polaroid hitam putih

Enero 24, 2009

Belajar dari Nelayan

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 12:42 pm

Kadang kita ga pernah tau darimana kita belajar sesuatu. Oleh sebab itu juga tidak sepantasnya kita memandang rendah orang lain. Tulisan ini penghargaan saya kepada seorang nelayan di Pangandaran yang walau dengan pendidikannya yang mungkin terbatas dan tidak tinggi (astaga, saya tidak bermaksud memberikan judgement), pria ini bisa berpikiran lebih terbuka dan jernih daripada beberapa saudara kita yang merasa jauh lebih pintar.

Percakapan kami terjadi saat perjalanan pulang dari pantai di seberang Pangandaran yang waktu itu kami capai dengan perahunya. Pada awalnya pria ini bercerita tentang bagaimana tsumani menghancurkan sebagian besar sarana dan prasarana para nelayan di Pangandaran. Mereka kehilangan perahu dan alat2 mencari mata pencaharian dan bagaimana ganti rugi pemerintah tidak begitu memadai karena –ah, kita semua sudah bosa mendengarnya- korupsi. Harga satu kapal nelayan pangandaran rata2 adalah 15 juta belum termasuk motor yang seharga 20 jutaan. Ganti rugi pemerintah sebenarnya sudah seharga 15 juta, namun perahu yang hadir di pelabuhan ternyata bernilai 10 jutaan saja. Kualitasnya rendah, sehingga nelayan2 harus membenahinya lagi agar sanggup melaut di laut selatan yang ganas. Belum lagi membeli motor dan alat2 melaut lainnya. Keluhannya berlanjut pada naik turunnya harga ikan di Pangandaran, ia kesal dengan para pembeli yang kadang tidak mengerti bahwa melaut bagi nelayan di Pangandaran adalah mengadu nyawa. Bayangkan perasaan mereka ketika pulang dan mendapati harga ikan sedang turun.

Lalu sampailah kami pada pembicaraan pendek kami yang –ya- meskipun pendek sangat bermakna sekali menurut saya. Begini menurut yang saya ingat sebisanya:

“kalau tanggall 26 nanti ada acara mas (dia menyebutkan namanya Cuma saya lupa”, pria ini menarik kapal ke pinggiran pantai. Saya melompat turun dari kapal. Pasir pangandaran yang coklat masuk ke sela2 sendal saya.

“acara apa tuh mas?”

“ya itu, persembahan ke laut”, saat ini saya mulai memikirkan judgement saya tentang pria ini: ah, ternyata pria ini percaya tentang legenda Ratu Laut Selatan.

“buat nyai ya mas?”, saya bercanda, mencoba mengikuti alur pikiran manusia di hadapan saya sekaligus mencari mkonfirmasi atas judgement saya. Sebisa mungkin saya tidak terdengar merendahkan.

“haha”, dia tertawa sebentar yang membuat saya heran, lalu melanjutkan, “itu sih saya ga tau mas. Itu sudah tradisi di sini. Buat saya sih, sepanjang tahun saya sudah nyari rejeki di sini, yah, anggap aja rasa syukur saya sekalian ngasih makan ikan2 di laut”

DEG! Hati saya tergetar. Pria kecil nelayan ini melebihi semua ekspektasi saya. Dan sampai beberapa saat sesudahnya, saya mengagumi sekali indahnya kata2 jujur yang diucapkannya tadi. Gila, yang kayak gini ga bisa dimiliki orang2 yang mengaku lebih berilmu, lebih beragama. Orang2 yang sedikit2 bilang musyrik, sedikit2 bilang haram. Merasa bahwa manusia adalah makhluk paling besar dan paling berhak atas bumi ini. Bahwa semua yang ada di bumi ini diciptakan untuk manusia. Menggrebek tempat2 kesenian, membakar buku2. Cih. Tidak salah Ayu Utami melancarkan protes keras dengan Bilangan Fu terhadap kaum kayak begini. Mereka2 yang secara tidak sadar telah merendahkan kesadaran masyarakat untuk menghormati alam dan makhluk2 di dalamnya, halus dan kasar. Mereka2 yang membuat masyarakat tidak ragu2 lagi meraup hutan tanpa takut oleh jin2 hutan, membom laut tanpa takut Nyai Roro Kidul. Mereka yang yakin mereka lebih suci…

Enero 15, 2009

Another Great Escape: Laporan Perjalanan Pangandaran – Batu Karas – Green Canyon

Archivado en: travel — Bintang Pramodana @ 8:35 pm

Kijang Krista silver itu perlahan dipenuhi barang2 –tas2 berisi pakaian, makanan kecil yang melimpah, jaket, dan kamera- semua persiapan sudah beres untuk sebuah road trip jangka pendek dengan rute yang ga bisa dibilang pendek. Pangandaran berjarak lebih dari 300 km, dan artinya, perkiraan lama perjalanan adalah 6-7 jam. Belum lagi kami harus mampir ke Jati Nangor untuk menjemput Bohay. Jumat siang jam 2 kami berangkat.

