polaroid hitam putih

Diciembre 28, 2008

Hope and Fears – a football review

Archivado en: sportivo — Bintang Pramodana @ 5:15 am

Tidak perlu lagi gue mengatakan bahwa gue adalah Liverpudlian. And this season is their best chance for decade to win EPL. Apakah gue –pada akhirnya- akan benar2 menyaksikan Liverpool menjuarai EPL? Entahlah, gue hanya bisa berharap. Ini adalah tim terbaik Liverpool sejak gue mendukung tim ini belasan tahun lalu.

Di depan gawang, Pepe Reina jelas adalah salah satu kiper terbaik di dunia saat ini. Dan semua penjaga gawang Liverpool sejak jaman David James, Sander Westerveld, Brad Friedel, dan Jerzy Dudek berada pada 1 level di bawahnya.

Liverpool mempunyai bek tengah yang sangat hebat jika mereka semua fit. Tidak ada yang meragukan Jamie Carragher. Gue rasa dia rela mematahkan kaki kirinya demi menjaga gawang Reina. Dan tentu saja, Daniel Agger dan Martin Skrtel, 2 bek muda paling menjanjikan saat ini. Siapa lagi bek muda yang sehebat mereka, katakan pada gue. Siapa lagi pemain pengganti sebaik legenda Finlandia, Sami Hyypia, yang di klub lain sudah pasti menjadi pilihan pertama. Masalahnya, di posisi full back Liverpool tidak pernah serapuh ini. Alvaro Arbeloa menjaga sisi kanan tanpa pengganti yang memadai. Di sisi kiri lebih kritis lagi. Sejak John Arne Riise kehilangan sentuhannya dan dibuang ke Roma awal musim ini, tidak ada yang benar settle di sana. Aurelio bukannya jelek, tapi kebiasaannya cedera sungguh mengkhawatirkan. Andrea Dossena lebih mengerikan, mungkin lebih baik bermaik dengan 10 orang saja. Harapan ada pada bek muda Argentina, Emilliano Insua, yang bermain brilian saat melawan Arsenal. Tapi ia pemain muda, mentalnya belum lagi terasah.

Sangat sedikit klub yang memiliki gelandang tengah sekomplit Liverpool saat ini. Steven Gerrard, si legenda hidup Liverpool, si kapten super yang selalu menjadi tumpuan harapan. Xabi Alonso dalam permainannya yang paling gemilang sejak masuk tahun 2004 lalu, pemain timnas Spanyol yang baru saja menaklukkan Eropa. Ada lagi Javier Mascherano, kapten Argentina yang selalu hadir buat pemain2 lawan, untuk menghajar mereka. Lucas Leiva mungkin 1 level di bawah mereka semua, tapi ia punya potensi. Pemain terbaik Liga Brazil 2006 dan mantan kapten Brazil U-20 sudah cukup untuk membuktikan potensinya. Dibawah mereka masih ada Damien Plessis, Jay Spearing, dan pemain muda lain yang mungkin harus menunggu lamaaaaaaaa untuk merebut tempat itu dari senior mereka.

Dan sisi sayap selalu menjadi titik lemah Liverpool. Liverpool tidak pernah memiliki pemain sayap yang profilic seperti halnya lawan2 mereka. Namun harapan besar datang sejak Albert Riera bergabung dan langsung nyetel dengan permainan Liverpool di sisi kiri. Si pekerja keras Dirk Kuyt adalah pilihan utama Benitez di kanan. Para pemain pengganti tidak terlalu menjanjikan. Ryan Babel bermain tanpa konsistensi di sayap kiri yang membuat gue berpikir ada baiknya memasang pemain muda ini di posisi favoritnya, penyerang tengah, siapa tahu dia bermain lebih baik. Yossi Benayoun terkadang menemukan kreatifitasnya dan bermain gemilang. Jermaine Pennant malah dalam posisi akan dijual.

