Arsip Kategori: Amores Perros

Love Expressions

Honestly, i’ve been trying to write something for some time now. But somehow i have found it very hard to do. I think i wrote almost about everything, so its not easy to find something new to write. Call it writer’s block, i my self call it like that.

I did spend a great deal of moments lately. Something i’d been craving for. I feel so open, so vulnerable. And what actually makes us feel somfortable about someone? Why cant we feel it with just anybody?

“i dont need someone who wants to do everything for me. I need someone who makes me confortable”, i once said to her while we were drinking coffee. I ordered the-usual-cappucino, she ordered caramel latte.

A friend said that there were 5 love expressions. 5 ways love can be transfered from one to another. And everyone has their own type, their own preference about how they love and how the want to be loved. But this is where the problem begins.

I dont think i remember all 5. But let me try.

  • Some people show their love by saying words about love, writing something about love.
  • Some people say it by having a quality time together, even when its just sitting quietly drinking that bitter machiato, watching the night by the seaside, talking about everything.
  • Some show it with touch. They transfered their love with every touch they give, their kisses.
  • Some say it with presents and things. Here’s where flowers, golden rings, luxury food, and all that speaks.
  • Some show it with care, with being every thing their partners need. They devote to their loved ones.

Its not that a way is better than another. You can have your own way. Your partners can have their own way. The problem is: do you know how your partners want to be loved?

Most of us expect to be loved like how they loved. For example, A likes to be fooled with sweet words, and A shows his/her love with a bunch of sweet words. But B, his/her partner feel that he/she is loved when he/she is given something, so that he/she often give A presents. For B, words are useless and he/she is disappointed because A hasnt given him/her anything for their aniversary but words! For A, presents is a waste. A does feel that a lot of presents means a lot of money, and A believes that money has nothing to do with love, but words are different. So A is disappointed with how superficial B thinks, and B is disapppointed with how stingy A. And they break up.

See how destructive it is?

My friend said because of that, we must understand how our partners want to be treated (and maybe show how we want to be treated). But its never that simple, isnt it? Maybe thats the reason why people sometime stuck with someone. And thats the reason why we cant be with just anybody. The chemistry, the will to change, the will to understand…

Enough said, i sppose..

To End Something That Should Has No End

Beberapa bulan belakangan ini saya banyak (terlalu banyak) mendengar mengenai berita putusnya hubungan teman2 saya. Tadinya saya tidak terlalu berpikir banyak mengenai hal ini selain rasa heran saya kenapa semuanya seperti terkena demam putus (saya sendiri pun terkena juga). Namun, sehabis saya berbincang-bincang dengan ibu saya pagi ini, saya jadi berpikir, “bagaimana jika sebuah hubungan tidak bisa lagi disudahi semudah itu?”, bagaimana kita menyesalinya? Apa yang akan kita lakukan? People go wrong everytime, our partners hurt us everytime, we lie as many as we tell the truth, but can we forgive and forget all the time? Can we accept that our whole lives?

Ibu bercerita mengenai beberapa kenalan yang dia tahu kehidupan pibadinya. Sulit juga mnjadi orang yang menampung banyak cerita pribadi seperti ibu saya ini. Sebagai orang yang sering dipercaya mendengar cerita dan memberikan nasihat yang baik, sesekali perlu juga rasanya dia membocorkan sedikit cerita tersebut agar tidak membebani pikirannya. Toh, sedikit yang saya kenal secara pribadi.

Cerita tentang seorang istri yang “dikurung” oleh suaminya di dalam rumah, telpon rumah yang dikunci, meteran listrik yang dipantau secara harian, dan minimnya uang harian yang dihitung secara berlebihan. Wanita ini begitu sedih dan sakit. Dia bahkan tidak bisa menghubungi orang tuaya untuk mengucapkan selamat lebaran. Dan ia menyesali keputusannya menikahi pria yang menjadi suaminya ini. Sayangnya, hubungan ini sudah tidak bisa diakhiri dengan kata “putus”.

