polaroid hitam putih

Septiembre 29, 2008

Buka Puasa bersama dan pertanyaan2 yang menginduksi “quarter life crisis”

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 7:29 am

Bulan puasa selalu saja ada berbagai macam buka puasa dengan berbagai kelompok teman dan urusan. Hal ini kadang mengasikkan, ketemu dengan teman2 lama, bertukar cerita tentang apa sejauh mana hidup sudah berjalan meninggalkan masa lalu kita dulu. Kalaupun sama2 sefakultas dan seangkatan, misalnya, jarak dan jadwal yang ada sudah cukup memisahkan kita untuk ga bertemu. Sebegitu mudahnya hidup terpisah. Tempat dan waktu.

Buka puasa bersama adalah jalan untuk menyamakan kembali tempat dan waktu tersebut, sehingga kita bisa lagi saling bercengkerama, mengingat kembali nama-nama dan memori yang sudah terhapus dan tergantikan memori2 baru. Oleh karena itu, buka puasa bersama seringkali adalah salah satu hal yang paling ditunggu dalam bulan ramadan.

Tapi, ada hal yang paling ga gue suka dalam buka puasa beberapa tahun belakangan. Bukan saja karena gue pasti jadi ga solat teraweh, tapi ada lagi.

Entah kenapa, gue selalu merasa minder tiap kali buka puasa. Pertanyaan2 seperti “lagi sibuk apa lo?”, “kerja dimana lo?” sudah mulai sering muncul sehubungan dengan makin tua-nya umur kita. Dan pertanyaan2 itu menggedor integritas gue. Ketika teman2 sudah mulai bekerja dan melepaskan diri dari biaya orang tua, gue masih menunggu uang jajan bulanan. Dan pertanyaan “lo lagi dimana tang?”, selalu dengan menysakkan gue jawab “masih belajar aja. Di RSCM”. Anjing! Udah berapa ttahun gue jawab kayak gitu!

Buka puasa teman2 SMA di kalimalang berisi teman2 akrab seperti Adit dan Ogi yang sudah sejak SMP berteman dengan gue. Untunglah ada yang melepaskan gue dari pertanyaan2 itu, yaitu cerita2 mengenai travel kita masing2. Kebetulan atau tidak, gue, ogi, da adit sama2 sudah mengunjungi Gili dan jatuh cinta dengan lokasi itu. Tidak lama sampai kami memutuskan untuk berkelanan bersama. Tujuan kami adalah ke Karimun Jawa, pulau di utara Semarang itu.

Hah, bagaimanapun, gue masih akan terus menerima pertanyaan2 itu tadi, dan mengalami apa yang kita sebut “quarter life crisis” atau “krisis usia seperempat”, hehehe. Setidaknya untuk setahun ke depan lah…

God, grant me the right way to walk..

Women and their wish of paranormal boyfriends

Archivado en: amores perros — Bintang Pramodana @ 7:08 am

Sometimes last week, gue duduk dengan dua orang temen gue. Dua wanita ini berbicara terbisik yang masih dapat terdengar oleh telinga gue. Dan mereka tidak tampak keberatan dengan itu. Salah seorang dari temen gue ini baru aja putus setelah sekian lama, maksud saya, lama sekali, berpacaran. This was part of the conversation goes… (at least as i remember it)

“but you still have contact with him, arent you?”

“nope”

“how come?!”

“because i ddint want to. I said that”

“but you didnt…”

“no, i didnt mean it”

“of course you dont”

“…”

“that stupid boy”

“yeah, he’s stupid!”

“dont be that stupid ya, tang” (tiba2 mereka berbicara ke gue, karena mungkin merasa volume suara mereka terlalu keras dan sulit untuk berharap gue nggak mendengar).

