polaroid hitam putih

Junio 16, 2009

Mengejar Matahari Ke Gunung Gede – Part 2 (13-14 Juni 2009)

Archivado en: travel — Etiquetas:, , , , — Bintang Pramodana @ 12:01 pm

Perjalanan dari Gunung Putri ke Alun-alun Surya Kencana memakan waktu kurang lebih 7-8 jam. Formasi perjalanan selalu berubah-ubah dikarenakan satu lain hal seperti kelelahan, pengetahuan akan jalan, kenekatan, kesombongan, dll. Haha. Namun saya paling sering menghabiskan waktu berjalan, terutama saat2 terakhir bersama 4 orang: Wega, Mike, Reyhan, dan Zulfa. Ada catatan khusus tentang Wega dan Zulfa yang ingin saya ceritakan. Sebelumnya saya benar2 mengira Wega hanyalah pencinta pria biasa (setelah dikecewakan wanita, haha), tapi ternyata itu hanya superfisial saja. Wega adalah pencinta alam sejak lahir. Ayahnya baru saja mendaki Mahameru bersama adiknya yang ketua Mapala-nya Parahyangan. Wega sudah rafting dari umur 8 tahun. Sedangkan Zulfa adalah alumni UnHas dan TBM-nya disana. Pernah naik gunung 4 kali, dan tidak pernah terlihat terlalu capek. Gila ini cewek.

Figure 1 Reyhan, Michael, Zulfa, dan Wega – Ketika kami beristirahat sejenak

Setelah sesi foto yang menyenangkan di SK, kami mulai membangun tenda. 4 tenda kecil dibangun: 3 untuk pria, 1 wanita. Akhirnya saya belajar juga membangun tenda. Tenda wanita Cuma akan berisi Eci dan Zulfa dan berisiko akan kedinginan malam ini. Makan siang mulai dimasak. Jerry membuat kita semua terselamatkan dari makan nasi keras atau bubur nasi. Menu siang ini dengan mie instan dan sarden. Tidak bisa dibilang enak memang. Tapi mau apa lagi? McD belum lagi buka cabang di SK. Alfamart juga.

Figure 2 Saya, Padang Rumput, dan Edelweis

Sesi tidur siang menjadi acara selanjutnya. Malam gila kemaren membuat jam tidur kami dihabiskan untuk mendaki dan mendaki. Jadilah semua orang pulas siang itu. Sore hari ketika saya bangun, masih sedikit orang yang sadar. Kabut mulau turun dan membuat suasana mulai dingin. Saya mulai ngeri. Kalo jam 3 sore aja dingin kayak gini, gimana jam 3 subuh?!! Sore dihabiskan dengan minum2an hangat dan main kartu UNO. Haha.

Figure 3 Bermain UNO..

Figure 4 Kabut Mulai Turun Padahal Masih Jam 3 Sore

Malam harinya,sehabis makan malam, sekitar pukul 7 lebih, semua orang memutuskan untuk beranjak ke tenda saja. Acara ngobrol2 malam ditiadakan. Alasan utamanya jelas: dingin yang tadi sore bertambah puluhan kali lipat. Langit malam begitu cerah dan begitu indah. Bayangkan mendengar Claire de Lune-nya Debussy saat ini, dan kau tidak akan pernah ingin pergi. Tidak terbayang rasanya melihat ratusan bintang bertebaran di langit malam. Tidak setahun sekali kita bisa melihat ini. Kami berdoa agar hujan tidak turun. Amin.

Tuhan tidak mengabulkan doa itu. Hujan turun pada jam 12 malam hingga pukul 2 pagi. Air merembes membasahi tenda2. Satu hal ini bisa membunuh kita semua dalam diam: hipotermia. Baju yang kering adalah kuncinya. Terima kasih pada teman2 setenda (Abol, Mike, Wega) yang membuat tenda menjadi hangat. Yang dikhawatirkan terjadi, bahwa Eci dan Zulfa kedinginan hingga tidak bisa tidur. Wega berkali2 menawarkan untuk tidur setenda dengan mereka, tapi tampaknya mereka lebih suka mati kedinginan dibanding setenda dengan Wega. Haha.

Figure 5 Teman2 Yang Menghangatkan

Jam 3 pagi. Dingin sangat menggigit dan dalam kapasitas membunuh. Saya tidak bercanda. Kalau saya sendirian malam itu, saya pasti sudah mati hipotermia. Tenda2 mulai dibongkar. Ridho memasak air panas untuk minum dan makan pop mie atau bubur. Sebagian mempacking lagi tas mereka. Pukul 5 semua sudah hampir siap.

