polaroid hitam putih

Julio 30, 2008

Sad Story Related To Money

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 1:32 pm

Beberapa hari yang lalu gue bersama ibu sedang singgah untuk solat di Mesjid Sunda Kelapa. Banyak laki-laki, perempuan, dan anak2 di dalam dan luar mesjid yang duduk2 untuk meminta-minta dan berharap paada kebaikan hati orang2 yang datang ke mesjid.

“makin banyak ya orang2 yang males” kata ibu saat itu.

Ga salah sih, bukan bermaksud mendeskriditkan mereka dan orang2 ga mampu lainnya, tapi mereka ini benar2 sehat dan masih muda! Mereka Cuma tinggal di mesjid yang sejuk dan sekali dua mendapatkan uang dari pengunjung mesjid, danmungkin juga dari pengurus mesjid. Semua orang tau mesjid Sunda Kelapa merupakan salah satu mesjid yang katanya memiliki kekuatan finansial yang baik. Siapa menyalahkan mereka kalo hanya dengan duduk2 di selasar mesjid yang sejuk mereka bisa dapat makan?

Gue ama ibu ga ngasih saat itu. Tapi ketika di luar, ada seorang laki-laki muda yang berpakian pemulung. Ia minta uang buat makan. Karena kasian, kita ngasih seribu. Tapi terus dia bilang:

“kalo nanti ibu ada kelebihan uang 25 ribu, bantu saya ya bu. Saya mau jualan koran”

Antara keragu2an dan kebimbangan, akhirnya kami memberikan juga uang itu. Maksud gue, pikir deh, uang 25ribu apa sih buat sebagian besar dari kita? Sedangkan uang segitu bisa mengubah hidup orang kayak dia – kalo dia benar2 menggunakan itu buat modal jualan! Kalo engga, dan gue Cuma kprban penipuan modus baru, males juga dan ga ikhlas kan lo? Masalahnya sampe sekarang gue ga pernah tau uang itu buat apa.

Gila ga, uang 25 ribu bisa menimbulkan hal kayak gitu. 25 ribu bisa berarti pemulung hari ini, penjaja koran hari esok. 25 ribu bisa berarti penipuan modus baru. 25 ribu adalah batas antara kepercayaan dan kecurigaan, ikhlas dan ga ikhlas, serta hati nurani atau mencoba apatis. Kalo gue ga ngasih uang itu, gue yakin sampe hari ini pasti gue kepikiran banget.

Kejadian berminggu2 sebelumnya, ketika gue membeli bakpau juga sama menyedihkannya. Adek gue teriak ama tukang bakpau untuk “1 kacang hijau, 1 coklat pak! Ya 2!”. Harga satunya 5000 dan karena udah lampu hijau si bapak musti berjalan jauh banget buat nganterin bakpau itu buat gue dan adek gue yang kelaparan. Kasian banget itu bapak. Cuma buat uang, brapa sih 10 ribu doang..

Gue kepengen ngasih lebih. Gue kasih lah 12 ribu. 2 ribu kan gede banget artinya. Pas banget ga beberapa detik kemudian, lampu hijau lagi, jadi gue langsung cabut abis ngasih uang itu. Si bapak terlihat sedih waktu nrima uang itu sebenernya, itu yang bikin gue heran. Apa uang tip gue kurang ya??

Beberapa detik setelahnya gue baru tau knapa wajahnya sedih banget… bakpaunya ada 3… artinya gue harusnya bayar dia 15 ribu. Anjing ga sih. Ketika elo berharap uang 2 ribu lo membahagiakan orang, dia malah menyakiti orang. Anjing banget!

Sejak saat itu, gue beberapa kali lewat tempat yang sama, dan berniat untuk ngasih uang kekurangan plus bunganya. Rejeki emang di tangan Tuhan, bapak tukang bakpao itu ga pernah lagi ada. Jangan2 2 ribu membuat dia bangkrut, di pecat sebagai tukang bakpao, ga punya duit buat makan dan akhirnya sakit, dan berbagai kemungkinan kejam lainnya. Itu Cuma uang 3000 perak loh…

Kadang gue sedih banget dengan kejadian2 kayak gitu. semoga kejadian kayak gitu ga pernah terulang lagi deh…

Adios??

Julio 29, 2008

Choices and Signs

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 9:38 am

Lo pasti tau kalo kadang pilihan itu ada ga buat dipilih, karena apa aja yang lo pilih pasti salah. Setidaknya orang lain berpikir gitu.

