Entah kenapa pikiran ini tiba-tiba saja muncul di kepala saya. Mungkin karena kekesalan saya pada fakta bahwa industri pariwisata Indonesia bagai berjalan ditempat dan tidak ada langkah-langkah strategis dan nyata untuk mengubah itu semua. Jangan bilang slogan Visit Indonesia yang Cuma jadi sekedar slogan. Buka website-nya, dan kita bisa temukan tidak ada informasi berarti sama sekali dari situ. Kementrian kayaknya tidak tahu apa kekuatan dan kelemahan industri kita ini. bahkan, jangan-jangan mereka juga tidak tahu bahwa ada lagi lokasi pariwisata kelas dunia selain Bali??
Buat saya, yang orang awam ini aja, kekuatan pariwisata Indonesia bukannya pada mall-mall di Jakarta sehingga kita harus latah bikin sale-sale kayak di Singapur. Come on, itu emang kekuatan Singapur karena mereka ga punya tanah yang luas dan pemandangan alam yang kaya. Tapi mereka bisa maju. Belakangan, saya melihat mereka mulai bergerak ke industri musik dengan mengadakan konser-konser kelas dunia. Musisi Singapur memang ketinggalan jauh banget dari Indonesia, tapi mereka tau gimana cara manfaatin kelemahan itu.
Kekuatan Indonesia pada dasarnya justru pada nature itu sendiri. Kenapa musti latah dengan sale-nya Singapur dan Truly Asia-nya Malaysia? Kita bisa dan harusnya emang jadi pusat kegiatan adventure di Asia! Coba, apa yang ga ada di Indonesia? Dari langit, kita punya paragliding, bisa terjun payung. Di tanah, kita punya banyak gunung-gunung untuk ditaklukan, dan kebanyakan kalian pasti tidak tahu kita punya lokasi trekking savana di Jawa Timur. Kita tidak kekurangan pantai, pasti sedikit juga di antara kita yang pernah menjelajahi pantai Karimun Jawa dan Senpu yang notabene masih di Jawa! Lokasi snorkeling dan diving kita berlimpah ruah. NG menyebutkan bahwa kita punya 34 spot diving sedangkan Thailand hanya 13. Tapi pendapatan Thailand mencapai 240 juta dolar AS, Indonesia HANYA maksimum 24 juta!! Itu 10 kalinya teman2!
Apa yang menyebabkan pariwisata kita segitu mandeknya melihat banyaknya potensi yang kita punya. Saya pikir ada 2 masalah utama. Sulitnya transportasi dan kurangnya informasi. Gini aja deh. Satu-satunya kesempatan kita untuk masuk 7 wonders of nature setelah Borobudur dicoret adalah Pulau Komodo. Masalahnya, saya yakin sekali bahwa 95% orang Indonesia belum pernah menginjakkan kaki di sana! Lebih parah, asumsi saya 50% di antaranya tidak tahu Pulau Komodo itu dimana. Ironis ga sih? Saya bahkan harus menghabiskan waktu 2 minggu penuh riset untuk memiliki gambaran rute untuk ke Pulau Komodo, sebagian besar dari Lonely Planet dan website tulisan bule-bule. Yang paling ironis adalah, bahwa website PELNI tidak memiliki jadwal untuk armada-armadanya, namun saya memperoleh data lengkap perjalanan PELNI selama tahun 2009 ini dari website Lonely Planet hasil riset seorang Swedia selama berbulan-bulan. Gila ga sih? Mahalnya transportasi juga jadi masalah besar. Raja Ampat adalah situs diving dan snorkeling yang terkenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Untuk ke sana, tiket pesawat ke Papua bisa menghabiskan 7-8 juta PP. tambahkan 1-2 juta lagi, dan anda sudah bisa mendarat di Madrid!! Ayolah, bukankah ini menggelikan?
Saya ga pengen meracau tanpa solusi. Yah, walaupun kemungknan kecil akan ada yang baca dan melaksanakannya. Kalau saya jadi menteri Pariwisata, selain program visit Indonesia yang terkesan basa-basi itu lebih dioptimalkan dengan slogan yang lebih spesifik (misal: Adventure Indonesia, atau apalah), kayaknya program per tahun juga bisa mendukung itu. Maksud saya, bikinlah tiap tahun tema kunjungan yang berbeda. Contoh: Snorkeling Komodo Island 2010. Nah, selama setahun penuh dirancanglah segala hal yang dapat meningkatkan minat orang ke sana. Dengan promosi, dengan bekerjasama dengan perusahaan2 transportasi untuk berkomitmen menekan biaya, dengan agen2 travel yang menawarkan paket2 murah, pokoknya memudahkan kita ke sana deh. Nanti dilanjutkan dengan Sailing Musi 2011 misalnya, terus Trekking Borneo 2012, atau apalah.
Haha. Pada akhirnya saya tidak tahu tujuan menuliskan ini apa. Mungkin Cuma sekedar membuang unek-unek biar ga kesel sendiri.Setuju dengan adek dan pacar saya yang bilang bahwa mentri di Indonesia ga dipilih berdasarkan kompetensi dan passion, tapi lebih kepada kepentingan politis dan koalisi. Sampah. Lain kali, pilihnya orang yang mencintai pariwisata untuk menteri pariwisata, orang yang mencintai sepakbola untuk PSSI, orang yang mencintai pendidikan untuk mentri pendidikan. Orang yang mencintai uang untuk mentri keuangan?? Hahaha.
Tabik!
Gambar 1 Pulai Sikuai – Sumatra
Gambar 2 Baluran Savanna – Jawa Timur
Gambar 3 (bukan di Afrika) Way Kambas – Lampung