Filed under Music

[Music_Talk]: Badly Drawn Boy

I’ve been wanting to write this for quite some time. Pada blogs lama saya di friendster, saya cukup sering menulis tentang hobi-hobi saya yang lain selain traveling. Review musik dan konser, buku, dan film-film yang baru saya tonton. Entah kenapa seiring waktu hal itu menghilang begitu saja. Haha.

Jadi, saya akan mencoba kembali menulis tentang beberapa hal itu. Dimulai dengan salah satu penyanyi pria favorit saya: Badly Drawn Boy.

Badly Drawn Boy sebenarnya adalah nama panggung dari seorang Damon Gough. Saya sendiri mulai mendengar lagu BDB di radio periode 2002 di SMA, ketika lagu “You Were Right” diputar di radio. Tidak cukup hits saat itu, but I knew what I liked.

Dalam lagu-lagunya, Damon Gough seringkali seperti bercerita, lirik-liriknya sering cukup panjang. Dengan genre pop sebenarnya mudah sekali sebuah lagu cinta menjadi cheesy, tapi Gough dapat memilih nada-nada dan lirik yang tepat sehingga kita tidak bosan-bosannya mendengar.

Salah satu lagu favorit saya sepanjang masa adalah “How” dalam album “Have You Fed The Fish”, sebuah album yang brilian. Di lagu ini Gough mempertanyakan “how can I give you the answer you need when all I posses is a melody? / how can I take up the air that you breathe when all I posses is a melody?

Lirik pada lagu “You Were Right” mungkin adalah yang tulisan Gough yang terbaik. Dia bercerita bagaimana dia mencintai seseorang dengan “I’m turning Madonna down, I’m calling it my best move, I’ve two tickets to what you need”. That was just simply beautiful.

Tahun 2006, Gough mengeluarkan album “Born in the UK” yang didalamnya terdapat lagu “The Way Things used to Be”. Well, ini jelas adalah lagu cinta, tapi tanpa terdengar klise. Bagian favorit saya adalah ketika dia bernyanyi “The crucifix still hung up by the door / But Jesus doesn’t come here anymore / Those memories still hanging on the wall / But people there don’t look like us at all”.

Beberapa lagu lainnya dapat anda cari di YouTube. Salah satu yang terkenal adalah “Silent Sigh”, dan bila anda suka film “About A Boy” perlu diketahui juga bahwa Gough lah yang membuat musik untuk film tersebut dengan album berjudul sama.

Hope you enjoy him as much as i do!

Dengan kaitkata , , , , ,

talking about music

Kadang2 gue bingung deh dengan perubahan arah musik gue. Dari SMP sampe sekarang, genre gue berpindah-pindah, dan sialnya, cenderung berjalan ke belakang. Mengingatkan gue bahwa gue udah semakin tua untuk sebuah kemajuan dan pembaruan di musik. Ibarat musisi, mungkin gue semakin dewasa. Haha.

SMP gue sempet ikut jalur mainstream. Suka apa yang orang suka. Dengerin apa yang orang denger. Percaya pada MTV bahwa mereka adalah pembawa kebenaran di musik. Gue bahkan menyukain beberapa musik yang bisa gue bilang adalah “aib” gue sepanjang masa. Apa itu? Ogah gue ngasih taunya. Tapi akhir masa gue di SMP, sebuah pencerahan dalam bentuk brit-pop datang. Walaupun pada masa itu brit-pop sudah di ambang kehancuran, tetapi gue bersemangat mengikuti jalur itu. Menelusuri Oasis, Suede, dan Pulp. Pada awalnya mungkin hanya kesamaan potongan rambut, lalu beranjak pada pakaian, dan akhirnya sifat. Gue mungkin satu dari sedikit orang yang tidak jatuh kepada jaman Ska, dan sudah memandang bahwa rezim Ska Indonesia adalah sebuah lembaran hitam musik. Hehe. Gue mencibir band2 Ska apalagi band2 sekolahan yang bermain ska. Hueks!

SMA gue mulai menelusuri ke belakang sejarah brit-pop sambil berjalan maju mengikuti band2 brit-pop baru penantang era musik rock Amerika. Mendengarkan Pablo Honey-nya Radiohead yang merupakan pencerahan lahir batin. Banyak pencinta Radiohead masa kini yang meghina Pablo Honey dengan membandingkannya pada OK Computer. Tapi ga ada OK Computer tanpa Pablo Honey. Yellow muncul dan nama Coldplay mulai mengudara. Gue langsung jatuh cinta. Gue juga mulai melebarkan sayap musik gue ke berbagai band radio yang ga terkenal saat itu. Gue lupa apa aja. Kasarnya, i live everyday with music. Kasih gue satu lagu yang ada di radio di jaman itu, 70% gue yakin tau siapa penyanyi dan judulnya. Gue mulai mengakrabi Phoenix, Ocean Colour Scene, The Verve, Supergrass, dsb.

Dari akhir SMA sampai kuliah musik gue makin liar ga terkendali. Gue sempat menjadi fanatik klasik. Mendengarkan musik2 Mozart sepanjang hari, terlena dengan Chopin, dan membeli berbagai kompilasi klasik yang ada. Lalu mulai medengarkan jazz (dengan selalu datang ke 2 Java Jazz pertama, dan beberapa acara jazz lain) sampai kemudian bertemu dengan bossanova dengan ratu-nya Astrud Gilberto. Kemudian gue sangat mengakrabi scene indie, baik dalam maupun luar negri. Segala sound2 indie yang ada, gue usahain denger. Itulah saat dimana akhirnya gue berkiblat pada Death Cab For Cutie dan Bloc Party. Tapi di saat bersamaan gue mulai menjelajah kembali sejarah musik seiring Rolling Stone Indonesia membeberkan keindahan rock and roll jaman dulu. Gue sempet menggilai Led Zeppelin, mendengarkan banyak lagu The Beatles.

Saat ini, diawali dengan mendengarkan Ryan Adams berubah menjadi lebih dewasa dengan musik country-folk-rock yang asik, gue makin ke arah coutry dan blues. Gue mengkoleksi semua sound country Ryan Adams yang gue anggap keren banget, mendengarkan lagi Norah Jones yang gue pikir lebih ke country daripada pure Jazz, berusaha mengerti kata2 Bob Dylan, dan menyelami lebih jauh sound The Beatles ke belakang. Gue makin mundur. Gue melangkah jauh dari musik Arctic Monkeys yang gue anggap monoton. Gue menutup mata dari scene heboh My Chemical Romance dan Panic At The Disco yang buat-ABG-aja-deh.

Semua hal berubah, dan memang perlu berubah. Gue seneng dengan perkembangan musik gue yang makin mundur ke belakang walaupun di satu sisi gue mengerti kenapa om-om dan bapak2 selera-nya ga pernah maju dan sama kayak anak sekarang. Gue akan menjadi om-om dan bapak2 yang dulu gue pertanyakan. In a good way, of course.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.