polaroid hitam putih

Enero 15, 2009

Another Great Escape: Laporan Perjalanan Pangandaran – Batu Karas – Green Canyon

Archivado en: travel — Bintang Pramodana @ 8:35 pm

Kijang Krista silver itu perlahan dipenuhi barang2 –tas2 berisi pakaian, makanan kecil yang melimpah, jaket, dan kamera- semua persiapan sudah beres untuk sebuah road trip jangka pendek dengan rute yang ga bisa dibilang pendek. Pangandaran berjarak lebih dari 300 km, dan artinya, perkiraan lama perjalanan adalah 6-7 jam. Belum lagi kami harus mampir ke Jati Nangor untuk menjemput Bohay. Jumat siang jam 2 kami berangkat.

Uang kas pertama dikumpulkan: Rp. 100.000 per orang untuk biaya bensin dan tol. Laras lagi2 bertugas mengurus pengeluaran. Haha, sehebat2nya gue mengatur rencananya perjalanan dan budget, tidak ada yang dapat merealisasikannya menjadi neraca keuangan yang bisa dimengerti selain Laras. Perjalanan keliling Jawa yang 10 hari dan menghabiskan uang lebih besar saja bisa tertata rapi, hal kali ini mungkin bagai berjalan kaki ke depan rumah bagi Laras. Haha.
Bayu menyetir dengan santai menuju Jati Nangor, menjemput Bohay di dekat Unpad, dan berjalan menuju Tasik. Kita baru berjenti untuk makan di sekitar Tasik, tempat makan transit gitu, dengan makanan dingin yang tidak menggugah selera. Tapi, daripada menanggung risiko sakit maag yang mengganggu liburan, jadilah kita berhenti. Makan malam Rp. 8000-15000 per orang.

Pangandaran dicapai mendekati tengah malam. Kita memutuskan singgah di Pangandaran dan tidak langsung ke Batu Karas karena waktu yang sudah malam. Gila! 9 jam dijalan membuat pantat kita semua seperti terkena tumor tulang belakang yang membuat hipestesi pantat! Masuk pangandaran Rp. 26.000. hati2, jangan mau kalau ditawari penginapan oleh orang2 di sana, karena jatuhnya akan lebih mahal! Itu karena mereka akan dapet tip dari yang punya penginapan! Kita metal aja bilang udah booking, hehe. Mampir ke penginapan milik temannya teman kita, bernama Topan. Gile, dari luar sih ancur bener ya ini tempat, hehe. Ternyata kamarnya ga begitu buruk. 1 kamar mempunyai 3 tempat tidur dengan kombinasi acak (ada yang pake double bed ada yang semua single bed). Sekamar boleh brapa orang Pak?

“terserah aja, haha”, jawaban yang menarik.

Jadilah kita menyewa 2 kamar yang tersisa. 1 kamar dihuni gue, Tata, Laras, dan Ana; sedang kamar lain dihidupi Abol, Mike, Bayu, dan Bohay. Penginapan Topan Rp. 75.000/kamar.

Paginya, seperti biasa, gue bangun paling pagi, bangunin solat yang mau solat, dan ngajak jalan2 ke pantai pagi2. Buat apa liburan singkat kalo Cuma tidur doang? Hehe. Setelah setengah mati ngebangunin Mike yang tidur kayak kerbau pake headset, kita pergi ke pantai dan dengan segera menyetujui bujukan tukang kapal untuk ke pantai yang lebih putih pasirnya. Pangandaran adalah pantai berpasir hitam dengan bibi pantai yang luars dan ombak yang tidak besar untuk ukuran pantai selatan. Dan ini membuatnya menjadi tujuan wisata pantai utama warga Jawa! Sayangnya hal ini tidak menimbulkan kesadaran para warga dan pelancong untuk menjaga kebersihan. Sampah terlihat di sana sini. Pemerintah pun tidak memberikan perhatian khusus, sehingga potensi Pangandaran dibiarkan meredup. Di pantai yang kita tuju, pasirnya memang lebih putih, namun “kotor”, merujuk pada banyaknya bebatuan, kerang2, sehingga kurang asik untuk melempar tikar dan berjemur. Kesempatan snorkeling tidak mungkin gue lewatkan. Walaupun pemandangan bawah lautnya tidak spesial, beberapa ikan berwarna warni, dan tumpukan rumput laut yang berdansa serasi indah, cukup menghibur gue. Menyewa kapal Rp. 85.000 per kapal, snorkeling set Rp.15.000 per set sepuasnya. Haha.
Melanjutkan perjalanan ke Batu Karas menghabiskan waktu 1 jam dari Pangandaran. Berhenti hanya untuk makan bakso dan mie ayam karena kelaparan. Makan Rp. 6000-12.000. Di tengah perjalanan kami dihadapkan pada kenyataan pahit, Green Canyon berada dalam kondisi yang buruk = coklat dan airnya tinggi. Masuk Batu Karas Rp. 13.000.