Pukul 5.30. Rombongan bergerak maju menuju puncak Gede yang terlihat dari SK. Semburat merah jingga mulai kelihatan sedikit demi sedikit. Kami akan terlambat mengejar sunrise! Sampai di puncak pukul 6 pagi, matahari memang sudah muncul, tapi kami tidak benar2 terlambat. Kata Iwan: “mataharinya kedinginan juga. Telat bangun dia”, haha.

Pagi di puncak Gede sungguh menkjubkan. Bromo mungkin mempunyai pemandangan yang lebih mistis dan menggairahkan, tapi puncak gunung Gede adalah puncak pertama yang saya capai dengan perjuangan setengah hidup. Matahari pagi mana yang sanggup menandingi itu?

Figure 6 Matahari Mana yang Mengalahkan Matahari Pagi yang ini?

Kami pulang melewati jalur Cibodas yang lebih landai tapi menyakitkan telapak kaki. Ya, karena trek disana full dengan batu2. Berjalan santai dan berhenti dibeberapa titik untuk bersantai, kami akhirnya mencapai Cibodas pada pukul 3 sore. Kelaparan dan kelelahan. Pada akhirnya kami mengenal teknologi lagi bernama HP, facebook, dsb. Di gunung, hanya senter, kompor, dan kamera teknologi yang kami kenal.

Pada akhirnya, kami (paling tidak saya) tidak menyesal mengarungi petualangan seru 3 hari ini. Saling mengenal lagi tabiat masing2. Ga ada yang bisa menyembunyikan diri mereka di gunung. Saya memang telah jatuh cinta terhadap laut dan pantai, tapi saya juga membuka diri untuk perselingkuhan dengan gunung. Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa harus ada reuni untuk ini. HARUS.

Figure 7 Tidak ada yang melebihi Indonesia untuk kekayaan alam…!

Mengejar Matahari ke Gunung Gede – Part 1 (12-13 Juni 2009)

Archivado en: travel — Etiquetas:, , , , — Bintang Pramodana @ 9:22 am

Awal dari semua ini adalah ketika Michael Mandagi meminjam buku2 saya. Di antara itu semua, terseliplah 1 buku, “5 cm”. Selesai membaca buku ini, Mike mengajak saya ke Semeru. Saya berjanji untuk menemaninya. Sebelum itu, saya mengusulkan trek pembuka, sekalian latian naik gunung, Gunung Gede. Awalnya, kami hanya akan berangkat ber3 (dengan Abol). Untunglah, hanya H-3 dari keberangkatan, pembicaraan saya dengan Reyhan menyelamatkan hidup kami ber3. Reyhan berjanji untuk menemani kami asalkan jadwal perjalanan diundur 1 bulan. Kami setuju. Reyhan mengatur apa yang pada akhirnya menjadi “FKUI 2003 GOES TO GUNUNG GEDE”.

Figure 1 Teman Seperjalanan yang Hampir Melakukan Kebodohan

“kalo ada 250 orang ke Gunung Gede, yang tinggal Cuma 13 orang”, itu kata2 Ridho yang paling berkesan buat saya. Menggambarkan hanya 13 orang yang mewakili FKUI 2003 untuk mendaki puncak Gede. Ini adalah nama-nama luar biasa itu:

  1. Albertus Marcelino (gol A)
  2. Bintang Pramodana (gol A)
  3. Iwan Junianto (gol C)
  4. Jerry E. Putra (gol C)
  5. Michael Mandagi (gol D)
  6. Ridho Ardhi S (gol D)
  7. Resita Sehati (gol D)
  8. Reyhan Edi (gol D)
  9. R. Siddhi Andika (gol D)
  10. Qushay Umar (gol D)
  11. M. Irsyad (gol D)
  12. Septo Sulistio (gol E)
  13. Wega Sukanto (gol E)
  14. Zulfa Eka Sari (adalah alumni TBM UnHas dan adalah wanita yang luar biasa hebat; sudah dibaptis menjadi anggota kehormatan tim FKUI 2003 di puncak Gede)

Dr. Ratna, dekan FKUI, dan dr. Akmal Taher, direktur RSCM, membuat saya gelisah karena acara mereka baru selesai jam 5 sedangkan tim belum lagi berkumpul untuk packing. HokBen pun dipesan untuk makan malam karena tidak sempat lagi untuk makan malam dijalan. Ini akan menjadi pengalaman pertama saya naik gunung. Ada gairah sendiri untuk ini. Walaupun banyak orang yang meminta saya memikirkan ulang perjalanan ini, saya berkeras. Kita akan lebih menyesal bila kita tidak melakukan sesuatu, dibandingkan menyesal telah melakukannya. Percayalah. Si pencinta laut, anak pantai tropis, akan beranjak ke gunung. Pantai yang hangat, Gunung yang dingin membunuh. Saya gelisah dan takut, namun berusaha tidak menunjukkannya dihadapan orang2.

