polaroid hitam putih

Agosto 4, 2009

Farewell Notes

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 12:54 pm

Tulisan ini saya buat jauh setelah blog post saya yang terakhir (saya selalu kesulitan menghadapi kontinuitas), tapi hanya beberapa hari sebelum saya berangkat. Jadi bisa saja dianggap sebagai farewell notes untuk semua yang ditinggalkan. Lagipula, rasanya sulit membayangkan akan menjalani hal seperti ini lagi di masa depan (yang rasa2nya sudah seperti menunggu besok pagi).

Perjalanan saya kali ini menghabiskan hampir 2 kali perjalanan termahal yang pernah saya jalani. Hampir 4 juta rupiah harus saya keluarkan untuk ini. Menempuh hampir separuh lebar Indonesia. Menjalani ketiga mode transportasi (darat, udara, dan laut). I like to think that every adventure is a spiritual. And, the longer road you walk, the purest you become. Okay, i’m being melancholic now.

Backpackers buat saya adalah ideologi, sebuah edukasi, dan kadang menjadi seperti anti-turis. Menurut wikipedia:

“backpackers constituted a heterogeneous group with respect to the diversity of rationales and meanings attached to their travel experiences. …They also displayed a common commitment to a non-institutionalised form of travel, which was central to their self-identification as backpackers”

And yeah i’m addicted to it. Saya rela menghabiskan uang itu demi sebuah perjalanan yang banyak orang akan berpikir dua kali untuk melakukannya, daripada membelikannya sebuah Blackberry – misalnya. We’re buying experience, not buying things. Saya rasa beberapa orang menghabiskan lebih banyak untuk sekedar beberapa hari di Singapura atau Bali.

Beberapa orang dalam perjalanan ini adalah orang-orang dan sahabat-sahabat terdekat saya. Adik saya, yang bekerja keras menyelesaikan tugas akhirnya untuk dapat ikut. Mike dan Abol, yang selalu percaya kemana saja saya pergi, dari Bandung, hingga puncak Bromo dan Gede, dan pantai-pantai tersembunyi di Jogjakarta. Dan Laras, yang setelah sekian lama, akhirnya menjadi partners in crime dalam menyusun itinerary yang melelahkan. Traveler without observation, is like bird without wings – so they said. Anggap saja ini juga merupakan farewell notes kepada kalian. Rasanya tidak mudah mengadakan reuni lengkap untuk ke –sebutlah- Halong Bay misalnya. You’ve all been the closest human being to me. And all that dusty roads we’ve walked on, its priceless. I can run out of money (or time) anytime soon, but i’ll never run out of stories to tell – all the beautiful sceneries and experience we’ve seen and had, traveling makes you speechless then turns you into a story teller.

So this is it. After months of waiting and dreaming, let us celebrate. For the shake of friendship.

Aún no hay comentarios »

Aún no hay comentarios.

Canal RSS de los comentarios de la entrada. URI para TrackBack.

Deja un comentario

Blog de WordPress.com.