Berlayar...

Berlayar...

Penginapan di Batu Karas tidak begitu banyak dan Teratai Hotel termasyur di kalangan pelaku budget trip. Bayangkan, satu rumah dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi hanya dihargai Rp. 75.000! Teratai hanya mempunyai sekitar 10 rumah yang terdapat dalam 1 kompleks kecil. Dengan harga seperti itu, tidak heran kami kehabisan tempat. Pindah ke Bonsai Hotel yang bertarif Rp. 400.000 per kamar dengan 6 kasur, bisa tambah ekstra bed, dan kamar mandi luar. Kemahalan buat kami untuk fasilitas seperti itu. JavaCove akhirnya memikat hati kami. Kamar kecil dan manis, dengan 2kasur single bed, kamar mandi, dihargai Rp. 120.000. bisa untuk 4 orang katanya. Mahal memang. Tapi lihat, duduk diteras saja, pemandangan pantai sudah terlihat. Kita bisa duduk2 di Sundaze yang PW berat! Ditemani sebotol Mix Max, segelas teh, atau secangkir kopi, sudah cukup membuat kita merasa uang segitu ga ada artinya. Kita menyewa 3 kamar yang tersisa (hati2, mereka hanya punya 5 kamar!!). 5 kamar di JavaCove Rp. 396.000 (tambah Ppn, hehe).

JavaCove. Kamar kami yang dibelakangnya!!

JavaCove. Kamar kami yang dibelakangnya!!

Brown Canyon

Brown Canyon

Akhirnya kita bisa tenang ke Green Canyon. Walaupun mengecewakan, tapi, kata2 “udah disini lah”, akhirnya membuat kita tetap naik kapal. Ternyata pemandangannya tetap bagus karena melewati lereng2 dan goa purba dengan tetesan air alami. Sampai di ujung. Terlihat air yang berjalan deras, membuat kapal2 tidak bisa lagi berjalan terus. Pada keadaan normal, kapal bisa lanjut ke depan dan kita berjalan kaki ke “danau” alami di tengah yang katanya indah bgt. Tapi ternyata kami beruntung. Berkat kegilaan sopir sampan salah satu perahu yang kami naiki, akhirnya kedua sampan kami dengan gila menerjang ombak dan menyebabkan kami bisa berdiri di batu dan dikelilingi air yang mengalir deras! Ternyata tidak sampai disitu, si abang sampan menawarkan untuk berenang (ya! Di air coklat lumpur itu!) dengan berbody rafting sejauh 500 meteran. Abol ragu2. Tapi pria2 lainnya tidak berpikir 2 kali. IF WE CAN THROUGH THE OSCE, WHAT CRAZIER THING WE CANT DO?? Abol ga mau rugi. Dia ikut juga. Memakai safety jacket kita melompat! Mengikuti arus! Berteriak girang! Diliatin orang2! Ga terhitung banyaknya orang dengan pandangan aneh seperti “ngapain sih orang2 itu?”, “jorok banget sih, goblok”, sampai pandangan iri “ih, gue mau dong!”. Kita mencintai perasaan ini, adrenalin rush ini. Yang pada akhirnya membuat kita memohon si abang sampan untuk kembali membiarkan kita melompat. TOO HELL WITH GREEN CANYON, BABY!! THIS BROWN WATER WILL DO THE TRICK TOO! WOOHOO!!

