polaroid hitam putih

Junio 16, 2009

Mengejar Matahari ke Gunung Gede – Part 1 (12-13 Juni 2009)

Archivado en: travel — Etiquetas:, , , , — Bintang Pramodana @ 9:22 am

Awal dari semua ini adalah ketika Michael Mandagi meminjam buku2 saya. Di antara itu semua, terseliplah 1 buku, “5 cm”. Selesai membaca buku ini, Mike mengajak saya ke Semeru. Saya berjanji untuk menemaninya. Sebelum itu, saya mengusulkan trek pembuka, sekalian latian naik gunung, Gunung Gede. Awalnya, kami hanya akan berangkat ber3 (dengan Abol). Untunglah, hanya H-3 dari keberangkatan, pembicaraan saya dengan Reyhan menyelamatkan hidup kami ber3. Reyhan berjanji untuk menemani kami asalkan jadwal perjalanan diundur 1 bulan. Kami setuju. Reyhan mengatur apa yang pada akhirnya menjadi “FKUI 2003 GOES TO GUNUNG GEDE”.

Figure 1 Teman Seperjalanan yang Hampir Melakukan Kebodohan

“kalo ada 250 orang ke Gunung Gede, yang tinggal Cuma 13 orang”, itu kata2 Ridho yang paling berkesan buat saya. Menggambarkan hanya 13 orang yang mewakili FKUI 2003 untuk mendaki puncak Gede. Ini adalah nama-nama luar biasa itu:

  1. Albertus Marcelino (gol A)
  2. Bintang Pramodana (gol A)
  3. Iwan Junianto (gol C)
  4. Jerry E. Putra (gol C)
  5. Michael Mandagi (gol D)
  6. Ridho Ardhi S (gol D)
  7. Resita Sehati (gol D)
  8. Reyhan Edi (gol D)
  9. R. Siddhi Andika (gol D)
  10. Qushay Umar (gol D)
  11. M. Irsyad (gol D)
  12. Septo Sulistio (gol E)
  13. Wega Sukanto (gol E)
  14. Zulfa Eka Sari (adalah alumni TBM UnHas dan adalah wanita yang luar biasa hebat; sudah dibaptis menjadi anggota kehormatan tim FKUI 2003 di puncak Gede)

Dr. Ratna, dekan FKUI, dan dr. Akmal Taher, direktur RSCM, membuat saya gelisah karena acara mereka baru selesai jam 5 sedangkan tim belum lagi berkumpul untuk packing. HokBen pun dipesan untuk makan malam karena tidak sempat lagi untuk makan malam dijalan. Ini akan menjadi pengalaman pertama saya naik gunung. Ada gairah sendiri untuk ini. Walaupun banyak orang yang meminta saya memikirkan ulang perjalanan ini, saya berkeras. Kita akan lebih menyesal bila kita tidak melakukan sesuatu, dibandingkan menyesal telah melakukannya. Percayalah. Si pencinta laut, anak pantai tropis, akan beranjak ke gunung. Pantai yang hangat, Gunung yang dingin membunuh. Saya gelisah dan takut, namun berusaha tidak menunjukkannya dihadapan orang2.

Wita melewatkan jalan2 bareng BFM untuk nonton Star Trek dan menemani saya sampai sebelum saya berangkat. Hal yang cukup menjadi anti-ansietas. Makanan dan barang2 dibagikan agar berat tas seimbang dan sesuai kemampuan. Saya menyesal telah menjadi satu dari yang paling tidak bisa diandalkan. Namun, teman2 cukup suportif dan tidak berkata apa2 tentang itu. Apa lagi yang bisa diharapkan dari teman2?

3 mobil telah siap mengantar kami semua ke Cibodas, sebagai basecamp pertama, sebelum melanjutkan ke basecamp sebenarnya di Gunung Putri karena kami akan naik lewat jalur itu. Jalur yang dikenal berat… Rombongan Mike bertugas mencari minyak tanah, Reyhan mengambil spanduk, dan Ridho menjemput Eci sambil membeli barang2 yang kurang, khususnya makanan.

Jam 11 malam semua tim telah sampai di Cibodas. Persiapan akhir dilakukan, briefing, dan berdoa. Angkot kuning telah menunggu. Kami berangkat ke Gunung Putri dan bercanda tentang betapa gilanya saya dan Mike. Padahal itu hanya sebulan yang lalu, tetapi terasa konyol sekali. Haha.

Figure 2 Di Basecamp Gunung Putri

Pendakian dimulai sekitar pukul 1 pagi dari basecamp Gunung Putri. Target sampai alun-alun Surya Kencana adalah pukul 8-9 pagi. Inilah awal kegilaan itu. Trek2 awal masih dalam batas kewajaran (ataukah karena masih jam2 awal??). saya sempat akan terjatuh namun menahan dengan kaki kanan saya dan menyebabkan straining pada otot quadriceps saya. Irsyad pun terpaksa berkorban dengan berkali2 menyemprotkan kloro etil ke paha saya demi agar saya bisa melanjutkan perjalanan tanpa rasa nyeri.

Figure 3 Frustasi di Gn Putri

Pukul 4 dini hari, kami beristirahat. Beberapa tertidur hanya beralaskan batu dan tanah. Dingin mulai mencekam dan menggila. Saya, yang tidak tahan dingin, menggigil sebisanya. Sakit! Solat Subuh pun dilakukan dengan tayamun dan dengan baju tebal. Ini belum lagi hujan. Kalau hujan, saya tidak bisa membayangkan. Ngeri.

Perjalanan lanjut jam setengah 6 pagi. Dan makin membuat frustasi. Jalan makin terjal dan tidak bersahabat. Trus menanjak dan sedikit sekali bonus jalan landai, jangan harap ada turunan. Awalnya support “ayo, dikit lagi sampai tuh”, “pohonnya udah pendek, berarti udah deket”, atau “puncak udah keliatan tuh”, cukup membuat semangat naik lagi. Tapi berkali-kali kecewa karena itu semua ternyata bohong belaka, hingga akhirnya kalau ada orang yang berteriak seperti itu, ingin rasanya saya melemparnya turun.

Pukul 9 pagi. Apa yang kami tuju hari ini akhirnya terlihat di depan mata… hamparan savana dengan rumput2 pendek berwarna kekuningan dan pohon2 bunga Edelweis yang abadi memanjakan mata. Tukang nasi uduk legendaris sudah siap menawarkan dagangannya. Sensasi ketika melewati pohon terakhir yang menutupi padang ini adalah seperti orgasme panjang setelah sesi sadomasokis yang mengerikan… saya tidak berlebihan.

Figure 4 Penjual Nasi Uduk Legendaris (berbaji biru berdiri) Menawarkan Dagangannya

Figure 5 SEMANGAT!!

-berlanjut ke Part 2-

Aún no hay comentarios »

Aún no hay comentarios.

Canal RSS de los comentarios de la entrada. URI para TrackBack.

Deja un comentario

Blog de WordPress.com.