Uang kas pertama dikumpulkan: Rp. 100.000 per orang untuk biaya bensin dan tol. Laras lagi2 bertugas mengurus pengeluaran. Haha, sehebat2nya gue mengatur rencananya perjalanan dan budget, tidak ada yang dapat merealisasikannya menjadi neraca keuangan yang bisa dimengerti selain Laras. Perjalanan keliling Jawa yang 10 hari dan menghabiskan uang lebih besar saja bisa tertata rapi, hal kali ini mungkin bagai berjalan kaki ke depan rumah bagi Laras. Haha.
Bayu menyetir dengan santai menuju Jati Nangor, menjemput Bohay di dekat Unpad, dan berjalan menuju Tasik. Kita baru berjenti untuk makan di sekitar Tasik, tempat makan transit gitu, dengan makanan dingin yang tidak menggugah selera. Tapi, daripada menanggung risiko sakit maag yang mengganggu liburan, jadilah kita berhenti. Makan malam Rp. 8000-15000 per orang.

Pangandaran dicapai mendekati tengah malam. Kita memutuskan singgah di Pangandaran dan tidak langsung ke Batu Karas karena waktu yang sudah malam. Gila! 9 jam dijalan membuat pantat kita semua seperti terkena tumor tulang belakang yang membuat hipestesi pantat! Masuk pangandaran Rp. 26.000. hati2, jangan mau kalau ditawari penginapan oleh orang2 di sana, karena jatuhnya akan lebih mahal! Itu karena mereka akan dapet tip dari yang punya penginapan! Kita metal aja bilang udah booking, hehe. Mampir ke penginapan milik temannya teman kita, bernama Topan. Gile, dari luar sih ancur bener ya ini tempat, hehe. Ternyata kamarnya ga begitu buruk. 1 kamar mempunyai 3 tempat tidur dengan kombinasi acak (ada yang pake double bed ada yang semua single bed). Sekamar boleh brapa orang Pak?

“terserah aja, haha”, jawaban yang menarik.

Jadilah kita menyewa 2 kamar yang tersisa. 1 kamar dihuni gue, Tata, Laras, dan Ana; sedang kamar lain dihidupi Abol, Mike, Bayu, dan Bohay. Penginapan Topan Rp. 75.000/kamar.

Paginya, seperti biasa, gue bangun paling pagi, bangunin solat yang mau solat, dan ngajak jalan2 ke pantai pagi2. Buat apa liburan singkat kalo Cuma tidur doang? Hehe. Setelah setengah mati ngebangunin Mike yang tidur kayak kerbau pake headset, kita pergi ke pantai dan dengan segera menyetujui bujukan tukang kapal untuk ke pantai yang lebih putih pasirnya. Pangandaran adalah pantai berpasir hitam dengan bibi pantai yang luars dan ombak yang tidak besar untuk ukuran pantai selatan. Dan ini membuatnya menjadi tujuan wisata pantai utama warga Jawa! Sayangnya hal ini tidak menimbulkan kesadaran para warga dan pelancong untuk menjaga kebersihan. Sampah terlihat di sana sini. Pemerintah pun tidak memberikan perhatian khusus, sehingga potensi Pangandaran dibiarkan meredup. Di pantai yang kita tuju, pasirnya memang lebih putih, namun “kotor”, merujuk pada banyaknya bebatuan, kerang2, sehingga kurang asik untuk melempar tikar dan berjemur. Kesempatan snorkeling tidak mungkin gue lewatkan. Walaupun pemandangan bawah lautnya tidak spesial, beberapa ikan berwarna warni, dan tumpukan rumput laut yang berdansa serasi indah, cukup menghibur gue. Menyewa kapal Rp. 85.000 per kapal, snorkeling set Rp.15.000 per set sepuasnya. Haha.
Melanjutkan perjalanan ke Batu Karas menghabiskan waktu 1 jam dari Pangandaran. Berhenti hanya untuk makan bakso dan mie ayam karena kelaparan. Makan Rp. 6000-12.000. Di tengah perjalanan kami dihadapkan pada kenyataan pahit, Green Canyon berada dalam kondisi yang buruk = coklat dan airnya tinggi. Masuk Batu Karas Rp. 13.000.

Berlayar...

Berlayar...