Wita melewatkan jalan2 bareng BFM untuk nonton Star Trek dan menemani saya sampai sebelum saya berangkat. Hal yang cukup menjadi anti-ansietas. Makanan dan barang2 dibagikan agar berat tas seimbang dan sesuai kemampuan. Saya menyesal telah menjadi satu dari yang paling tidak bisa diandalkan. Namun, teman2 cukup suportif dan tidak berkata apa2 tentang itu. Apa lagi yang bisa diharapkan dari teman2?

3 mobil telah siap mengantar kami semua ke Cibodas, sebagai basecamp pertama, sebelum melanjutkan ke basecamp sebenarnya di Gunung Putri karena kami akan naik lewat jalur itu. Jalur yang dikenal berat… Rombongan Mike bertugas mencari minyak tanah, Reyhan mengambil spanduk, dan Ridho menjemput Eci sambil membeli barang2 yang kurang, khususnya makanan.

Jam 11 malam semua tim telah sampai di Cibodas. Persiapan akhir dilakukan, briefing, dan berdoa. Angkot kuning telah menunggu. Kami berangkat ke Gunung Putri dan bercanda tentang betapa gilanya saya dan Mike. Padahal itu hanya sebulan yang lalu, tetapi terasa konyol sekali. Haha.

Figure 2 Di Basecamp Gunung Putri

Pendakian dimulai sekitar pukul 1 pagi dari basecamp Gunung Putri. Target sampai alun-alun Surya Kencana adalah pukul 8-9 pagi. Inilah awal kegilaan itu. Trek2 awal masih dalam batas kewajaran (ataukah karena masih jam2 awal??). saya sempat akan terjatuh namun menahan dengan kaki kanan saya dan menyebabkan straining pada otot quadriceps saya. Irsyad pun terpaksa berkorban dengan berkali2 menyemprotkan kloro etil ke paha saya demi agar saya bisa melanjutkan perjalanan tanpa rasa nyeri.

Figure 3 Frustasi di Gn Putri

Pukul 4 dini hari, kami beristirahat. Beberapa tertidur hanya beralaskan batu dan tanah. Dingin mulai mencekam dan menggila. Saya, yang tidak tahan dingin, menggigil sebisanya. Sakit! Solat Subuh pun dilakukan dengan tayamun dan dengan baju tebal. Ini belum lagi hujan. Kalau hujan, saya tidak bisa membayangkan. Ngeri.

Perjalanan lanjut jam setengah 6 pagi. Dan makin membuat frustasi. Jalan makin terjal dan tidak bersahabat. Trus menanjak dan sedikit sekali bonus jalan landai, jangan harap ada turunan. Awalnya support “ayo, dikit lagi sampai tuh”, “pohonnya udah pendek, berarti udah deket”, atau “puncak udah keliatan tuh”, cukup membuat semangat naik lagi. Tapi berkali-kali kecewa karena itu semua ternyata bohong belaka, hingga akhirnya kalau ada orang yang berteriak seperti itu, ingin rasanya saya melemparnya turun.

Pukul 9 pagi. Apa yang kami tuju hari ini akhirnya terlihat di depan mata… hamparan savana dengan rumput2 pendek berwarna kekuningan dan pohon2 bunga Edelweis yang abadi memanjakan mata. Tukang nasi uduk legendaris sudah siap menawarkan dagangannya. Sensasi ketika melewati pohon terakhir yang menutupi padang ini adalah seperti orgasme panjang setelah sesi sadomasokis yang mengerikan… saya tidak berlebihan.

Figure 4 Penjual Nasi Uduk Legendaris (berbaji biru berdiri) Menawarkan Dagangannya

Figure 5 SEMANGAT!!

-berlanjut ke Part 2-

Junio 1, 2009

Solar System in My By-The-Sea House, Haha

Archivado en: siempre de vida — Etiquetas:, — Bintang Pramodana @ 11:16 am

Belakangan ini saya mempunyai keinginan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Haha. Kegemaran saya menonton National Geographic, Discovery Channel, dan Discovery Travel and Living [DTL] (tidak ketinggalan majalah NG Traveler yang baru terbit) telah memenuhi otak saya dengan kehidupan yang mencoba berdamai (atau katakanlah meminta maaf atas salah kita pada alam yang mungkin sulit dimaafkan) dengan alam. Gaya hidup begini sering disebut dengan green-living dengan berbagai aspeknya. Yang paling sering saya baca tentu saja green-tourism dengan semboyan legendarisya “take nothing but photographs, and leave nothing but footprints.” Namun saya tidak sedang akan berbicara tentang itu, aspek lain yang sering saya lihat karena ada acaranya di stasiun2 tv tadi adalah green-house.