Kenapa Ryan Babel tidak mendapat tempat sebagai striker? Tentu saja, siapa bisa menggantikan Fernando Torres, si mantan kapten Atletico yang bermain kesetanan di musim pertamanya tahun lalu. Musim ini Torres banyak cedera, pemain lawan mulai sadar, cara menghentkan Torres adalah dengan membuantnya digotong keluar lapangan. Gue ga heran kalo suatu saat Torres menjadi kapten Liverpool bila dia terus bersama Liverpool. Bila Torres cedera? Siapa lagi yang menggantikan selain pemain mahal dari Totenham itu, Robbie Keane. Keane baru saja menunjukkan kehebatannya dalam 2 pertandingan terakhir ini. Pemain uda David Ngog baru saja didatangkan dari Prancis dan masih menjadi understudy untuk Torres dan Keane. Kriztian Nemeth seharusnya diberi kesempatan. Menonton dia di pertandingan reserve sangat menyegarkan.

Setengah musim sudah berlalu, dan Liverpool masih berada di puncak klasemen. Gue Cuma bisa berharap ini akan terus bertahan. Lain tidak.

Diciembre 26, 2008

Carolina

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 7:55 am

So, she’s my spanish teacher. She’s tall, she’s blonde, she’s 31 years old, and she’s cool. Carolina Pardal Belinchon –begitu nama legkapnya, kadang datang dengan sepatu yang sedikit diseret, kadang dengan langkah gembira, dan menyapa “hola?”, “esta bien?”. Dan kami pun menjawab bodoh “si!” atau “bien”.
Carolina paling ga bisa mneghafal nama. Kadang hal ini menyebalkan untuk sebagian orang. Bayangkan, its been 3 months and she’s still calling me by “el doctor!” sambil tersenyum nakal. Itu masih cukup beruntung karena kita dikenali dengan profesi kita. Teman2 yang lain juga dipanggilnya dengan “el marinero” (si pelaut), “el investigador” (the analyst), atau “la profesora” (si guru). Sialnya, beberapa yang lain dipanggil hanya dengan penampilan fisik belaka!! Yang terkadang menyamain orang lain. Contoh: “chiko gaffas” (pria berkaca mata), “chika, rosa” (wanita, merah). Haha. Dan yang paling parah, ada cewek cina yang dengan selengean dipanggilnya “singapur” karena menurutnya mirip orang2 singapur. Haha.
She’s cool. Very cool. She reads Naguib Mahfouz, she watches Almodovar, she likes flamenco. Dan yang paling keren dari dia adalah keberadaannya di Indonesia.
Gue heran, kenapa orang kayak dia bisa berada di sini. Di Jakarta. Spanyol jelas tempat yang lebih menyenangkan dari Jakarta. Dan ia suka sekali bercerita mengenai berbagai macam kebudayaan spanyol. Kemarin, sambil ngopi2 di kantin Prima seusai memberikan raport, gue beranikan diri bertanya:
“why do you teach here?”
Dan ia bercerita bahwa ini memang pilihannya, dan bagaimana ia jatuh cinta kepada Asia sejak tinggal di India selama 1 tahun. Ketika kembali ke Spanyol, ia memutuskan untuk ke Indonesia, negri dengan banyak pulau, katanya. Sampai kapan disini? Kita bertanya. Mungkin untuk waktu yang lama, katanya. Lalu ia bercerita lagi mengenai rencana tesisnya tentang gender. Ia sedang berusaha mencari jalan untuk masuk ke Timor Leste dan meneliti tentang gender disana.
“you know, women there have an average 7,3 children”, katanya menjelaskan alasannya memilih Timor Leste. “They’re the poorest country in Asia”.
Damn, gue selalu kagum dengan semangat2 gila kayak gini. Bayangin, elo bangun dari tempat tidur empuk lo di Spanyol sana, dan memutuskan tinggal dirumah kontrakan di Jakarta. GILA, menurut gue. Dan dia masih muda, belum menikah, belum punya anak, dan dia sama sekali tidak jelek. Pulang balik naik ojek dan bajaj. Haha, ngebayangin abang ojeknya lagi ngeboncengin dia, apa ya yang dipikirin si abang ojek. Haha.
Sekali ia terlihat sedih ketika ultahnya yang kami rayakan secara sederhana di kelas dengan membelikannya sebuah kue coklat yang pada akhirnya pun dimakan bareng2. Awalnya dia nanya ke kita semua:
“at 31, what would Indonesia women be?”
Semua menjawab serempak, dan gue menjawab ngasal : “a mother”
“a mother? Si?”
“si”
“why?”
Dan gue jelaskanlah betapa risiko kehamilan di atas 30 tahun cukup banyak dan kemungkinan membesar terus. Dia kaget. Dan tiba2 bertanya nakal:
“do you want to have a child, now?”
Haha. Gue ga tau gimana muka gue ditanya begitu. “si senorita, si!” hehehe.
Dan beberapa saat ia terlihat sedih dengan penjelasan gue. Dan gue sedikit menyesal. Namun setidaknya gue memperingatkan hal itu. Namun setelah mendengar ceritanya dan cita2nya yang liar, gue rasa, ga banyak pria yang bisa membuatnya jatuh cinta (sok tau sih), dan dengan tulus gue berharap, semoga semua penakit ibu hamil macam pre eklampsia, plasenta previa, kelainan kongenital, atau bahkan abortus dijauhkan darinya. Amin….

