[The Untold Story Series]: The Road Less Traveled to Labuan Bajo

Matahari masih berada di atas ketika kami tiba di terminal bis kota Mataram. Keadaan saat itu tidak begitu ramai, mungkin karena sudah siang. Hanya ada beberapa bis antarkota yang sedang menunggu jam berangkat. Salah satunya mungkin adalah bis yang akan mengantar kami ke Bima. “The journey has just started,” saya pikir.

Alhamdulillah tidak banyak kesulitan untuk membeli tiket di terminal ini. Tidak ada calo-calo yang menghampiri dan penipu-penipu yang mencoba mengambil keuntungan dari kebingungan kami. Harga bis AC saat itu sekitar Rp. 150 ribu, saya lupa tepatnya. “Bis-nya masih lama,” kata pak penjual tiket itu. Kami pun memutuskan untuk makan.

Sayangnya tidak banyak yang terihat cukup bersih untuk dimakan. Standar kami tidak tinggi, tapi anda bayangkan sekarang terminal bis antarkota di kota selain Jakarta, dekat pasar, dan tidak ramai. Ya, ada beberapa warung di terminal itu, dan kami pilih satu. Dalam perjalanan seperti ini, apalagi baru setengah jalan, we couldn’t afford to be sick. Even the majority of us here were a legitimate medical doctor from a respectable university (well, yeah, we’re pretty narcistic), makanan basi dan kotor tetap akan membuat perjalanan ini berantakan. So we said, Bismillah.

Sore itu bis kami tiba dan tidak lama kemudian kami sudah berada dalam perjalanan menuju Bima, yang langsung dilanjutkan menuju Sape. Roughly 24 hours ride to Sape!

Screen Shot 2012 01 11 at 9 21 06 AM

Mataram - Bima - Sape - Labuan Bajo

—–

Saya terbangun ketika langit sudah gelap. Seluruh penumpang diminta keluar. Ternyata bis sudah sampai di Labuhan Lombok akan menyebrangi Selat Alas untuk mencapai pulau Sumbawa. Ditemani bunyi ombak dan angin malam yang menembus jaket saya, suara Ade Paloh terdengar di iPod saya.

“Semua sudah terasa indah / dan ber-holiday / tak pernah usai /
Segala tua muda / merasa pudar / apakah sudah terjalan / merasuki usia / menghantui, menyakiti, tapi /
ku tak mudah merasa punah dan ber-holiday / denganmu / bersatu / mengupas suram / dan nasibku berlalu / inikah nikmat-Nya?”

Saya mulai gelisah. Mobil angkot menuju Sape ini tidak berangkat juga. Padahal hari mulai siang dan kapal ferry menuju Labuan Bajo akan berangkan siang ini. Bima menuju Sape bukanlah perjalanan yang singkat!

Saya lihat di sekitar. Seperti terminal yang belum jadi. Ada beberapa warung juga. Abol terlihat meminum kopi pesanannya. Eci memesan teh. Teman-teman yang lain juga masih duduk-duduk di warung itu. Seseorang memesan pop mie untuk sarapan. Yah, mungkin tidak ada salahnya juga bersantai ya! Stres memang bagian dari perjalanan tipe backpacking seperti ini.

Angkot yang ditunggu ini baru berangkat beberapa jam kemudian. Beberapa artikel di internet dan Lonely Planet tidak menyarankan memang perjalanan lintas NTB via darat. Kondisi transportasi yang tidak aman dan nyaman, begitu penjelasan mereka. Saya baru mengerti setelah naik angkot ini.

P8146418

iPod adalah salah satu perangkat penting dalam backpacking

P8146417

What's on the news today?

Angkot ini lebih besar dari mobil kijang, seukuran mobil travel tapi dengan bangku kopaja. There, u can imagine that? Jarak antar bangku amat sempit. Ditambah lagi dengan penumpang yang melebihi kapasitas dan perjalanan yang menempuh waktu beberapa jam melewati jalan berkelak-kelok.

Kelelahan mulai tampak dari wajah-wajah kami saat itu. Mungkin terpikir juga kata-kata “this is a mistake!”.

—–

“WHAT THE FUCK?!” teriak saya ketika mengetahui bahwa kapal ferri yang seharusnya berlayar dari Sape ke Labuan Bajo siang itu tidak berlayar karena sudah beberapa hari rusak. This summed up on whats wrong on Indonesia transportation policy, hence travel policy.