Sebelum ini gue dilanda kegelisahan, karena ada 3 kepentingan yang harus gue pilih dalam waktu yang bersamaan. Hari Selasa ini ada dua orang kelompok teman yang mengajak gue ke acara mereka masing2. Yang satu adalah teman2 les bahasa gue yang udah menemani gue setiap Selasa-Jumat di tempat les. Yang satu lagi adalah kelompok IPD gue dimana setahun yang lalu kita 3 bulan bareng menghadapi situasi berat danmenyenangkan itu. Sejak saat itu, gue terpisah bagian dengan sebagian besar dari mereka.

Teman2 les gue sudah memberi tahu beberapa minggu sebelumnya bahwa mereka akan menginap di Puncak untuk hari Selasa ini sehabis les. Sedangkan teman2 IPD gue dari bulan lalu susah sekali mencari tanggal dan waktu yang pas untuk pergi karena masing2 sibuk dengan urusan pasca-kuliah mereka, entah her, rapat ini itu. Akhirnya ditentukanlah hari yang sama persis, Selasa ini. Ribet lah gue.

Tapi sebenernya pilihan hati gue udah tetap sih. Gue pergi ama teman2 IPD gue. Hal yang jelas disambut “keadaan tidak enak” oleh teman2 les gue sewaktu gue mengumumkan untuk tidak pergi. Seseorang mempunyai temper yang buruk sekali saat marah, seseorang yang lain sempat menanggapi dengan sinisme dan kekecewaan. Gue ga nyalahin sih. Tapi gue ketua kelompok IPD gue. Ini adalah salah satu tim terbaik semenjak gue di kampus. Gue ga mungkin ninggalin mereka.

Kepergian gue ama mereka ini juga masih menyisakan dilema buat gue. Gue tau lah gimana kondisi badan gue yang riskan banget sakit kalo udah capek. Sebenernya gue pengennya istirahat penuh beberapa hari ini di rumah, tapi ga mungkin. Sedangkan besok Jumat tanggung jawab gue udah lebih besar dari ngurus diri gue sendiri. Backpacking dengan teman2 yang sebagian besar cw yang baru kali ini menjalani perjalanan seperti ini, sama adek gue juga. Gue sampe beli pisau lipat buat jaga2! Sial, gue parno banget.

Ngomong2 soal pilihan dan traveling nih, gue kemaren beli ngasal majalah Nat Geo tahun 2000 bekas. Ternyata di dalamnya ada berita tentang kematian seorang extreme travellers bernama Alex Lowe. Dia tertimpa longsoran salju dari gunung Xixabangma. Kematian ini dibahas secara mengesankan oleh editor in chief Nat Geo saat itu. Dia bilang gini:

“Some sentimentals might say he would have wanted to go that way. But those who knew Alex understand that his love of climbing was in no way tarnished by recklessness. I’m sure that as he scaled Xixabangma, he had no thoughts other than reaching the top, skiing down safely, and returning to his wife and three children in Montana”

Anjir, sedih banget gue. Keinget sama film Into The Wild dan kejadian near-death experience gue sendiri di Lombok. Apa gue bener pengen mati di bawah laut?? Artikel itu sbenernya diawali kalimat yang juga bagus:

“for some of us an adventure is taking a different route to work or making a salad with Romaine lettuce instead of iceberg”

Di dalem Nat Geo bekas itu juga gue menemukan artikel perjalanan pendaki gunung yang menaiki Patagonia (chile) dan bersumpah bahwa Cerro Torres (puncaknya yang setengahnya kering setengahnya bersalju) adalah puncak gunung terindah di dunia. Gila, ya, impian gue dari beberapa tahun lalu selalu pengen pergi ke Chile dan liat Patagonia mountain. Apa ini pertanda? Pertanda buruk atau baikkah?

Sedangkan pacar gue kemaren juga baru aja minjem Readers Digest lama dari perpus sekolah tempat dia ngajar. Tau ga, dia nemuin berita tentang Bromo dan kematian beberapa orang yang datang ketika Bromo sedang aktif. Dia langsung sms: “don’t ever push your self over the limit”.

Are those really signs for me? Or just some kind of coincident. Pacar gue bilang “I believe in God much more than I believe in signs”. Gue bales “but sometimes God talks with signs…”

Hasta!

