Selepas makan siang, saya baru akan mulai berjalan-jalan ringan saja di sekitar KL. Dengan waktu yang tersisa hanya 2 hari, saya tidak akan memaksakan diri berkeliling melihat semua yang ada di dalam guide book saya. Apalagi besok saya juga akan berkunjung ke Melaka. Jadi bisa jadi hanya hari inilah saya melihat-lihat KL.
KL Is A Backpacker’s Headquarter
Satu hal yang paling membuat saya terkagum-kagum miris adalah bagaimana transportasi yang sudah sedemikian rapi di sini. Dari kereta modern, ke kereta dengan stasiun kuno, sampai ke bis pun sudah sedemikian terintegrasi. Turun dari sebuah moda transportasi, kita tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan moda transportasi berikutnya. Stasiun kereta KL Sentral saja sistemnya sudah semodern bandara. Dan orang-orang semua mengantri dengan tertib.

LRT Station in Kuala Lumpur
Hal lain lagi adalah tidak banyaknya pengendara motor seperti di Indonesia. Mobil pun masih bisa dibilang normal saja. Rasanya kendaraan pribadi bukan kebutuhan pokok di Malaysia. Buat apa bayar mahal cicilan mobil, biaya perawatan mobil, dan bensin (ingat, bensin premium di Indonesia adalah yang termurah! Di Malaysia yang paling murah sekitar 9000an, Kamboja dan Vietnam pun sama. Dan masyarakat kita masih mengamuk karena premium mau naik jadi sekitar 6000) kalau kita bisa beli kartu langganan naik kendaraan umum yang nyaman tanpa perlu repot? Di Indonesia, kita “dipaksa” untuk membeli kendaraan sendiri kalau tidak mau repot naik kendaraan umum yang sangat tidak terintegrasi dan tidak nyaman dan aman itu. Jadi agak geram bahwa para pejabat itu sampai jauh-jauh studi banding (busway itu dari adaptasi Kolombia kalau tidak salah) bila negara tetangga macam Singapura, Malaysia, dan Thailand saja jauh lebih baik daripada kita.
Tidak heran bila KL sering disebut sebagai markas besar para backpacker yang ingin menjelajahi Asia Tenggara. Para backpacker dari negara-negara Eropa sampai Amerika sebagaian besar akan mendarat terlebih dahulu di KL, untuk kemudian memulai perjalanan mereka dari sini. Dari Malaysia semua jelas. Mau ke Singapura, Thailand, Vietnam, Indonesia, sampai Myanmar pun bisa! Tinggal pilih mau naik apa. Pesawat murah? Bis? Kereta?
Turis-turis Asia Tenggara yang ingin naik pesawat murah ke Eropa dan negara Asia Pasifik pun transit lebih dulu di KL. Tidak heran di KL kita bisa menemukan bule-bule di hampir semua tempat, lalu melihat orang Jepang sekamar dengan kita di dorm, dan orang Cina sedang berjalan-jalan di kota. Bayangkan devisa negara yang masuk dari industri pariwisata saja.

Kesturi Walk. Gedung berwarna biru di sebelah kiri adalah Central Market, pusat oleh-oleh
Tapi tiap negara ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Satu hal yang saya lihat di Malaysia agak berbeda dengan Indonesia adalah bahwa tiga suku yang ada di sana India, Melayu, dan Cina, sepertinya memegang tradisinya sedikit terlalu teguh. Orang Melayu akan berbahasa melayu, sedangkan yang India dan Cina, berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri. Hampir di semua tempat seperti ini. Bedakan dengan di Indonesia yang dari Sumatera sampai Papua, paling tidak sebagian besar masyarakat paham dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dengan baik. Kabarnya sekolah mereka pun tidak sama. Masing-masing punya sekolah untuk suku mereka sendiri.
Okelah, kembali ke lokasi-lokasi yang saya kunjungi di KL.
Dimulai dari Mesjid Jamek yang berdiri sejak 1909 dan dikatakan mempunyai tipe arsitektur moorish. Dari situ, diselingi dengan makan roti canay telur dan kopi susu lembu, kami (saya dan Dewi, kali ini) berjalan dalam gerimis menuju ke Merdeka Square dan melihat arsitektur moorish lainnya di gedung Sultan Abdul Samad.

Mesjid Jamek

Sultan Abdul Samad Building
Sorenya barulah saya dan Dewi ke tempat yang belakangan menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Malaysia: The Petronas Tower.

Petronas Tower
Saya baru tahu ternyata Petronas Tower ini di dalamnya juga terdapat mall dan beberapa ruangan besar lain yang salah satunya dipakai oleh Malaysia Philamornic Orchestra. Yah, jujur saja, saya tidak pernah terkagum-kagum bila masuk mall besar dan modern. Malah, saya bisa berjalan berjam-jam dibawah terik matahari, tapi begitu masuk mall, rasanya saya lemas dan malas berjalan. Hahaha.

Di Dalam Petronas
Kami menunggu, sambil makan, sampai malam ketika lampu Petronas Tower ini dinyalakan. Sepertinya banyak juga yang menunggu momen ini. Dapat dilihat dari banyaknya orang di taman depan gedung ini yang siap berfoto dan berpose dengan berbagai gaya.
Hari itu selesai di situ. Besok kami masih harus bangun pagi untuk berjalan-jalan di Melaka. Walaupun tentu saja, saya masih terjaga di bar reggae sekitar hostel saya untuk menonton bola. Well, sayangnya Liverpool harus kalah 2-1 dari Arsenal malam itu.
Melaka

Stasiun Kereta

Terminal Bus di BTS
Esoknya dari stasiun kereta KL, saya naik kereta ke BTS, lokasi terminal bis yang menurut saya hampir sama modern-nya seperti terminal 3 Soekarno Hatta. Dari situ, diperlukan 2 jam lagi untuk sampai di Melaka. Kota tua yang disebut-sebut kental dengan arsitektur Cina dan Portugis.