This is what women always do. Mereka cenderung tidak mau berkata apa yang mereka rasakan atau yang mereka inginkan, atau malah berkata sebaliknya dari yang mereka inginkan. Kadang mereka mengucapkan itu dengan nada suara berketetapan hati yang keras. Dan mereka ingin para pria itu mengerti apa yang mereka katakan. Bila tidak, maka si cowok akan dibilang bodoh, tidak peka, tidak sensitif, dan huh, berbagai perkataan lain.

Sial bagi kita, para cowok, dimana kebanyakan cewek selalu beranggapan para cowok seharusnya menjadi some kind of paranormal yang bisa membaca pikiran orang. Mereka ingin kita memiliki telepati sehingga apa yang mereka inginka dapat terpenuhi tapa harus mengorbankan harga diri mereka dengan berbicara di depan kita.

Buat gue, ini salah satu hal yang sulit gue mengerti dan pahami. Sekeras apapun kita mencoba, kita akan sering salah menerka, dan jadilah kita menjadi “si tidak peka” dan tentu saja mereka akan menjadi “si paling peka”. Huh. Communication, dear, is everything. Maybe its true that we have to learn some kind of magical ability to –at leats- understand…

Septiembre 7, 2008

we dont really have to change

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 3:53 pm

Why do people change anyway? Why do they change in a way that some may not understand? But they perhaps dont really care about it.

John Mayer menyanyikan “Why Georgia?”

Coba kita melihat diri kita masing2. Have we changed that much? When did it happen? Or why? Dan bila kita mulai menyadarinya, coba kita mencari lebih jauh, apa yang menyebabkan perubahan itu, atau siapa.

Pada dasarnya setiap hidup manusia mempunyai turning point. Titik dimana kita berubah, entah menjadi apa. Dan di titik itu juga ada sesuatu atau seseorang yang membuatnya seperti itu. Bila seorang pria berubah, sebagian besar alasannya pasti adalah wanita. Apa elo juga gitu?

Gue sendiri menyadari tahap2 perubahan dalam hidup gue. Dan gue menikmati itu. Dan selalu ada katalis dalam setiap kejadian itu. Orang2 yang pernah hadir dalam hidup gue. Teman2 di masa SMP merupakan titik balik terbesar gue dari seorang anak-kecil-ga-tau-apa2 menjadi abg-sok-tau. Dua orang wanita terpenting dalam hidup gue di SMA membuat gue memasuki trak hidup gue sekarang. Dua wanita yang mengembangkan sisi2 terbaik dan terburuk dalam hidup gue skaligus, yang membuat gue mulai menulis dan menghargai seni. Teman2 di SMA yang menambah saja kegilaan dalam hidup gue. Orang2 yang secara ga mereka sadari, telah menjadi katalis perubahan. Agent of change.

Sampai saat ini, gue melihat banyak orang berubah. Dari pematangan kedewasaan yang bagus, sampai jadi penganut ajaran sesat. Menarik bukan, bagaimana manusia berubah? Dan kadang sungguh membanggakan bila kita bisa sedikit geer bahwa kita adalah agent of change itu.

Salah satu teman terdekat gue di kuliah saat ini berubah drastis sejak masuk kuliah. Dari sifat, gaya hidup, dan kepribadian. Bahkan genre musik! Si pencinta musik anime pada akhirnya menjadi penganut indie pop eropa.

Namun ketika seseorang terdekat kita berkata: “you’ve changed a lot, that i dont know you anymore”, kita patut khawatir, dan berpikir ulang ke belakang. Sejauh apa kita berubah? Untuk apa? Apa yang kita korbankan? Mungkin kita berada di jalan yang benar dan menuju sebuah kebaikan, tapi mungkin juga kita sedang tersesat pada hutan coklat menggiurkan yang dihuni para nenek sihir. Bila yang terakhir lebih mendekati, ada baiknya kita meyusuri jalan pulang lagi…

People change, i know, but sometimes we dont really have to. Aight?

talking about music

Archivado en: music — Bintang Pramodana @ 4:31 am

Kadang2 gue bingung deh dengan perubahan arah musik gue. Dari SMP sampe sekarang, genre gue berpindah-pindah, dan sialnya, cenderung berjalan ke belakang. Mengingatkan gue bahwa gue udah semakin tua untuk sebuah kemajuan dan pembaruan di musik. Ibarat musisi, mungkin gue semakin dewasa. Haha.