Julio 24, 2008

bersiap-siap untuk berangkat

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 10:15 am

sama seperti ketika mau pergi ke Bali-Lombok tahun lalu, hari2 terakhir hati gue selalu dipenuhi dengan campuran antara kegundahan dan excitement. perasaan yang gue benci sekaligus gue suka. perjalanan pajang kayak gitu butuh banyak sekali pertimbangan dan perisapan, walau mungkin ga semua orang berpikiran seperti itu.

berapa kali sih gue ke Solo, Jogja? sering. tapi kali ini bakalan beda banget. gue juga udah 2 kali ke Bromo, tapi tetep aja gue seperti belum pernah ke sana. Annissa bilang: “Tang, Malang lagi dingin. bawa jaket yang tebel ya..”

rute perjalanan hampir pasti (atau malah udah pasti?). dari Jakarta kita naik kereta bisnis ke Solo. i cant recall when was the last time i used that “kereta bisnis”. it must be a long long long time ago. gue inget banget dulu kalo malem banyak orang2 yang gelar tiker di lantai dan tidur. haha. masih kayak gitu gak ya? kayaknya emang harus siap2 tiker nih.

di Solo, eyang gue yang makin lama makin lemah dan terlihat tua, tapi ntah kenapa makin gue berat ngelepasnya, dan makin gue sayang, udah nunggu. dia seneng banget waktu gue bilang bawa temen2. dia aja sempet bilang kangen sama Mike waktu itu. hahaha. eyang bilang dia selalu ngerasa lebih muda di deket gue dan adek2 gue, apalagi kalo ama temen2nya. wisata kuliner kelas bawah harus menjadi incaran di Solo (yeah, we’re on a -very- tight budget here).

2 hari di Solo, Jogja udah nunggu dengan kreta Pramex-nya. 7000 sampe Jogja euy! ada beberapa penginapan di Jogja yang udah gue dapet nomernya. tinggal nelpon untuk konfirm. harganya berkisar 65 ribu – 150 ribu per hari! hihihi! tapi kalopun ga dapet, santai aja. katanya di sana ada jalan namanya jl. Sosrowijayan, yang disebut2 sebagai Poppies Lane-nya Jogja! jadi, ga perlu khawatir dengan penginapan. rencana kita pengen ke Pantai. ada sebuah pantai pasir putih namanya pantai Semenanjang kalo ga salah dan disebut2 sebagai Kuta-nya Jogja juga. nyewa mobil kayaknya wajib deh…

ke Malang naik bis ekonomi, hehehe. di sana udah ada penginapan yang bakal ngatur sekalian ke Bromonya. gue ga sabar melihat Sunrise itu lagi. kali ini dengan Olympus E-500 yang dibeliin bokap, gue lebih siap.

pulangnya kita mampir dulu ke Surabaya. beristirahat sejenak sebelum menyudahi tur panjang 10 hari ini. kebayang kan kenapa gue ga sabar sekaligu khawatir. kemungkinan cowok yang ikut cuma gue ama Mike, dengan kemungkinan nambah Nana dan Wahyu. sedangkan cewek udah ada Ana, Astri, Laras, dan Fani, dengan tambahan mungkin Ipti.

tunggu cerita gue sepanjang perjalanan ya! gue sampein salam kalian ke Bromo! hahaha!

Adios..!

Julio 17, 2008

another trip for holiday?

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 2:27 pm

ga kerasa banget tiba-tiba besok udah ujian terakhir di tingkat 5. setahun lagi gue lulus, insya Allah. 5 tahun yang terlewatkan di belakang kayak masih baru kemaren banget. fiuh… tapi, beberapa jam terakhir sebelum ujian terakhir di bagian Neuro malah menyesakkan banget. pikiran gue udah melayang entah kemana. bukannya mikirin penatalaksanaan stroke dan spondilitis TB misalnya, gue malah browsing internet, nyari bahan dan info tentang liburan gue.

liburan ini mungkin bakal beda banget ni seandainya jadi. temen2 yang udah kepisah di berbagai bagian, yang sejak tingkat 4 jarang sekali ngobrol. biasanya kita selalu ketemu dan ngobrol panjang saat ada di antara kita yang ultah dan nraktir. tapi sejak tingkat 5 semua jadi jarang. kadang pada sibuk dengan urusan masing2, pacar masing2.

awalnya gue sama Ana yang merencanakan liburan ini. liburan biar kita semua bisa kumpul lagi, like the old times. tadinya gue cuma bilang ke Jawa aja yuk. travelling, backpacking. apa yang dicari sih di Jawa? bukan tempat wisatanya, tapi perjalanan itu sendiri tujuannya. waktu dimana lebih dari seminggu kita bisa deket lagi, mungkin ada yang brantem, bete, tapi pasti ada ketawa2nya, gila2nya. lo ga akan kehabisan cerita selama beberapa tahun ke depan. akhirnya, rute kita makin jelas dan ambisius. Jakarta-Solo-Jogja-Surabaya-Bromo.