Memasuki lembah...

Memasuki lembah...

Arus yang deras... kapal pun merapat..

Arus yang deras... kapal pun merapat..

Kami menghabiskan waktu sore bersantai di Batu Karas dengan ombak tenang yang ah….nikmatnya. pasir hitam yang bersih. Langit mendung tidak bisa menghentikan keceriaan orang2 di sana. Bermain di Batu Karas tidak butuh banyak biaya. Kita bisa berjalan jauh ke tengah dan tinggi air hanya sedagu kita. Bersantai tidur di atas ban karet juga menyenangkan. Ada penyewaan surfing, ada permainan banana boat juga.

Morning at Batu Karas

Morning at Batu Karas

Kita makan malam seafood di dekat hotel. Makan gila2an Cuma habis Rp. 169.000 ber 8. Enak…
Paginya, kita masih sempat bermain2 sebentar sebelum pada jam 11 siang, kita beranjak menuju Bandung lagi. Perjalanan yang panjang untuk menutup liburan kali ini. Di bandung kita makan di Boemi Joglo, memesan banyak tempe mendoan, sate sapi yang enak, dan Nasi Liwet yang ga mirip nasi liwet.

Morning at Batu Karas 2

Morning at Batu Karas 2

Setelah di total. Perjalanan kali ini membuat kami mengeluarkan uang kas 250.000 per orang ++. ++ dihitung untuk makan2an kecil lain, pengeluaran2 yang bukan milik bersama. Yah, kira2 per orang habis Rp. 350.000. Menyenangkan rasanya kabur di akhir minggu setelah minggu yang penat. Another great escape…

Great Escape Team

Great Escape Team

9 comentarios »

  1. tampak seruuu…
    beda banget Green Canyon-nya sama yang di foto Irsyad n waktu zaman Ren SD.. hehe..

    Comment por Renny L Avriyani — Enero 16, 2009 @ 12:37 am

  2. seru beneran loh. tapi ya itu masalahnya airnya coklat, hehe

    Comment por prasetya — Enero 16, 2009 @ 7:23 pm

  3. sayang seribu sayang …eh lain kali harus di musim kemarau datang nya biar gak coklat airnya..

    Comment por Jafar — Enero 25, 2009 @ 11:21 pm

  4. ya, mungkin lain kali kesana lagi….dengan body rafting. haha

    Comment por prasetya — Enero 26, 2009 @ 1:05 am

  5. Foto lo yg “Morning at Batu Karas 2″ keren tuh, motretnya pagi2 bgt ya?

    Kl yg “Morning at Batu Karas” biasa aja (krn ada elonya, jd ngerusak pemandangan, hehehe)

    Tulisan lo ga gw komentarin ya, takut ’salah ngomong’ hahaha…

    Comment por Adhe — Febrero 2, 2009 @ 4:39 pm

  6. Bisa minta nomor telponnya teratai ga? mau coba booking. Thanks

    Comment por Yufi Nurcan — Julio 22, 2009 @ 5:56 pm

    • coba ke 0816623372. ok?

      Comment por Bintang Pramodana — Julio 23, 2009 @ 10:20 am

  7. hai.. JavaCove keknya asik. tp cek di websitenya kok mahalnya minta ampun, beda ma tulisan di atas yg 120rb ber4. gmn caranya bs murah gt yah? mo jalan neh kesana libur lebaran ini :p Thanx..

    Comment por kiki — Septiembre 17, 2009 @ 9:33 pm

    • oh, bukan, 120 ribu per kamar kok itu. 1 kamar bisa dipake 2 orang.

      barusan cek di websitenya. kayaknya salah lihat deh tuh. yang dilihat adalah harga paket. harga per kamarnya ga dicantumin di sana.

      kalo mau telpon aja dulu. saya dulu di tree-view-room. tapi mungkin akan lebih mahal karena high season juga ya…

      Comment por Bintang Pramodana — Septiembre 17, 2009 @ 11:18 pm


Canal RSS de los comentarios de la entrada. URI para TrackBack.

Deja un comentario

Blog de WordPress.com.