Selain mempunyai banyak mimpi2 aneh lainnya, saya –tentu saja- juga bermimpi mempunyai rumah sendiri. Namun pengaruh acara2 tv tentang rumah membuat imajinasi saya kadang terlampau liar. The Wow Factor adalah acara favorit saya dulu di DTL, namun tampaknya sudah tidak ada lagi. Acara ini tentang seorang interior designer yang merombak sebuah sisi rumah sesuai dengan konsep pemiliknya, tapi juga menambahkan aspek seni luar biasa dan harga yang (menurut mereka) murah. Lalu ada berbagai acara lain seperti Living ETC yang makin membuat saya mengimajinasikan perabot apa saja yang akan ada di “rumah saya” nanti. Haha.

Satu yang selalu menarik perhatian saya (khususnya pada acara The Green House) namun selalu saya coba abaikan karena saya pikir tidak mungkin hal seperti ini sudah ada di Indonesia, atau kalaupun ada, tidak mungkin murah. Seperti kata Gde Prama, teknologi akan selalu berharga mahal. Yang saya maksud adalah solar panel.

Bayangkan, di Amerika saja mereka bisa memakai sistem PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) ini untuk musim dingin mereka. Masa iya, di negara tropis dengan suhu yang sangat panas pada siang hari ini justru tidak bisa memanfaatkan itu?! Memakai panel solar ini bisa mengurangi ketergantungan kita pada PLN dan pada akhirnya pada pemanfaatan gila2an dari minyak bumi. Ini bisa jadi salah satu wujud permintamaafan kita pada alam. Sekaligus untuk membalas kritikan Ayu Utami dalam Bilangan FU bahwa modernisme ternyata bukan hanya bisa menghancurkan alam.

Kembali masalahnya adalah harga. Brapa harganya pun tidak berani saya bertanya. Tapi sebuah artikel di Jakarta Post menulis: (http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/19/let-the-sun-shine.html)

1. Make a quick list of your home electricity needs, ranging from light bulbs to appliances. One easy shortcut around this is to pull out your last electricity bill and jot down your kilowatt per hour consumption. For the sake of this exercise, let’s say that your electric appliances total 250 watts.

2. Next step. Assuming you want to cover only part of your electricity needs with a solar panel system (hey, we can’t just write off PLN, can we?), how many hours of energy will you need? We’re going to opt for a reasonable 12 hours, which gives us 12 hours x 250 watts = 3,000 watts. Now, because the solar panel installation itself will consume 20 percent of the electricity it generates, we’re going to add 20 percent to our total electricity needs. This brings us to 3,600 watts.

3. We’re going to need batteries to store this wonderful free energy. For 3,600 watts, that will be four batteries of 12 volts each.

4. Now that we know how many watts we must generate each day to keep our teh botol chilled, watch CSI Miami AND light our desk as we pore over our tax return form (3,600 watts), we have also figured out how many solar panels we need. A handy 100 wp (watt peak) panel exposed to five hours of fierce tropical sunlight will provide 500 watts. As we need 3,600 watt, that means we’ll need eight panels. That, or give up on David Caruso and downsize to a more modest seven panels.

5. Now here comes the part where eyes roll back, tongues drop out and people flick over to a more interesting part of the magazine. So solar panel setups are expensive: about US$9–10 for each watt. For eight panels of 100 wp each, this gives us 800 watt x 10, or a rather intimidating US$8,000. Now let me explain why this is still a good idea.

Baca selengkapnya di website itu karena itu sungguh menarik. 80 juta rupiah untuk bumi plus penghematan listrik bertahun2 tampak “tidak” terlalu mahal. Haha. Apalagi kita bisa mencicil untuk itu. Katakanlah 1 panel solar dulu untuk AC dan TV. Lalu beberapa tahun lagi tambahkan untuk kulkas dan mesin cuci. Haha.

Tapi saya belum mengatakan hal baiknya! Di Jakarta Post, mereka bilang bahwa 1 watt harganya sekitar 100.000 rupiah kan? Lalu saya iseng (oh keisengan banget sih) mencari lagi di interet harga konkritnya alat ini di Indonesia. Dan… ternyata 60.000 rupiah per watts! Itu hampirsetengahnya! Dan artinya dengan 50 juta kita bisa memasang 8 solar panel. Hehe. (lihat http://industri.iklanmax.com/2009/05/10/panel-surya-solar-cell-12.html) .

Mimpi saya, punya rumah ditepi pantai. Kecil aja, tapi manis dan nyaman. Ketika jam 5 sore, cukup dengan mengintip dari balik gordin saya bisa melihat matahari yang berwarna merah jingga itu. Matahari yang menyalakan seluruh alat listrik rumah saya 12 jam sebelumnya. Lalu saya berkata:

“Saatnya menyalakan PLN-nya, sayang”

Blog de WordPress.com.