Ini adalah bagian dari cerita perjalanan saya ke Flores tahun 2009 yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Saya tulis ini agar memori itu tidak hilang begitu saja, sekaligus mungkin sebagai motivasi yang membaca untuk melakukan perjalanan yang sama. Tulisan saya tentang Flores cukup banyak dibaca dan banyak juga yang bertanya tentang itu. Namun seperti ada sebuah jinx, mereka yang bertanya tidak pernah jadi pergi. Mungkin saya perlu bercerita bagaimana perjalanan ke Flores itu adalah pengalaman terbaik saya sampai saat ini.
————————————————————————————————————————————————–
Hari sudah sore ketika kami sampai ke pelabuhan Bangsal di Lombok. Ini adalah pelabuhan bagi mereka yang ingin berpergian ke Gili. Ada 3 kapal terakhir sore itu untuk 3 tujuan yang berbeda: Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Tujuan kami hari ini adalah: Gili Trawangan.
“Sepuluh ribu rupiah,” kata penjual tiket di loket. Kami membeli 8 tiket.
Kapal kayu itu dipenuhi oleh sekitar 20-30 orang dengan berbagai keperluan. Sebagian adalah pelancong seperti kami, sebagian lagi adalah penduduk Gili yang pulang dari berbagai keperluan.
Di kapal itu kami tidak banyak bicara. Selain karena lokasi duduk yang terpencar, rasa lelah setelah seharian di jalan, serta bunyi deburan ombak yang bercampur dengan bising motor listrik di belakang kapal.

Kapal motor ini disesaki oleh 20-30 orang dengan berbagai barang bawaan mereka
30 menit kemudian, kami merapat di Gili Trawangan.
Ini kali kedua untuk saya dan Bayu, adik saya. Kali pertama hanya kami habiskan dengan diving dan tidak sempat menginap seharipun di Gili.

Merapat di Gili dan langsung takjub (lagi) dengan air yang sebening kristal
Hari mulai gelap ketika kami berhenti sejenak di sebuah mesjid tidak jauh dari pantai. Beberapa penginapan yang kami datangi selalu mengatakan tidak ada kamar kosong. Pada akhirnya kami tahu, bahwa para pemilik penginapan sengaja tidak menerima kami karena lebih ingin penginapannya ditinggali oleh orang asing. Kami membagi tim menjadi tiga. Dua tim pencari penginapan, dan satu tim menunggu barang bawaan kami yang kami tinggal di hotel.
Saya dan Reyhan satu tim. Sedangkan Bayu, Abol, dan Mike di tim lain. Para wanita tinggal di mesjid untuk menjaga barang. Harga penginapan sudah menjadi ridiculously expensive. Hampir semua tempat penuh. Tempat yang masih ada mematok harga berkali lipat budget kami. Sebuah kamar kotor 3mx3m dengan kipas angin ditawarkan seharga Rp. 800 ribu per hari kepada kami.
Setelah gelap baru kami mendapat sebuah tempat tinggal. Sebuah keluarga yang rumahnya lumayan jauh dari pantai mempersilahkan kami tinggal dengan Rp. 150 ribu per hari. Gili Trawangan sudah gelap gulita saat kami berkumpul lagi di mesjid. Listrik selalu mati saat malam, kecuali di penginapan-penginapan mewah. Berbekal lampu senter kami menelusuri gelapnya pedalaman Gili Trawangan.
Bermenit-menit kami berjalan sebelum saya dan Reyhan curiga kami tersesat. Bayu, Abol, dan Mike yang menemukan rumah itu berjalan paling depan dengan yakin. “Gak mungkin tersesat!” kata mereka.
Ada yang aneh ketika kami menerobos semak-semak dan timbul di sebuah kebun kelapa. Its getting fucking spooky! Penerangan dari bulan yang remang-remang membuat bayangan barisan pohon kelapa menjadi semakin membuat hati tidak enak.

Pak Haji butuh uang tambahan karena rumahnya sedang direnovasi untuk penginapan, oleh karena itu beliau memberikan diskon untuk tinggal di rumah yang sedang direnovasi itu
Kami mencoba menembus kebun kelapa tersebut, tapi seperti tidak menemukan jalan keluar. Di sini, para penunjuk jalan mulai diliputi keraguan. Laras, Eci, dan Riri mulai merasa takut. Reyhan merasa kami cuma berputar-putar saja, tidak menuju kemana-mana.

Kami bersantai di saung depan rumah, minum teh dan makan biskuit sambil menunggu maghrib
Tiba-tiba rombongan berhenti mendadak. Saya dan Reyhan berdiri paling belakang jadi tidak melihat apapun. Ada kesan ketakutan yang membuat teman-teman saya di depan berhenti tidak bisa bergerak. Sebuah efek yang dalam otak saya bisa ditimbulkan oleh bertemu setan. Masuk akal bukan, kami terputar-putar di kebun kelapa, di sebuah lokasi yang kami tidak kenal!
Bayu mendadak sudah berada di paling belakang. Anak ini mau lari duluan rupanya! Ada apa di depan? Mengantisipasi yang terburuk, saya siapkan pisau lipat dari kantung celana dan maju ke depan.
And there, I was experiencing one of the most terifiying scene I’ve ever scene. Di depan saya, sebuah siluet makhluk berkaki empat sebesar kuda bangkit dari duduknya, matanya biru terang. Kami tidak bisa memastikan hewan atau makhluk apakah itu.
Untuk beberapa saat saya hanya terdiam tidak bisa bergerak. Lalu perlahan kami mundur sambil tetap melihat makhluk itu yang terlihat mewaspadai gerakan kami. Salah langkah sedikit, dan dia akan menyerang. Mungkin. Tapi tidak, karena akhirnya kami berhasil melarikan diri dan setelah berputar-putar lagi di perkampungan penduduk, kami menemukan rumah yang dicari itu.
Sampai sekarang kami masih berdebat tentang makhluk itu. Kuda kah? Apakah mata kuda bersinar dalam gelap? Anjing kah? Sebesar kuda? Jangan-jangan serigala? Ah masa!
True Story!

no, its not a pre wed photograph, hehe

Saatnya kembali ke Pelabuhan Bangsal

Kapal perlahan meninggalkan Gili Trawangan

Saatnya menuju Labuan Bajo!