Penginapan di Batu Karas tidak begitu banyak dan Teratai Hotel termasyur di kalangan pelaku budget trip. Bayangkan, satu rumah dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi hanya dihargai Rp. 75.000! Teratai hanya mempunyai sekitar 10 rumah yang terdapat dalam 1 kompleks kecil. Dengan harga seperti itu, tidak heran kami kehabisan tempat. Pindah ke Bonsai Hotel yang bertarif Rp. 400.000 per kamar dengan 6 kasur, bisa tambah ekstra bed, dan kamar mandi luar. Kemahalan buat kami untuk fasilitas seperti itu. JavaCove akhirnya memikat hati kami. Kamar kecil dan manis, dengan 2kasur single bed, kamar mandi, dihargai Rp. 120.000. bisa untuk 4 orang katanya. Mahal memang. Tapi lihat, duduk diteras saja, pemandangan pantai sudah terlihat. Kita bisa duduk2 di Sundaze yang PW berat! Ditemani sebotol Mix Max, segelas teh, atau secangkir kopi, sudah cukup membuat kita merasa uang segitu ga ada artinya. Kita menyewa 3 kamar yang tersisa (hati2, mereka hanya punya 5 kamar!!). 5 kamar di JavaCove Rp. 396.000 (tambah Ppn, hehe).

JavaCove. Kamar kami yang dibelakangnya!!

JavaCove. Kamar kami yang dibelakangnya!!

Brown Canyon

Brown Canyon

Akhirnya kita bisa tenang ke Green Canyon. Walaupun mengecewakan, tapi, kata2 “udah disini lah”, akhirnya membuat kita tetap naik kapal. Ternyata pemandangannya tetap bagus karena melewati lereng2 dan goa purba dengan tetesan air alami. Sampai di ujung. Terlihat air yang berjalan deras, membuat kapal2 tidak bisa lagi berjalan terus. Pada keadaan normal, kapal bisa lanjut ke depan dan kita berjalan kaki ke “danau” alami di tengah yang katanya indah bgt. Tapi ternyata kami beruntung. Berkat kegilaan sopir sampan salah satu perahu yang kami naiki, akhirnya kedua sampan kami dengan gila menerjang ombak dan menyebabkan kami bisa berdiri di batu dan dikelilingi air yang mengalir deras! Ternyata tidak sampai disitu, si abang sampan menawarkan untuk berenang (ya! Di air coklat lumpur itu!) dengan berbody rafting sejauh 500 meteran. Abol ragu2. Tapi pria2 lainnya tidak berpikir 2 kali. IF WE CAN THROUGH THE OSCE, WHAT CRAZIER THING WE CANT DO?? Abol ga mau rugi. Dia ikut juga. Memakai safety jacket kita melompat! Mengikuti arus! Berteriak girang! Diliatin orang2! Ga terhitung banyaknya orang dengan pandangan aneh seperti “ngapain sih orang2 itu?”, “jorok banget sih, goblok”, sampai pandangan iri “ih, gue mau dong!”. Kita mencintai perasaan ini, adrenalin rush ini. Yang pada akhirnya membuat kita memohon si abang sampan untuk kembali membiarkan kita melompat. TOO HELL WITH GREEN CANYON, BABY!! THIS BROWN WATER WILL DO THE TRICK TOO! WOOHOO!!

Memasuki lembah...

Memasuki lembah...

Arus yang deras... kapal pun merapat..

Arus yang deras... kapal pun merapat..

Kami menghabiskan waktu sore bersantai di Batu Karas dengan ombak tenang yang ah….nikmatnya. pasir hitam yang bersih. Langit mendung tidak bisa menghentikan keceriaan orang2 di sana. Bermain di Batu Karas tidak butuh banyak biaya. Kita bisa berjalan jauh ke tengah dan tinggi air hanya sedagu kita. Bersantai tidur di atas ban karet juga menyenangkan. Ada penyewaan surfing, ada permainan banana boat juga.

Morning at Batu Karas

Morning at Batu Karas

Kita makan malam seafood di dekat hotel. Makan gila2an Cuma habis Rp. 169.000 ber 8. Enak…
Paginya, kita masih sempat bermain2 sebentar sebelum pada jam 11 siang, kita beranjak menuju Bandung lagi. Perjalanan yang panjang untuk menutup liburan kali ini. Di bandung kita makan di Boemi Joglo, memesan banyak tempe mendoan, sate sapi yang enak, dan Nasi Liwet yang ga mirip nasi liwet.

Morning at Batu Karas 2

Morning at Batu Karas 2

Setelah di total. Perjalanan kali ini membuat kami mengeluarkan uang kas 250.000 per orang ++. ++ dihitung untuk makan2an kecil lain, pengeluaran2 yang bukan milik bersama. Yah, kira2 per orang habis Rp. 350.000. Menyenangkan rasanya kabur di akhir minggu setelah minggu yang penat. Another great escape…

Great Escape Team

Great Escape Team

Blog de WordPress.com.