polaroid hitam putih

Noviembre 23, 2008

PTT??

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 11:52 am

Beberapa waktu belakangan ini, saya mulai sering berpikir tentang apa yang akan saya lakukan setelah lulus. Hal2 macam STR, SIP, dan segala macam birokrasi yang kita tau bersama tidak akan pernah simpel di negara kita tercinta ini. Belum lagi masalah PLD dan ujian kompetensi. Rasa-rasanya rencana saya untuk PTT secepatnya akan mundur beberapa waktu.

Setelah kemaren ada kayak sharing tentang PTT gitu di kampus bersama beberapa senior yang sudah kembali dari PTT, saya semakin yakin juga untuk PTT. Yah, walaupun saya yakin juga bahwa tidak semuanya berjalan indah dan lancar. Tujuan utama saya adalah bisa membayar sendiri program spesialis saya, selain tentunya untuk membebaskan diri dari pendidikan yang memuakkan ini.

Kalau bisa tentu saja daerah yang mau saya tuju adalah daerah2 dengan pantai-pantai indah dan pasir putih dengan ombak biru yang senang bercanda dan berbicara. Sulit memang untuk mencapai situasi ideal macam begini. Namun setidaknya mendekati lah. Jangan di gunung atau kota dan daerah2 yang gersang. Ada beberapa daerah yang sudah ditawarkan pada saya melalui beberapa kenalan ibu (yang walaupun bukan dokter, kok bisa banyak yang nawarin anaknya PTT). Yang paling konkret adalah tawaran ke Kaltim dari teman ibu yang dokter Obsgyn di sana. Namun dia belum bisa menjamin keadaan finansial di sana, padahal itu salah satu tujuan saya PTT bukan? Saya ga mau mebuang2 waktu hanya untuk mendapatkan sedikit uang untuk kemudian membebani orang tua lagi. Sampah sekali. Beberapa tempat lain yaitu Papua (saya pengen ke sini!), Lombok (saya juga cinta lombok!), dan Karang Anyar (yang langsung saya tolak mentah2). Tapi kedua tempat pertama tadi belum sempat di follow up sehingga tidak jelas sampai sekarang.

Setelah dari meng-email dokter Seno di Balikpapan untuk sekedar keep contact, sekalian aja saya mencari di google tentang pantai2 di Kalimatan dan khususnya diving spot di Kaltim. Dan ternyata….. ADA!! Ada 3 diving spot di Kaltim yang bagus. Ah, how i love the sea… segera saja saya melanjutkan pencarian google saya untuk “alat snorkeling dan diving”, hahaha! Mendapatkan beberapa toko di Jakarta yang menjual dengan harga berkisar 700-1,4 juta per paket. Good enough, hehe.

Jadi, jika saya PTT, sudah ada beberapa barang yang wajib saya bawa nih.

1. Laptop! Mencegah kebosanan adalah hal penting. Laptop mungkin juga harus dilengkapi dengan modem untuk koneksi internet (semoga bisa!!), lagu2 saya yang berjumlah 30 GB, film2 yang di download di Jakarta, dan tentu saja kumpulan ebook yang sudah di download. Males banget kan bawa2 buku tebel2 ke sana.

2. iPod. Apalagi yang perlu dijelaskan? I cannot live a day without it…

3. needle holder sendiri. Hehehe. Ini hasil dipanas2in Anne nih. Sial2nya dapet puskesmas yang alat2nya udah bapuk semua. Lagian punya needle holder yang bagusan (ada ga ya yang erkisar 200-300 ribuan) biar bisa dipake terus2an dan tetep bisa “megang”.

4. Snorkeling equipment! Hehe.

5. Olympus E-500 yang sudah menemani keliling jawa bali.

6. Pengennya sih punya kamera underwater. Atau paling ngga kamera pocket dengan plastik penutup anti air yang harganya 200 ribuan. Atau lebih bagus kalo casing underwaternya si Olivia (nama Olympus E-500-nya, hehe).

Yah itulah… semoga aja jalan saya dimudahkan ya… amin…

Noviembre 9, 2008

Death and All His Friends

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 5:18 pm

Kemana kematian membawa seseorang sebenarnya? Apakah mendekati Tuhan, atau malah menjauhinya?

Saya berbincang dengan seorang teman saya di mobil. Dia bercerita tentang kesedihannya ditinggal ayah yang sudah berpuluh tahun ini menemani dia sendiri. Kematian orang ini memukulnya karena pada akhirnya ia hanya seorang diri. Kakak dan ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dengan jarak hanya 4 hari. Tidak terbayang rasanya kalau saya harus mengalami itu.

Saya sering sekali berpikir bahwa saya ingin menjadi orang yang pertama kali meninggal. Bukan karena merasa paling siap, justru karena saya merasa tidak akan pernah siap menunggu untuk ditinggal. Saya merasa tidak akan kuat menjadi yang ditinggalkan. Sebutlah saya egois, tidak mengapa.

“gue sempet marah ke Tuhan, ke Allah,” begitu teman saya berkata, “gue jadi males solat.” Dia berkata seperti itu dengan nada yang cukup datar sampai saya bisa ttersenyum dan berpikir dia berlebihan. Walaupun begitu, saya tahu bahwa kehilangan ayahnya adalah pukulan yang berat baginya, terlebih saat kejadian dia tidak jadi mengambil cuti karena pekerjaan di kantor. Sang ayah meninggal sendirian di kamar, paling tidak suasana sesak ketika aja dipanggil itu tidak dirasakan juga oleh satu-satunya anaknya. Apakah sang ayah bersyukur atau tidak, saya tidak tahu. Dan perasaan sang anak, teman saya ini, membuat saya curiga adalah campuran dari perasaan bersalah dirinya sendiri.

Namun, siapa yang bisa memastikan kita tidak mengalami hal itu?

Siapa yang bisa memastikan ketika keluarga yang kita sayang mendekat kepada Tuhan, kita tidak malah menjauh dan menyalahkan Tuhan?

Kalau mencintai seseorang ternyata mempunyai konsekuensi seperti ini, apakah kita akan berhenti mencintai?

Blog de WordPress.com.