SMP gue sempet ikut jalur mainstream. Suka apa yang orang suka. Dengerin apa yang orang denger. Percaya pada MTV bahwa mereka adalah pembawa kebenaran di musik. Gue bahkan menyukain beberapa musik yang bisa gue bilang adalah “aib” gue sepanjang masa. Apa itu? Ogah gue ngasih taunya. Tapi akhir masa gue di SMP, sebuah pencerahan dalam bentuk brit-pop datang. Walaupun pada masa itu brit-pop sudah di ambang kehancuran, tetapi gue bersemangat mengikuti jalur itu. Menelusuri Oasis, Suede, dan Pulp. Pada awalnya mungkin hanya kesamaan potongan rambut, lalu beranjak pada pakaian, dan akhirnya sifat. Gue mungkin satu dari sedikit orang yang tidak jatuh kepada jaman Ska, dan sudah memandang bahwa rezim Ska Indonesia adalah sebuah lembaran hitam musik. Hehe. Gue mencibir band2 Ska apalagi band2 sekolahan yang bermain ska. Hueks!

SMA gue mulai menelusuri ke belakang sejarah brit-pop sambil berjalan maju mengikuti band2 brit-pop baru penantang era musik rock Amerika. Mendengarkan Pablo Honey-nya Radiohead yang merupakan pencerahan lahir batin. Banyak pencinta Radiohead masa kini yang meghina Pablo Honey dengan membandingkannya pada OK Computer. Tapi ga ada OK Computer tanpa Pablo Honey. Yellow muncul dan nama Coldplay mulai mengudara. Gue langsung jatuh cinta. Gue juga mulai melebarkan sayap musik gue ke berbagai band radio yang ga terkenal saat itu. Gue lupa apa aja. Kasarnya, i live everyday with music. Kasih gue satu lagu yang ada di radio di jaman itu, 70% gue yakin tau siapa penyanyi dan judulnya. Gue mulai mengakrabi Phoenix, Ocean Colour Scene, The Verve, Supergrass, dsb.

Dari akhir SMA sampai kuliah musik gue makin liar ga terkendali. Gue sempat menjadi fanatik klasik. Mendengarkan musik2 Mozart sepanjang hari, terlena dengan Chopin, dan membeli berbagai kompilasi klasik yang ada. Lalu mulai medengarkan jazz (dengan selalu datang ke 2 Java Jazz pertama, dan beberapa acara jazz lain) sampai kemudian bertemu dengan bossanova dengan ratu-nya Astrud Gilberto. Kemudian gue sangat mengakrabi scene indie, baik dalam maupun luar negri. Segala sound2 indie yang ada, gue usahain denger. Itulah saat dimana akhirnya gue berkiblat pada Death Cab For Cutie dan Bloc Party. Tapi di saat bersamaan gue mulai menjelajah kembali sejarah musik seiring Rolling Stone Indonesia membeberkan keindahan rock and roll jaman dulu. Gue sempet menggilai Led Zeppelin, mendengarkan banyak lagu The Beatles.

Saat ini, diawali dengan mendengarkan Ryan Adams berubah menjadi lebih dewasa dengan musik country-folk-rock yang asik, gue makin ke arah coutry dan blues. Gue mengkoleksi semua sound country Ryan Adams yang gue anggap keren banget, mendengarkan lagi Norah Jones yang gue pikir lebih ke country daripada pure Jazz, berusaha mengerti kata2 Bob Dylan, dan menyelami lebih jauh sound The Beatles ke belakang. Gue makin mundur. Gue melangkah jauh dari musik Arctic Monkeys yang gue anggap monoton. Gue menutup mata dari scene heboh My Chemical Romance dan Panic At The Disco yang buat-ABG-aja-deh.

