Perjalanan dari Gunung Putri ke Alun-alun Surya Kencana memakan waktu kurang lebih 7-8 jam. Formasi perjalanan selalu berubah-ubah dikarenakan satu lain hal seperti kelelahan, pengetahuan akan jalan, kenekatan, kesombongan, dll. Haha. Namun saya paling sering menghabiskan waktu berjalan, terutama saat2 terakhir bersama 4 orang: Wega, Mike, Reyhan, dan Zulfa. Ada catatan khusus tentang Wega dan Zulfa yang ingin saya ceritakan. Sebelumnya saya benar2 mengira Wega hanyalah pencinta pria biasa (setelah dikecewakan wanita, haha), tapi ternyata itu hanya superfisial saja. Wega adalah pencinta alam sejak lahir. Ayahnya baru saja mendaki Mahameru bersama adiknya yang ketua Mapala-nya Parahyangan. Wega sudah rafting dari umur 8 tahun. Sedangkan Zulfa adalah alumni UnHas dan TBM-nya disana. Pernah naik gunung 4 kali, dan tidak pernah terlihat terlalu capek. Gila ini cewek.
Figure 1 Reyhan, Michael, Zulfa, dan Wega – Ketika kami beristirahat sejenak
Setelah sesi foto yang menyenangkan di SK, kami mulai membangun tenda. 4 tenda kecil dibangun: 3 untuk pria, 1 wanita. Akhirnya saya belajar juga membangun tenda. Tenda wanita Cuma akan berisi Eci dan Zulfa dan berisiko akan kedinginan malam ini. Makan siang mulai dimasak. Jerry membuat kita semua terselamatkan dari makan nasi keras atau bubur nasi. Menu siang ini dengan mie instan dan sarden. Tidak bisa dibilang enak memang. Tapi mau apa lagi? McD belum lagi buka cabang di SK. Alfamart juga.
Figure 2 Saya, Padang Rumput, dan Edelweis
Sesi tidur siang menjadi acara selanjutnya. Malam gila kemaren membuat jam tidur kami dihabiskan untuk mendaki dan mendaki. Jadilah semua orang pulas siang itu. Sore hari ketika saya bangun, masih sedikit orang yang sadar. Kabut mulau turun dan membuat suasana mulai dingin. Saya mulai ngeri. Kalo jam 3 sore aja dingin kayak gini, gimana jam 3 subuh?!! Sore dihabiskan dengan minum2an hangat dan main kartu UNO. Haha.
Figure 3 Bermain UNO..
Figure 4 Kabut Mulai Turun Padahal Masih Jam 3 Sore
Malam harinya,sehabis makan malam, sekitar pukul 7 lebih, semua orang memutuskan untuk beranjak ke tenda saja. Acara ngobrol2 malam ditiadakan. Alasan utamanya jelas: dingin yang tadi sore bertambah puluhan kali lipat. Langit malam begitu cerah dan begitu indah. Bayangkan mendengar Claire de Lune-nya Debussy saat ini, dan kau tidak akan pernah ingin pergi. Tidak terbayang rasanya melihat ratusan bintang bertebaran di langit malam. Tidak setahun sekali kita bisa melihat ini. Kami berdoa agar hujan tidak turun. Amin.
Tuhan tidak mengabulkan doa itu. Hujan turun pada jam 12 malam hingga pukul 2 pagi. Air merembes membasahi tenda2. Satu hal ini bisa membunuh kita semua dalam diam: hipotermia. Baju yang kering adalah kuncinya. Terima kasih pada teman2 setenda (Abol, Mike, Wega) yang membuat tenda menjadi hangat. Yang dikhawatirkan terjadi, bahwa Eci dan Zulfa kedinginan hingga tidak bisa tidur. Wega berkali2 menawarkan untuk tidur setenda dengan mereka, tapi tampaknya mereka lebih suka mati kedinginan dibanding setenda dengan Wega. Haha.
Figure 5 Teman2 Yang Menghangatkan
Jam 3 pagi. Dingin sangat menggigit dan dalam kapasitas membunuh. Saya tidak bercanda. Kalau saya sendirian malam itu, saya pasti sudah mati hipotermia. Tenda2 mulai dibongkar. Ridho memasak air panas untuk minum dan makan pop mie atau bubur. Sebagian mempacking lagi tas mereka. Pukul 5 semua sudah hampir siap.
Pukul 5.30. Rombongan bergerak maju menuju puncak Gede yang terlihat dari SK. Semburat merah jingga mulai kelihatan sedikit demi sedikit. Kami akan terlambat mengejar sunrise! Sampai di puncak pukul 6 pagi, matahari memang sudah muncul, tapi kami tidak benar2 terlambat. Kata Iwan: “mataharinya kedinginan juga. Telat bangun dia”, haha.
Pagi di puncak Gede sungguh menkjubkan. Bromo mungkin mempunyai pemandangan yang lebih mistis dan menggairahkan, tapi puncak gunung Gede adalah puncak pertama yang saya capai dengan perjuangan setengah hidup. Matahari pagi mana yang sanggup menandingi itu?
Figure 6 Matahari Mana yang Mengalahkan Matahari Pagi yang ini?
Kami pulang melewati jalur Cibodas yang lebih landai tapi menyakitkan telapak kaki. Ya, karena trek disana full dengan batu2. Berjalan santai dan berhenti dibeberapa titik untuk bersantai, kami akhirnya mencapai Cibodas pada pukul 3 sore. Kelaparan dan kelelahan. Pada akhirnya kami mengenal teknologi lagi bernama HP, facebook, dsb. Di gunung, hanya senter, kompor, dan kamera teknologi yang kami kenal.
Pada akhirnya, kami (paling tidak saya) tidak menyesal mengarungi petualangan seru 3 hari ini. Saling mengenal lagi tabiat masing2. Ga ada yang bisa menyembunyikan diri mereka di gunung. Saya memang telah jatuh cinta terhadap laut dan pantai, tapi saya juga membuka diri untuk perselingkuhan dengan gunung. Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa harus ada reuni untuk ini. HARUS.
Figure 7 Tidak ada yang melebihi Indonesia untuk kekayaan alam…!
hai para pendaki salam lestari
comentario por dewi — Octubre 16, 2009 @ 5:38 pm
salam lestari!
comentario por Bintang Pramodana — Octubre 16, 2009 @ 10:27 pm