polaroid hitam putih

Agosto 21, 2009

The Best Night of My Life

Archivado en: romanticismo — Bintang Pramodana @ 6:17 am

The Chopin’s Nocturne has been playing for a few times as i lied down on the ship’s rooftop when she jumped in cautiously and sat beside me. I moved a little to give her more space. The ship was struglling to be stable. The sea was nothing but a darkest of your view; calm but as deadly as always, especially if you fell from a ship’s rooftop and you couldn’t swim. She couldn’t. The night wasn’t so windy to call it a perfect night.

“I’m affraid,” she said.

“don’t be”

“it is wet here”

I lied again and yes the rooftop was wet. It was because of the dew. I asked her to lied down too but she hesitated. She looked up to the brilliant sky with the brightest stars we’ve ever seen in our whole life. I noticed that she liked the stars much, because at first she was uncomfortable about living in a ship – being nauseaus all the time plus the fact that she really couldn’t swin if something happened, but then she could sat on the front of the ship for hours looking at the stars blinking at her while moving her feet continuously which made her like a child (i loved it when she did this). And here she was, on the rooftop.

“you’ll hurt your neck if you stay like that, beside the view is better if you lie down,” i continued, “just lie here, and think of nothing”

She finally agreed and lied down beside me. The Southern Cross was in our feet’s direction. I had turned my iPod down since she got here. I turned it on again. I didn’t like sharing my earphone with someone,because for me, you must hear the music with your both ears. But this time, i offered the right side for her.

“try it. Nothing better than watching the stars and listen to this. It is one of only 2 of my favorite songs”

Some people said that Chopin’s Nocturne opus 9 no 2 was quite easy to be played, but the hardest part which only few could did it was to make it sounds like the night. And the one in my iPod was maybe the best Nocturne i’ve ever heard. So melancholic. And i never felt bored.

“look those 3 stars,” i said. “the one in the middle is red”

“yes..”

“and the other 5 which made the C shape..”

“…”

“Stefano said it was Scorpion”

“ah..”

And suddenly i saw a falling star. I screamed. I never saw one. Ever. And then another one. And the she saw one too, and then another and another. We cought a lot of falling stars that night as we spoke in silence, just like what nature did to us but we never listened.

And somehow, a lyric came suddenly. A woman sang this very beautifully.

Quiet nights of quiet stars, quiet chords from my guitar. Floating on the silence that surounds us. Quiet songs and quiet dreams. Quiet walk by quiet street. And the window that looks out on Corcovado, oh how lovely.

This is where to be. Here with you so close to me. Till the final flicker of life embers. I, who was lost and lonely, believing that life was only a bitter tragic joke i found with you. A meaning of existence, my love.

Definetly the best night of my life.

Agosto 6, 2009

English Angle: Will Premier League’s Big Four Survive This Season?

Archivado en: sportivo — Bintang Pramodana @ 12:37 am

Musim ini merupakan salah satu musim tranfer tergila selama saya mengikuti sepak bola Eropa. Bukannya saya percaya bahwa tidak akan ada orang bodoh yang membeli pemain lebih mahal dari Zidane, tapi karena transfer Zidane dipecahkan oleh 2 orang sekaligus dalam 1 musim (kalau bukan 3), dan oleh 1 tim! The Disneyfication of Real Madrid, so they say, untuk menyebut perkumpulan pria2 berkemampuan luar biasa dalam 1 tim itu.

Masalahnya Real Madrid melakukan itu dengan memperkosa tim-tim lain, bukan, liga-liga lain. Madrid merampok AC Milan dan Liga Italia salah satu pemain terbaiknya dan mantan-calon-kapten-Milan Kaka. Harga Zidane sudah pecah. Tidak puas, Madrid merampok MU dan Liga Inggris pemain terbaik dunia-nya, Ronaldo. Rekor Kaka pecah. Masih kurang, Perez mencuri lagi intan dari Lyon dan Liga Perancis, seorang Benzema dengan harga yang juga tidak murah. Terakhir, mereka merebut one of the best of rare-kind-deep-lying-playmaker, Xabi Alonso, dari Liverpool dan Liga Inggris. Itu baru Madrid. Jangan lupa bahwa Barcelona membeli talenta terbaik juara Italia Inter Milan, Ibrahimovic dengan harga 40 juta euro plus Etoo! Karena Etoo juga adalah pencetak gol terbanyak Barca, maka harganya diperkirakan tidak kurang dari 30 juta euro. Maka, rekor Zidane pecah 3 kali tahun ini seakan2 itu tidak ada apa2nya.

Ada sesuatu yang saya lihat tidak adil disini. Tahun lalu, media mencaci maki habis Sheikh Mansour dan Man City karena berusaha menawar pemain2 kelas dunia dengan harga2 yang tidak masuk akal (tapi tahun ini jadi terlihat biasa saja!). namun, ketika Madrid yang melakukannya, kita semua seperti maklum. Satu dua memang mencibir, tapi tidak seperti tahun lalu. Terlihatnya seperti ini: Bila Man City yang melakukan itu, mereka sedang berusaha membeli sejarah dan kesuksesan. Kalau Madrid yang melakukan, ah itu wajar, mereka tim besar, juara Champions 9 kali, tentu saja mereka ingin juara lagi.