Christ Church - Melaka

Hiasan Naga Raksasa
Objek turisme Melaka sendiri ternyata kecil saja dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki seharian. Wilayah kota lainnya sudah sama seperti kota-kota sekarang.
Menurut sayapun wilayah turismenya memang sudah terlalu ramai dan tidak lagi original. Beberapa jam saya rasa cukup untuk melihat-lihat A Famosa, Stadhuys, Christ Church, serta berjalan-jalan sedikit di sekitar sana.
The Unfortunate Event
Senin itu saya harus kembali ke Jakarta. Sayangnya, justru hal paling tidak menyenangkan selama perjalanan saya terjadi di hari terakhir ini.
Ceritanya, sejak pagi saya sudah mobile check in untuk penerbangan saya jam 13:40. Karena tidak membawa bagasi saya tenang-tenang saja. Saya sampai di LCCT pukul 12 lebih dan menyempatkan diri makan siang dulu.
Jam sudah menunjukkan jam 1 kurang ketika saya ke mesin pencetak boarding pass Air Asia. Setelah mesin menscan barcode di handphone saya, dia pun mencetak boarding pass, yang saya bawa dengan tenang ke petugas. Masalah dimulai di sini. Ternyata boarding pass yang tercetak bukan atas nama saya, dan dengan tujuan Langkawi bukan Jakarta.
Saya mulai panik. Sudah pukul 13:10, atau waktu boarding jika pesawat tepat waktu. Saya disuruh petugas ke counter check in AA, yang ternyata sudah tutup dan harus berlari lagi ke counter AA yang lebih besar. Petugas India di counter itu memarah-marahi saya bahwa ini semua kesalahan saya yang datang terlalu mepet dan tidak mencek ulang boarding pass yang dicetak. Dia meminta saya membeli tiket baru saja karena pesawat sudah boarding katanya. Brengsek! Saya berkeras untuk minta boarding pass saya di print. Akhirnya setelah berdebat dia mencetak ulang boarding pass saya.
Saya berlari lagi dari ujung ke ujung. Sialnya, saya sampai terjatuh cukup keras. Lutut kiri saya kadang masih nyeri hingga hari ini. Lolos pemeriksaan, saya masih harus antri di imigrasi. Keringat membasahi wajah dan baju saya. Nafas saya tersengal-sengal. Antrian itu tidak terlalu panjang. Hanya 3 orang. Tapi waktu sudah menunjukkan 13:30. Saya tidak punya waktu lebih lama.
Saat itulah, sepasang bule paruh baya memanggil saya, dan meminta saya langsung antre di depan mereka! Mereka sudah berada di barisan paling depan, jadi saya bisa langsung ke petugas imigrasi. Have I said that people are genuinely kind, if you travel enough to find them?
Ketika sampai di ruang tunggu, ternyata pesawat saya belum boarding. Alhamdulillah. Tidak sampai 5 menit kemudian, panggilan untuk boarding terdengar di ruang tunggu.
Saya jadi pulang ke Jakarta.

Hasta mañana, KL!
PS:
Yes, yes, I know that my photos ini this post are a bit “different”. Actually it was my first try to use my iPhone as a photography tool. And I used fish eye lense for my iPhone too. Seperti dengan pacar baru, sepertinya masih perlu banyak penyesuaian ekspektasi dan saling memahami. Hahaha.
mgkn klo jmlh penduduk jakarta ga banyak bgt,jakarta mgkn bs kayak KL ya?
Kayak kata bokap gw, buat apa punya mobil di jkt,udah terlalu banyak. Tp klo angkutan umum nya bnr2 ga nyaman n ga aman, mmg sprtinya dipaksa u/ pny kendaraan sndiri dgn rsk ikut menyumbang kemacetan di jakarta.
Btw, gw jd agak penasaran dg cerita lu yg terakhir tang, jd ikut bayangin pas lu panik. Hehe :p
bukan masalah berapa banyak penduduknya menurut gue la, tapi emang pemerintahnya ga peduli sama kita. jadi mereka ga mau bikinin kita angkutan umum yang bagus, mereka cuma nyuruh kita beli mobil/motor sendiri biar mereka ga repot. sedih ya, hehe.
haduh beneran itu panik la, haha. ngeri ditinggal pesawat dan disuruh beli tiket non promo!! haha!
huhu.. pemerintah nya ga peduli sama transportasi publik. LOL. Masalahnya cukup pelik kayanya tang, dari masalah dana, lobi2 pembuat mobil-motor, dan yang paling penting emang political will sih.
gw kemaren ngalamin kaya lo di NY, last minute boarding, bukan gara2 boarding pass tapi gara2 bawa oleh2 snowglobe di backpack. Dari memohon nyelak antrian d security check, lari2 ke gate, sampe akhirnya safely arrived di pintu pesawat yang langsung ditutup pas abis gw naek. Haha…
Eniwei, unfortunate event makes a good story
iya dit. emang ga ada kemauan sih buat bener kayaknya, hehe. buset, serem amat itu elo dit. pas mau kemana?
Dari new york balik ke atlanta tang, untungnya cuma domestic flight, jadi ga ada imigrasi2an cuma security check doang.