Cerita lain tenang seorang pria yang mencurigai istrinya berselingkuh sebelum akhirnya mendapati mereka berdua di dalam mobil di sebuah lobi hotel. Dia mengusir istrinya dari rumah, sebelum akhirnya sang istri kembali lagi 3 hari kemudian. Pria ini menerima istrinya kembali. Tapi apa dia memaafkan? Apa dia menerima? Apakah hanya karena anak2 mereka yang menunggu ibunya pulang? Hubungan ini sudah tidak bisa diakhiri oleh kata “putus”.

Saya mengehela nafas pendek. Saya tidak bisa berpikir lagi…

Women and their wish of paranormal boyfriends

Sometimes last week, gue duduk dengan dua orang temen gue. Dua wanita ini berbicara terbisik yang masih dapat terdengar oleh telinga gue. Dan mereka tidak tampak keberatan dengan itu. Salah seorang dari temen gue ini baru aja putus setelah sekian lama, maksud saya, lama sekali, berpacaran. This was part of the conversation goes… (at least as i remember it)

“but you still have contact with him, arent you?”

“nope”

“how come?!”

“because i ddint want to. I said that”

“but you didnt…”

“no, i didnt mean it”

“of course you dont”

“…”

“that stupid boy”

“yeah, he’s stupid!”

“dont be that stupid ya, tang” (tiba2 mereka berbicara ke gue, karena mungkin merasa volume suara mereka terlalu keras dan sulit untuk berharap gue nggak mendengar).

This is what women always do. Mereka cenderung tidak mau berkata apa yang mereka rasakan atau yang mereka inginkan, atau malah berkata sebaliknya dari yang mereka inginkan. Kadang mereka mengucapkan itu dengan nada suara berketetapan hati yang keras. Dan mereka ingin para pria itu mengerti apa yang mereka katakan. Bila tidak, maka si cowok akan dibilang bodoh, tidak peka, tidak sensitif, dan huh, berbagai perkataan lain.

Sial bagi kita, para cowok, dimana kebanyakan cewek selalu beranggapan para cowok seharusnya menjadi some kind of paranormal yang bisa membaca pikiran orang. Mereka ingin kita memiliki telepati sehingga apa yang mereka inginka dapat terpenuhi tapa harus mengorbankan harga diri mereka dengan berbicara di depan kita.

Buat gue, ini salah satu hal yang sulit gue mengerti dan pahami. Sekeras apapun kita mencoba, kita akan sering salah menerka, dan jadilah kita menjadi “si tidak peka” dan tentu saja mereka akan menjadi “si paling peka”. Huh. Communication, dear, is everything. Maybe its true that we have to learn some kind of magical ability to –at leats- understand…

we dont really have to change

Why do people change anyway? Why do they change in a way that some may not understand? But they perhaps dont really care about it.

John Mayer menyanyikan “Why Georgia?”

Coba kita melihat diri kita masing2. Have we changed that much? When did it happen? Or why? Dan bila kita mulai menyadarinya, coba kita mencari lebih jauh, apa yang menyebabkan perubahan itu, atau siapa.

Pada dasarnya setiap hidup manusia mempunyai turning point. Titik dimana kita berubah, entah menjadi apa. Dan di titik itu juga ada sesuatu atau seseorang yang membuatnya seperti itu. Bila seorang pria berubah, sebagian besar alasannya pasti adalah wanita. Apa elo juga gitu?

Gue sendiri menyadari tahap2 perubahan dalam hidup gue. Dan gue menikmati itu. Dan selalu ada katalis dalam setiap kejadian itu. Orang2 yang pernah hadir dalam hidup gue. Teman2 di masa SMP merupakan titik balik terbesar gue dari seorang anak-kecil-ga-tau-apa2 menjadi abg-sok-tau. Dua orang wanita terpenting dalam hidup gue di SMA membuat gue memasuki trak hidup gue sekarang. Dua wanita yang mengembangkan sisi2 terbaik dan terburuk dalam hidup gue skaligus, yang membuat gue mulai menulis dan menghargai seni. Teman2 di SMA yang menambah saja kegilaan dalam hidup gue. Orang2 yang secara ga mereka sadari, telah menjadi katalis perubahan. Agent of change.

Sampai saat ini, gue melihat banyak orang berubah. Dari pematangan kedewasaan yang bagus, sampai jadi penganut ajaran sesat. Menarik bukan, bagaimana manusia berubah? Dan kadang sungguh membanggakan bila kita bisa sedikit geer bahwa kita adalah agent of change itu.

