polaroid hitam putih

Octubre 25, 2008

untitled

Archivado en: amores perros — Bintang Pramodana @ 8:46 am

Beberapa bulan belakangan ini saya banyak (terlalu banyak) mendengar mengenai berita putusnya hubungan teman2 saya. Tadinya saya tidak terlalu berpikir banyak mengenai hal ini selain rasa heran saya kenapa semuanya seperti terkena demam putus (saya sendiri pun terkena juga). Namun, sehabis saya berbincang-bincang dengan ibu saya pagi ini, saya jadi berpikir, “bagaimana jika sebuah hubungan tidak bisa lagi disudahi semudah itu?”, bagaimana kita menyesalinya? Apa yang akan kita lakukan? People go wrong everytime, our partners hurt us everytime, we lie as many as we tell the truth, but can we forgive and forget all the time? Can we accept that our whole lives?

Ibu bercerita mengenai beberapa kenalan yang dia tahu kehidupan pibadinya. Sulit juga mnjadi orang yang menampung banyak cerita pribadi seperti ibu saya ini. Sebagai orang yang sering dipercaya mendengar cerita dan memberikan nasihat yang baik, sesekali perlu juga rasanya dia membocorkan sedikit cerita tersebut agar tidak membebani pikirannya. Toh, sedikit yang saya kenal secara pribadi.

Cerita tentang seorang istri yang “dikurung” oleh suaminya di dalam rumah, telpon rumah yang dikunci, meteran listrik yang dipantau secara harian, dan minimnya uang harian yang dihitung secara berlebihan. Wanita ini begitu sedih dan sakit. Dia bahkan tidak bisa menghubungi orang tuaya untuk mengucapkan selamat lebaran. Dan ia menyesali keputusannya menikahi pria yang menjadi suaminya ini. Sayangnya, hubungan ini sudah tidak bisa diakhiri dengan kata “putus”.

Cerita lain tenang seorang pria yang mencurigai istrinya berselingkuh sebelum akhirnya mendapati mereka berdua di dalam mobil di sebuah lobi hotel. Dia mengusir istrinya dari rumah, sebelum akhirnya sang istri kembali lagi 3 hari kemudian. Pria ini menerima istrinya kembali. Tapi apa dia memaafkan? Apa dia menerima? Apakah hanya karena anak2 mereka yang menunggu ibunya pulang? Hubungan ini sudah tidak bisa diakhiri oleh kata “putus”.

Saya mengehela nafas pendek. Saya tidak bisa berpikir lagi…

Blog de WordPress.com.