus asa diminta mengeja huruf apa yang sudah dikenalnya.

Tidak hanya itu. Bagaimana pemerintah berharap konflik di Papua bisa mereda jika seorang anak 10 tahun di sebuah kabupaten besar di Papua bahkan tidak mengenal arti Indonesia. Ini bukan cerita indah di film. Faktanya, mereka hanya merasa sebagai anak Papua. Mereka besar dengan mengetahui kekayaan alam mereka dimanfaatkan oleh pemerintah pusat dan asing, sedang anak-anak mereka tidak pernah tahu hasilnya.

Entah mengapa Mekilong Wenda tidak pernah lagi datang ke rumah setelah malam itu saya mengajarinya arti Indonesia. Orang tua dan adik Mekilong pun tidak lagi datang klinik. Mungkin mereka pindah. Mungkin Mekilong berhenti sekolah dan membantu sang Ayah di kebun. Mungkin Mekilong yang bingung bertanya kepada sang Ayah tentang Indonesia. Mungkin sang Ayah tersinggung. Ah, mungkin Mekilong hanya bosan berteman dengan saya.

***

Rusdi tersedu di telpon. Ini kali pertama dalam beberapa bulan semenjak ia berangkat mengajar di pedalaman Papua. Ia baru saja sampai Wamena, kota besar pertama setelah hampir 3 hari berjalan kaki dari desanya.

Sa berangkat sama masyarakat yang mo pergi ke kota. Pesawat mahal, dok, harus charter. Sa mo ambil gaji, belum turun su 3 bulan,” terdengar Rusdi bercerita sambil menahan tangis.

Saya kenal Rusdi sejak pertama sampai di Papua. Lulus dari sekolah guru di wilayahnya (satu-satunya perguruan tinggi adalah sekolah guru), Rusdi dijanjikan akan dijadikan PNS dan dipanggil bekerja di daerah tertentu. Sudah 1 tahun semenjak janji itu dan Rusdi belum lagi mendengar kabar. Jadilah dia bekerja di klinik saya. Tiba-tiba saja dia mendapat panggilan itu beberapa bulan lalu.

Rusdi bercerita bagaimana dia berjalan kaki masuk keluar hutan dan naik turun bukit. Bersama pace mace masyarakat daerahnya yang juga mau ke kota untuk berbagai urusan, mereka tidur di goa, rumah penduduk lain, atau apa saja yang bisa melindungi mereka dari hujan. Ia juga bercerita bagaimana ia hanya makan patatas (umbi-umbian) tanpa nasi dan protein hewani. Mereka bilang para guru muda ini akan diperhatikan. Mereka bilang gaji akan turun. Mereka bilang… ah.

Di akhir telpon itu Rusdi bertanya kepada saya, “apa sa bisa jadi guru di Jakarta saja, Dok?”

Saya tidak bisa menjawab apa-apa.

Dengan kaitkata , ,

Cerita Seram dari Rumah Sakit

Rumah sakit mungkin salah satu tempat kerja yang paling akan mengubah diri seseorang, semakin baik, atau malah semakin buruk. Di tempat inilah sering terjadi perbedaan kepentingan dengan pertaruhan nyawa manusia. Perbedaan kepentingan yang paling kontradiktif: sosial, atau bisnis. Apakah keduanya bisa berjalan bersama? Tidak, dalam sistem yang buruk.

Karyawan RS kadang harus bersitegang dengan pasien dan keluarga menyangkut pembiayaan tindakan medis. Awalnya para karyawan ini mungkin merasa bahwa hal ini bertentangan dengan kata hati mereka. Mereka menolak memberikan kamar, obat, atau apa saja, tanpa kepastian pembayaran. Para karyawan ini mungkin saja tersiksa ketika mereka harus bersitegang dengan keluarga pasien dalam menjalankan tugasnya. Tapi lama kelamaan, rasa itu bisa hilang. Dan mereka bisa berkata “tidak” tanpa emosi lagi.

Para dokter dan perawat seringnya pun sudah mati rasa terhadap konflik yang terjadi hampir setiap hari itu. Mereka juga tidak lagi merasa ganjil melihat kematian di depan mereka. Itu adalah hal biasa. Sebiasa makan siang hari ini dan besok.

Keluarga pasien pun melihat sesuatu dari kacamata mereka sendiri. Mereka sering lupa bahwa para karyawan RS yang membuat mereka kesal setengah mati ini cuma pekerja suruhan. Golongan paling bawah dari sebuah sistem. Keluarga pasien ini lupa bahwa perawat dan dokter sampai satpam RS yang mereka sebut mata duitan ini tidak mendapat apa-apa dari keributan ini. Seringnya keinginan menolong harus dibayar dengan kehilangan pekerjaan.

Dalam sebuah sistem yang buruk, tidak ada yang mau disalahkan. Semua ingin benar dalam kebenaran mereka sendiri.

IGD adalah tempat dimana semua watak manusia dalam kondisinya yang paling rapuh bertemu. Sebagai seorang dokter, anda melihat semuanya, mempunyai perasaan subjektif terhadap suatu hal, tapi tetap harus netral. Anda tidak memihak RS, anda tidak memihak pasien dan pihak-pihak yang bersengketa, anda adalah manusia setengah robot yang diharuskan netral.

Jadi ketika ada dua orang terlibat kecelakaan lalu lintas dan saling menyalahkan, anda hanya bisa menilai di dalam hati.

Suatu hari seorang anak orang kaya yang belum seharusnya naik motor menabrak sebuah motor yang dikendarai satu keluarga. Ayah dan anak di motor itu tidak cedera. Tapi sang ibu patah tulang lengan. Si anak orang kaya meraung-raung di IGD, dikelilingi keluarganya yang marah… pada motor yang ditabraknya. Ibu patah tulang itu diancam dilaporkan ke polisi. Suami istri itu ketakutan. Biaya pemeriksaan IGD pun tak bisa membayar. Si anak orang kaya bercerita kejadian yang sama sekali berbeda. Si ibu patah tulang terpaksa pulang tanpa tindakan apa-apa karena takut. Si anak orang kaya lepas dari tanggung jawab.

Pada kejadian lain, sebuah taksi ditabrak motor. Ini kejadian dimana mobil selalu salah. Supir taksi dipaksa membayar semua. Dengan uang yang mungkin diperolehnya dengan tidak tidur kemarin malam.

Di RS lah kewarasan anda diuji. Anda didatangi penipu yang bolos kantor dan kuliah lalu minta surat sakit. Anda didatangi koruptor yang berlaga sakit demi tidak diperiksa. Anda didatangi orang-orang yang mau anda tolong tapi tidak bisa. Anda dipaksa melihat detik-detik kematian itu. Anda mati rasa.

IMG 0616

tidak ada konflik di tengah laut :)

Lebih nyaman di tengah laut ini.

Salam!

Dengan kaitkata , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.