
Orang selalu bilang kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Saya lalu bertanya-tanya, keberhasilan dimana? Di tempat yang sama dengan kegagalankah? Atau di tempat yang berbeda?
Saya masih ragu-ragu bagaimana memandang dari sudut pandang yang mana kegagalan saya pada tes kemarin. Saya tidak lagi terlalu sedih dan kecewa terhadap kejadian itu. Tapi ada rasa kurang yakin pada diri saya bahwa saya harus mengulang kembali ujian tersebut.
Tidak, saya tidak merasa rendah diri. Saya memiliki kepercayaan diri yang cukup terhadap apa yang mampu saya lakukan. Yang saya pikirkan adalah apakah kegagalan ini sebuah tanda bahwa di sana bukanlah jalan yang terbaik untuk saya? Saya mengajukan pertanyaan “apa yang sebenarnya paling saya inginkan?” berkali-kali sampai saya bosan. Dan saya masih belum yakin.
It wasn’t before last year that I decided that I would take the residency in anesthesiologist. Sebagian besar adalah karena ketertarikan saya pada emergency and critical care dan lebih lagi pada pain management.
Saya ingat sebelum itu saya ingin sekali masuk Emergency Medicine. Sayangnya memang di Indonesia belum berkembang. Belakangan saya juga sempat mengobrol dengan 2 orang alumnus EM di Unbraw. Keduanya mengatakan bahwa saya harus cukup gila untuk berjuang memajukan EM di Indonesia. Sebenarnya kalau dipikirkan, bagaimana mungkin IGD rumah sakit di Indonesia saat ini dijaga oleh dokter-dokter umum yang sebagian besar paparan terhadap kasus emergensi di kuliahnya masih minim (termasuk saya). Belum lagi dengan kondisi rumah sakit yang kadang tidak punya sarana dan prasarana yang baik di IGD. Padahal IGD adalah tempat dimana seringnya pengetahuan, kemampuan, pengalaman, dan alat dapat menyelamatkan nyawa manusia. Nyawa manusia Indonesia memang sebegitu murahnya.
Lalu pain management. Sesuatu yang sejak kuliah saya sangat tertarik. Kenapa? Karena keluhan nyeri adalah keluhan yang paling sering di dapati di klinik. Tetapi nyeri kadang dianggap setengah mata oleh para dokter. Pasien yang selalu mengeluh nyeri kadang dibilang cengeng. Yah, walaupun ada juga yang lebay.
Sekarang coba lihat pasien-pasien kanker. Sebagian besar yang dipikirkan dokter adalah operasi, radioterapi, kemoterapi, tapi mungkin tidak banyak yang benar-benar menilai nyeri yang dirasakan oleh pasien. Pasien pun sering merasa takut menyampaikan keluhan nyeri ini. Kenapa? Kadang karena mereka takut bahwa itu adalah gejala kanker mereka makin memberat, kadang juga lebih ingin sang dokter berkonsentrasi pada operasi/kemoterapi dibanding keluhan nyeri mereka. Ini persepsi yang harus dirubah. Sebab itu juga saya ingin mempunyai sebuah klinik khusus nyeri, yang lagi-lagi belum berkembang baik di Indonesia.
Jadi, saya sekarang berada di persimpangan. Antara harus kembali mengambil ujian anestesi dan mendalami pain management atau critical care, atau take the road less traveled dan mendaftar ke Emergency Medicine dan berjuang di sana?
So, faith is a tricky thing. What do I have to believe now? That it was a sign, or that it was just a test of perseverance, test of character?
Only time has the answer for me.





