Bromo? ya, bromo! untuk yang ke-3 kalinya Insya Allah! SUNRISE!

Deo mungkin udah pasti ga ikut. tapi gapapa. semoga aja yang lain bisa ikut: Mike, Nana, Ana, Wahyu, Fani. astri masih terhambat oleh pacarnya. tapi kita masih berharap.

dari rencana kasar, mungkin 10 harian. 10 hari yang mungkin bisa bercerita untuk 10 tahun ya, hehe. sebuah perjalanan tanpa pacar tentu saja!

Julio 7, 2008

Cile, Ukraina, dan Barbie

Archivado en: siempre de vida — Bintang Pramodana @ 8:09 pm

Gue tu sering banget deh iri sama orang-orang yang mungkin buat orang banyak ga ada penting2nya banget. Knapa? Karena mungkin buat sebagian orang emang ga menarik.

Waktu tingkat 3 dulu, gue tiba2 iri banget sama temen sekelompok gue yang harus ke Cile karena ada pertemuan organisasinya. Bukan, bukan karena temen gue itu dipercaya untuk keluar negri oleh sebuah organisasi, dan gue belom pernah. Tapi lebih kepada tujuannya, Cile. Entah kenapa, gue ga pernah ngerasa iri sama temen2 lain yang ke Belanda, Inggris, atau apalah. Nah ini, Cile!! Sampe akhirnya gue menetapkan Cile sebagai salah satu negara tujuan utama gue. Paling ngga, Amerika Latin lah. Bolivia atau Argentina gitu.

Sekarang, tiba2 aja, salah seorang temen akan berangkat ke Ukraina untuk summer school. Awalnya dia iseng aja, apply ke beberapa summer school “pinggiran” yang sepi peminat, tanpa harapan diterima. Eh, Tuhan berkata lain. Tapi, darimana uangnya? Kehidupan dia di Ukraina emang dijamin, tapi tiket pulang pergi ngga. Sebulan terakhir teman gue ini banting tulang melakukan fund raising.

Gue iri aja. Ukraina men. Negri dimana Andriy Shevchenko, si pengangguran 30 juta pound itu lahir. Negri dimana ledakan besar nuklir Chernobyl ada. Negri dimana kemisteriusan Uni Sovyet mungkin masih terasa. Gimana lo ga iri? Walaupun mungkin di sana ga seindah Liverpool, misalnya. But you get the story that only few will.

Gue bilang:

“gila, keren banget lo. Orang boleh bilang mereka uda ke Red Light District (Amsterdam). Tapi elo, Jo, udah ke Ukraina!”

Gue jadinya sekarang juga sibuk nyari info sekolah spesialis di luar. Bukan belanda, bukan Jerman. Gue lagi ngesearch di Cile, hehe. Ntar mungkin liat2 juga negara2 Eropa Timur deh. Siapa tau ada yang memberikan peluang beasiswa.

Akhir kata, waktu temen gue ini lagi antri visa, seorang ibu yang juga mau pameran baju di sana bilang:

“wah, di sana cewek2nya cantik! Kayak barbie! Jangan lupa pulang ya!”

DAMN! IRI!

Julio 3, 2008

6 pasien lama, 12 pasien baru, dan 12 jam tanpa berhenti

Archivado en: Uncategorized — Bintang Pramodana @ 6:49 pm

jaga IGD emang ga pernah bisa lo duga gimana hasilnya.  kalo lo jaga berdua, lo arus yakin betul teman lo ini termasuk si “pemanggil pasien” ataukah malah si “penolak pasien.” udah itupun, lo masih harus yakin juga bahwa residen jaga yang bareng elo pun tipe yang mana. baru lo bisa memprediksi kira2 bagaimana nasib lo sepanjang jaga kali itu.

kemaren mungkin adalah salah satu jaga terhectic yang pernah gue lakukan, dan gue jalani saat malam sebelumnya gue masih demam. datang ke IGD sangat tepat waktu, yaitu pukul 3 sore. sudah menunggu dua pasien. lalu perlahan2 pasien mulai datang dan pergi. terus. dan terus. gue bahkan ga berkesempatan untuk capek dan ngantuk.

6 pasien lama, 12 pasien baru, dan 12 jam tanpa berhenti adalah hasil jaga malam itu. indah sekali rasanya tidur setelah saat2 seperti ini..

ale..!

Blog de WordPress.com.