“BASTARDS!” teriak saya lagi ketika mengetahui calo-calo di sana menawarkan sebuah cara baru untuk ke Labuan Bajo, yaitu naik kapal motor mereka dengan biaya yang fantastis!! 150 ribu untuk warga lokal dan 300 ribu untuk orang asing. Saya lihat cukup banyak orang yang akan ke Labuan Bajo hari itu, dan tidak sedikit dari mereka adalah turis asing. Bayangkan keuntungan yang mereka dapat!

Ada beberapa pertimbangan sulit di sini. Kapal motor ini adalah jenis kapal motor yang sama dengan yang kami pakai di Gili, bedanya ini adalah perairan laut Flores, 7 jam perjalanan, dan hari sudah jam 12. Artinya kami akan melewatkan malam di laut. Keamanan sangat tidak terjamin.

Pilihan kedua, tinggal di Sape, menunggu kapal ferri selesai diperbaiki. Ini jauh lebih aman, tetapi risikonya kami terlambat dari jadwal yang sudah mepet. Harganya bisa sangat mahal: kehilangan kesempatan ke Kelimutu.

Sambil berpikir kami makan di pelabuhan itu. Standar makanan dan kebersihan kami sudah cukup rendah sekarang. Di tambah dengan lapar dan kelelahan, tidak ada pilihan menunggu KFC dibangun di sini.

Di sini kami berkenalan dengan Stefano, pria asal Italia yang baru saja keluar dari pekerjaannya di Australia. Sudah 2 minggu dia Indonesia sebelum nantinya kembali ke Milan, kota asalnya. Stefano betul-betul kesal dengan keadaan ini. Sudah jauh-jauh dia datang sampai Sape. Ditambah lagi dengan harga yang didiskriminasi antara orang lokal dan asing.

IMG 0565

Akhirnya Stefano berhasil juga menyebrang ke Labuan Bajo

“I think I’ll just go back,” katanya pada saya. Dia berkeras tidak mau diperas oleh para calo kapal ini. Sikap Stefano baru melunak ketika kami menawarkan membayarkan setengah dari biaya tersebut (yes, we had decided to go) dan bahkan melakukan negosiasi ulang dengan calo kapal untuk Stefano sehingga dia hanya membayar 200 ribu saja. Rasanya tidak tega juga membiarkannya untuk pulang kembali ke Italia tanpa berkunjung ke Komodo.

—–

Calo-calo kapal berbadan besar dan gelap itu memanggil orang-orang untuk berkumpul di tepi pelabuhan. “Cepat, sudah mau berangkat!” begitu teriak mereka.

Kapal kayu ini hanya sedikit lebih besar dari kapal kayu di Gili. Puluhan penumpang masuk satu per satu, sebagian besar membawa tas ransel besar seperti kami. Saya khawatir kapal ini kelebihan muatan!

Mata saya melihat sekeliling mencari sesuatu yang bisa mengambang bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pelampung, kayu besar, ban karet atau apalah! Tidak ada! Abol ternyata juga berpikiran sama, matanya melihat dengan seksama. Nihil.

IMG 0531

Sedikit mirip camp pengungsian memang

Kapal terombang-ambing ombak Selat Sape yang besar. Tidak ada toilet. Kami hanya bisa duduk sambil sesekali tertidur karena lelah. Was this the vacation that we were craving for?

IMG 0546

Tidak bisa bediri, sulit untuk berbaring. Toilet? Ke laut aja

Matahari sudah beberapa saat terbenam ketika tetesan air itu terasa di badan kami. Hujan mulai turun. Di ujung sana sudah terlihat kelap kelip lampu kta Labuan Bajo, tapi dari kecilnya sinar yang terlihat, mungkin masih sekitar 1 jam lagi.

P8146449

Melihat sunset

Hujan turun semakin deras. Terjangan ombak semakin tinggi dan angin malam menerpa pakaian kami yang basah. Kedinginan dan ketakutan. Suasana cukup mencekam. Awak kapal pun terlhat sibuk mengendalikan keadaan.

IMG 0551

Sesaar sebelum hujan

Saya menutup diri dengan jaket, menggigil karena dingin. Eci dan Laras, terlihat berdekapan dalam diam. Tidak ada yang banyak berbicara. Semua mempersiapkan diri bila tiba-tiba saja kapal terbalik. Berita terbaliknya kapal di perairan sekitar sini bukanlah berita yang jarang terjadi.

30 menit kemudian hujan mulai reda, dan Labuan Bajo sudah di depan mata. Suara-suara kelegaan terdengar dari para penumpang. Setidaknya kita masih hidup satu hari lagi!

Bertanda , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 124 pengikut lainnya.