Salah satu teman terdekat gue di kuliah saat ini berubah drastis sejak masuk kuliah. Dari sifat, gaya hidup, dan kepribadian. Bahkan genre musik! Si pencinta musik anime pada akhirnya menjadi penganut indie pop eropa.

Namun ketika seseorang terdekat kita berkata: “you’ve changed a lot, that i dont know you anymore”, kita patut khawatir, dan berpikir ulang ke belakang. Sejauh apa kita berubah? Untuk apa? Apa yang kita korbankan? Mungkin kita berada di jalan yang benar dan menuju sebuah kebaikan, tapi mungkin juga kita sedang tersesat pada hutan coklat menggiurkan yang dihuni para nenek sihir. Bila yang terakhir lebih mendekati, ada baiknya kita meyusuri jalan pulang lagi…

People change, i know, but sometimes we dont really have to. Aight?

This Moments Are Irreplaceable

Dalam hari ke 4 sejak malam itu gue meninggalkan Jakarta, semuanya adalah saat2 yang ga akan bisa gue lupain. Banyak banget yang terjadi dalam road trip menuju Bromo ini. Sayangnya, kebahagiaan ini harus diganggu dengan hal-hal yang menyesakkan dada.

Chawpi Tuta sepertinya sudah tidak lagi dapat bertahan dalam posisinya. Kesenangan baru gue untuk travelling dan backpacking, juga rencana2 masa depan gue dianggap tidak cukup meyakinkan. Dia bilang akan lebih baik jadi sahabat dekat saja. Gue bilang, “we’ll talk as soon as I get back”, dia ga mau. Gue ga bias nahan lagi. Gue pengen banget menghargai dan menerima keputusan itu selapang2nya dada, tapi ga bisa. Tetep aja gue ngerasa tidak dihargai. Gue ga bisa ga ngerasa marah. Gue kesel.

Keadaannya sekarang, gue mungkin ga akan nyaman walaupun misalnya dia menarik keputusan itu. Gue udah pernah bilang, dalam hitungan detik, kesempatan dan keadaan bisa berubah total. Gue masih berharap bisa bersama dia nanti, atau kapanpun di masa depan nanti. Tapi ga sekarang. Gue masih cukup sakit dan kecewa dengan itu.

Tapi hidup ga berhenti di situ kan? Laut adalah sesuatu yang dapat memulihkan perasaan itu. Hari kedua di Jogja, gue ke pantai Sepanjang. Pantai itu bersih, putih, dan sepi dengan rumput laut yang kadang elo injak jika berjalan di air yang dangkal. Ombaknya yang deras dan tinggi dari kejauhan dan hancur deras di dekat pantai. The scenery was an instant beauty. Jam 12 siang, matahari masih memanggang siapapun, tapi suasana pantai itu begitu dingin dengan angina yang sejuk. Ini SEMPURNA. Lo harepin apa lagi? Pantai sepi, pasir yang putih, ombak yang bergulung, dan udara dan air yang dingin. Gue selalu ngerasa ombak itu menghibur kegalauan hati gue. Gue jatuh cinta lagi sama laut.

Teman2 seperjalanan juga membaur dengan asik. Walaupun ada Bayu, Bohay, dan Fini, yang merupakan orang baru, karena selalu bersama2, hanya dalam 4 hari kita seperti sudah berteman lama. Semangat para backpackers tetap kita embank bersama, seperti ketika mengejar gudeg “perjuangan” Yu Djum yang spektakuler. Gue akan ceritain nanti.

Tapi ya itu, kadang gue benci dibanding2in sama adek gue. But sometimes people cant help to compare you with your brothers/sisters right? Berusaha sabar agar tidak merusak suasana ini.

Huff… hati gue tetep sesak tapi. Gapapa. Gapapa. Ayo, bintang, saatnya pergi. Bromo sudah menunggu. Everything that has a beginning, has an end. I just didn’t expect this would be the end.

Ryan Adams nyanyi di telinga gue “it’s a little too late for goodbye, so ‘good morning’, and open your eyes”

Sayonara…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.