Diciembre 20, 2008

learning from the bad

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 4:11 pm

Kadang elo belajar jadi sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yag buruk. Sesuatu yang elo ga suka.

Selama di Obgyn ada beberapa PPDS yang sungguh membuat gue dan beberapa teman mengurut dada karena kekesalan yang tidak bisa dilampiaskan. Namun orang2 ini juga yang pada akhirnya mendorong gue untuk menjadi orang yang insya Allah ga nyebelin kayak gitu.

Beberapa PPDS menyuruh kita melakukan sesuatu dengan semangat menyuruh pembantu. Ini benar2 menyebalkan.

“dek, liatin kamar A dong! Pasiennya udah dipindah belom?”

Setau gue kamar A kosong, gak ada pasien.

“bukannya kosong dok?”

“Yang sebelahnya dong! Ngebantah lagi lo!”

Anjing bgt. Dia pikir gue babu-nya apa? Cuma susah juga hidup di Obgyn, bermasalah dikit, bisa2 ngulang stase! Huh.

PPDS lain membuat teman gue memukul tembok karena kesal setengah mati. Pasien sedang ramai, dan dari awal jaga, teman saya disuruh untuk memfollow up dulu semua pasien di sana. Belom lagi tugs itu selesai, datang pasien baru lagi.

“Kamu anamnesis dulu ampe selesai dek!” kata si PPDS.

Jdilah teman gue meninggalkan tugas lamanya. Ketika baru saja pasien baru itu selesai di anamnesis, si PPDS balik lagi. Nanya:

“kok ini follow up belom selesai?!!”

“kan tadi dokter suruh anamesis pasien?”

“bantah lagi lo!”

BUK! Teman saya memukul tembok. Untungnya tidak di depan si PPDS.

PPDS lain beda lagi. Dia ga membiarkan elo tidur ataupun duduk2 walaupun kagak ada pasien. Ada aja elo disuruh2 sesuatu yang sebenernya bukan kerjaan yang bersifat klinis. Ambilin ini itu lah, nganter ini itu lah, yang penting elo kagak tidur!

Pada akhirnya, kita Cuma bisa ngambil positifnya aja. Kita semua belajar, bahwa menjadi PPDS yng menyebalkan itu sangat tidak menyenangkan. Diomongin adek kelas, dihujat di belakang. Mending ngajarin apa gitu. Ya, semua orang punya pilihan lah. Toh pada akhirnya mereka terkenal juga di kalangn adek2nya kan? Haha!

Blog de WordPress.com.