polaroid hitam putih

Junio 1, 2009

Solar System in My By-The-Sea House, Haha

Archivado en: siempre de vida — Etiquetas:, — Bintang Pramodana @ 11:16 am

Belakangan ini saya mempunyai keinginan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Haha. Kegemaran saya menonton National Geographic, Discovery Channel, dan Discovery Travel and Living [DTL] (tidak ketinggalan majalah NG Traveler yang baru terbit) telah memenuhi otak saya dengan kehidupan yang mencoba berdamai (atau katakanlah meminta maaf atas salah kita pada alam yang mungkin sulit dimaafkan) dengan alam. Gaya hidup begini sering disebut dengan green-living dengan berbagai aspeknya. Yang paling sering saya baca tentu saja green-tourism dengan semboyan legendarisya “take nothing but photographs, and leave nothing but footprints.” Namun saya tidak sedang akan berbicara tentang itu, aspek lain yang sering saya lihat karena ada acaranya di stasiun2 tv tadi adalah green-house.

Selain mempunyai banyak mimpi2 aneh lainnya, saya –tentu saja- juga bermimpi mempunyai rumah sendiri. Namun pengaruh acara2 tv tentang rumah membuat imajinasi saya kadang terlampau liar. The Wow Factor adalah acara favorit saya dulu di DTL, namun tampaknya sudah tidak ada lagi. Acara ini tentang seorang interior designer yang merombak sebuah sisi rumah sesuai dengan konsep pemiliknya, tapi juga menambahkan aspek seni luar biasa dan harga yang (menurut mereka) murah. Lalu ada berbagai acara lain seperti Living ETC yang makin membuat saya mengimajinasikan perabot apa saja yang akan ada di “rumah saya” nanti. Haha.

Satu yang selalu menarik perhatian saya (khususnya pada acara The Green House) namun selalu saya coba abaikan karena saya pikir tidak mungkin hal seperti ini sudah ada di Indonesia, atau kalaupun ada, tidak mungkin murah. Seperti kata Gde Prama, teknologi akan selalu berharga mahal. Yang saya maksud adalah solar panel.

Bayangkan, di Amerika saja mereka bisa memakai sistem PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) ini untuk musim dingin mereka. Masa iya, di negara tropis dengan suhu yang sangat panas pada siang hari ini justru tidak bisa memanfaatkan itu?! Memakai panel solar ini bisa mengurangi ketergantungan kita pada PLN dan pada akhirnya pada pemanfaatan gila2an dari minyak bumi. Ini bisa jadi salah satu wujud permintamaafan kita pada alam. Sekaligus untuk membalas kritikan Ayu Utami dalam Bilangan FU bahwa modernisme ternyata bukan hanya bisa menghancurkan alam.

Kembali masalahnya adalah harga. Brapa harganya pun tidak berani saya bertanya. Tapi sebuah artikel di Jakarta Post menulis: (http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/19/let-the-sun-shine.html)

1. Make a quick list of your home electricity needs, ranging from light bulbs to appliances. One easy shortcut around this is to pull out your last electricity bill and jot down your kilowatt per hour consumption. For the sake of this exercise, let’s say that your electric appliances total 250 watts.

2. Next step. Assuming you want to cover only part of your electricity needs with a solar panel system (hey, we can’t just write off PLN, can we?), how many hours of energy will you need? We’re going to opt for a reasonable 12 hours, which gives us 12 hours x 250 watts = 3,000 watts. Now, because the solar panel installation itself will consume 20 percent of the electricity it generates, we’re going to add 20 percent to our total electricity needs. This brings us to 3,600 watts.

3. We’re going to need batteries to store this wonderful free energy. For 3,600 watts, that will be four batteries of 12 volts each.

4. Now that we know how many watts we must generate each day to keep our teh botol chilled, watch CSI Miami AND light our desk as we pore over our tax return form (3,600 watts), we have also figured out how many solar panels we need. A handy 100 wp (watt peak) panel exposed to five hours of fierce tropical sunlight will provide 500 watts. As we need 3,600 watt, that means we’ll need eight panels. That, or give up on David Caruso and downsize to a more modest seven panels.

5. Now here comes the part where eyes roll back, tongues drop out and people flick over to a more interesting part of the magazine. So solar panel setups are expensive: about US$9–10 for each watt. For eight panels of 100 wp each, this gives us 800 watt x 10, or a rather intimidating US$8,000. Now let me explain why this is still a good idea.

Baca selengkapnya di website itu karena itu sungguh menarik. 80 juta rupiah untuk bumi plus penghematan listrik bertahun2 tampak “tidak” terlalu mahal. Haha. Apalagi kita bisa mencicil untuk itu. Katakanlah 1 panel solar dulu untuk AC dan TV. Lalu beberapa tahun lagi tambahkan untuk kulkas dan mesin cuci. Haha.

Tapi saya belum mengatakan hal baiknya! Di Jakarta Post, mereka bilang bahwa 1 watt harganya sekitar 100.000 rupiah kan? Lalu saya iseng (oh keisengan banget sih) mencari lagi di interet harga konkritnya alat ini di Indonesia. Dan… ternyata 60.000 rupiah per watts! Itu hampirsetengahnya! Dan artinya dengan 50 juta kita bisa memasang 8 solar panel. Hehe. (lihat http://industri.iklanmax.com/2009/05/10/panel-surya-solar-cell-12.html) .

Mimpi saya, punya rumah ditepi pantai. Kecil aja, tapi manis dan nyaman. Ketika jam 5 sore, cukup dengan mengintip dari balik gordin saya bisa melihat matahari yang berwarna merah jingga itu. Matahari yang menyalakan seluruh alat listrik rumah saya 12 jam sebelumnya. Lalu saya berkata:

“Saatnya menyalakan PLN-nya, sayang”

Aún no hay comentarios »

Aún no hay comentarios.

Canal RSS de los comentarios de la entrada. URI para TrackBack.

Deja un comentario

Blog de WordPress.com.