Semua hal berubah, dan memang perlu berubah. Gue seneng dengan perkembangan musik gue yang makin mundur ke belakang walaupun di satu sisi gue mengerti kenapa om-om dan bapak2 selera-nya ga pernah maju dan sama kayak anak sekarang. Gue akan menjadi om-om dan bapak2 yang dulu gue pertanyakan. In a good way, of course.

Septiembre 6, 2008

City, Al Fahim, dan Nasib Sepakbola Modern

Archivado en: sportivo — Bintang Pramodana @ 2:43 pm

Apa yang dilakukan Manchester City baru2 ini memang mengguncangkan sebagian besar dari kita, pencinta sepakbola. Awalnya kita dibuat tidak percaya bahwa klub kelas menengah seperti The Citizens mampu membeli salah satu talenta dunia paling terkenal saat ini, Robinho, dari Real Madrid dengan harga transfer 32 juta pound yang menjadi rekor di Inggris. Lalu perlahan kita mulai khawatir dengan nasib sepaknola modern di tangan para pemegang uang dan pemain2 mata duitan ini.

Para investor baru tim2 liga Inggris adalah para pengusaha yang pikirannya hanya berada pada uang dan apa yang bisa dibeli dengan uang itu. Al Fahim berpikir dia bisa membeli semua pemain di dunia dengan uangnya itu. Dia pikir bisa menumpuk Buffon, Fabregas, Ronaldo, Robinho, dan Torres di satu tim, lalu memenangkan liga. Dia pikir sepakbola adalah permainan matematis sekumpulan individual apa?

Para pemain besar tersebut, bahkan Buffon yang sudah berumur lebih dari 30 tahun dan ditawari kontrak pemecah rekor dunia, tidak akan berpikir untuk pindah ke City. Ya kecuali pemain2 mata duitan macam Robinho. Football is the passion that lies within it. City sama sekali ga punya sejarah sebagai tim besar, dan sekarang dengan uang yang tidak terbatas, ia berharap bisa membeli sejarah? Bermimpilah.

Al Fahim tentu tidak tahu bahwa sepakbola adalah permainan tim. Dan bahwa building tim dan kekompakan adalah yang terpenting di sepakbola. Dari setiap satu orang pemain top dunia, ada belasan pemain lain yang membantunya dan rela namanya tidak banyak disebut dalam sejarah. Kita tahu bahwa dari rekor gol Fernando Torres tahun lalu, ada Dirk Kuyt dan Ryan Babel di sampingnya, yang rela bekerja keras demi sebuah peluang gol untuk Torres. Kita tahu bahwa di belakang Christiano Ronaldo selalu ada Gary Neville atau Patrick Evra yang menjaga agar Ronaldo tidak perlu berpikir tentang pertahanan ketika membongkar pertahanan lawan. Siapa yang ingat bek Argentina ketika Maradona membuat mereka menjuarai Piala Dunia 1986? Apa Maradona bermain bola sendirian di lapangan? Apakah headlines koran waktu itu “Maradona membawa Argentina juara dunia” adalah sebuah kesalahan?? Selalu hanya satu orang yang disebut dalam sejarah.

Pikirkan bila semua pencetak sejarah dan nama2 besar itu berada dalam satu tim. Bisakah mereka menerima ada di bawah bayang2 nama yang lain? Bisakah mereka meletakkan ego mereka di bawah kepentingan tim? Kadang hal ini sulit, sangat sulit. Dan City beserta Al Fahim-nya jelas tidak paham hal ini. Dan itu akan menjadi awal berhamburannya uang Al Fahim untuk sekedar papan tengah liga Inggris –sesuatu yang dicapai Aston Villa atau Porthsmouth dengan 10% apa yang dikeluarkan City.

Viva Sepakbola!

Blog de WordPress.com.