Tapi saya tidak 100% menyalahkan. Manajemen Man City adalah orang2 tolol yang kerjanya Cuma menumpuk penyerang! Ayo kita urut: Robinho, Benjani, Bojinov, Bellamy, Santa Cruz, Tevez, dan Adebayor. Nah, apakah Mark Hughes berpikir dia bisa memainkan 4 penyerang?! Saya kira malah dia hanya akan bermain dengan striker tunggal!!

Lalu, bagaimana para 4 Besar EPL akan bertahan menghadapi musim depan. Sir Alex sudah bilang bahwa tahun ini bukan tahun yang tepat untuk membeli pemain. Jadi bisa dibilang tidak akan ada perubahan besar dalam tim2 itu saat EPL mulai. Man U seperti kehilangan setengah mesin gol-nya karena kehilangan Ronaldo dan Tevez sekaligus. Membeli Owen adalah perjudian besar, tapi dia adalah alternatif yang murah. Liverpool juga kehilangan Xabi Alonso yang bermain fantastis musim lalu sekaligus mengorkestrai lini tengah Liverpool. Apalagi keloyalan Mascherano juga dipertanyakan. Arsenal lebih parah kelihatannya. Kehilangan Adebayor dan Kolo Toure ke City, Arsenal hanya membeli seorang bek, yang namanya saja saya lupa. Berharap pada Jack Wilshere dan Theo Walcott agaknya terlalu berlebihan. Chelsea adalah yang paling stabil. Tidak banyak berubah dan terombang-ambing. Man City, setolol apapun saya menganggapnya, tetap saja bisa mengancam. Belum lagi Aston Villa. Saya pikir Chelsea paling siap untuk musim depan.

Di Liga Champions, saya cukup pesimis melihatnya. Apalagi bila Pelligrini berhasil meracik paduan pemain2 terbaik itu jadi sesuatu yang menakutkan. Kombinasi Alonso-Kaka-Benzema-Ronaldo saya kira cukup mengerikan. Saya juga sampai merinding membayangkan Iniesta-Xavi-Henry-Messi-Ibra. Tampaknya masa kejayaan Liga Inggris ada di ujung tanduk.

Mari kita saksikan bersama musim depan yang gila. Dan buktikan apakah uang benar2 bisa membeli sepak bola?

Agosto 4, 2009

Farewell Notes

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 12:54 pm

Tulisan ini saya buat jauh setelah blog post saya yang terakhir (saya selalu kesulitan menghadapi kontinuitas), tapi hanya beberapa hari sebelum saya berangkat. Jadi bisa saja dianggap sebagai farewell notes untuk semua yang ditinggalkan. Lagipula, rasanya sulit membayangkan akan menjalani hal seperti ini lagi di masa depan (yang rasa2nya sudah seperti menunggu besok pagi).

Perjalanan saya kali ini menghabiskan hampir 2 kali perjalanan termahal yang pernah saya jalani. Hampir 4 juta rupiah harus saya keluarkan untuk ini. Menempuh hampir separuh lebar Indonesia. Menjalani ketiga mode transportasi (darat, udara, dan laut). I like to think that every adventure is a spiritual. And, the longer road you walk, the purest you become. Okay, i’m being melancholic now.

Backpackers buat saya adalah ideologi, sebuah edukasi, dan kadang menjadi seperti anti-turis. Menurut wikipedia:

“backpackers constituted a heterogeneous group with respect to the diversity of rationales and meanings attached to their travel experiences. …They also displayed a common commitment to a non-institutionalised form of travel, which was central to their self-identification as backpackers”

And yeah i’m addicted to it. Saya rela menghabiskan uang itu demi sebuah perjalanan yang banyak orang akan berpikir dua kali untuk melakukannya, daripada membelikannya sebuah Blackberry – misalnya. We’re buying experience, not buying things. Saya rasa beberapa orang menghabiskan lebih banyak untuk sekedar beberapa hari di Singapura atau Bali.

Beberapa orang dalam perjalanan ini adalah orang-orang dan sahabat-sahabat terdekat saya. Adik saya, yang bekerja keras menyelesaikan tugas akhirnya untuk dapat ikut. Mike dan Abol, yang selalu percaya kemana saja saya pergi, dari Bandung, hingga puncak Bromo dan Gede, dan pantai-pantai tersembunyi di Jogjakarta. Dan Laras, yang setelah sekian lama, akhirnya menjadi partners in crime dalam menyusun itinerary yang melelahkan. Traveler without observation, is like bird without wings – so they said. Anggap saja ini juga merupakan farewell notes kepada kalian. Rasanya tidak mudah mengadakan reuni lengkap untuk ke –sebutlah- Halong Bay misalnya. You’ve all been the closest human being to me. And all that dusty roads we’ve walked on, its priceless. I can run out of money (or time) anytime soon, but i’ll never run out of stories to tell – all the beautiful sceneries and experience we’ve seen and had, traveling makes you speechless then turns you into a story teller.

So this is it. After months of waiting and dreaming, let us celebrate. For the shake of friendship.

Blog de WordPress.com.