polaroid hitam putih

Mayo 3, 2008

shit (always) happens

Archivado en: siempre de vida — Etiquetas:, — Bintang Pramodana @ 5:04 am

Ini adalah blogs ketiga gue. Gambaran betapa ingin larinya gue dari kenyataan keterpurukan gue sebagai penulis. Tidak pernah gue merasa serendah ini. Benar2 rendah. Dan gue seperti tidak siap untuk bangkit. Benar2 tidak siap. Padahal, baru saja kemarin gue berkata pada teman gue yang juga mengalami krisis identitas diri bahwa “shit (always) happens” dan tidak pernah ada kehidupan yang bahagia selamanya. Gue bilang kalo kita harus siap buat jatuh lagi, bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi. Ngomong emang gampang, padahal gue sendiri ragu, apakah mungkin kita selalu bisa bangkit?

Gue bilang sama temen gue ini, hadapin masal lalu lo, bilang keras2 “Gue pernah jadi sampah. Gue pernah dimainin cowok. Gue pernah dibohongin!” ya bilang keras2. Tanpa ada rasa malu karena ketika elo berkata begitu, lo udah bukan orang itu lagi. Lo adalah seseorang yang lebih baik.

Tapi lagi2, gue juga ga bisa ngelakuinnya. Gue ga bisa dan ga berani bilang kalo gue terpuruk, kalo tulisan2 gue ga sebagus dulu lagi (bahkan gue pun mengakuinya). Gue ga berani lagi nyoba tetep nulis. Gue takut orang2 bilang tulisan gue jelek. Gue takut. Padahal, ketika gue mulai nulis, gue ga pernah mikir tulisan gue bakal dibaca orang. Gue selalu beranggapan tulisan gue adalah foto polaroid hidup gue. Dan itu buat gue. Bukan buat orang lain. Seiring waktu, gue mulai mikir apa yang bakal gue tulis. Topik apa yang menarik. Gimana supaya semua orang seneng dan dapet sesuatu waktu baca. Beban itu membunuh kreatifitas gue.

Padahal, jangankan gue, Pramoedya pun serig kali membuat tulisan yang ‘kurang menarik’. Setelah mencapai puncak dalam tetralogi buru, tulisan2 awal dan akhirnya tidak ada yang sekuat itu. Tapi Pramoedya selalu menulis setiap hari. Sombong namanya kalo gue ga mau merasakan itu. Tapi ya, gue takut akan itu.

Jadi gue memutuskan menyendiri dulu. Apakah akhirnya blogs ini dibaca orang pun gue mencoba ga peduli. Gue harus nemuin lag

i idealisme itu. Membaca karya2 gue kebelakang membuat gue malu dan sedih. Gue harus mengembalikan lagi kehormatan seorang Prasetya Modana, pada dirinya sendiri…

Aún no hay comentarios »

Aún no hay comentarios.

Canal RSS de los comentarios de la entrada. URI para TrackBack.

Deja un comentario

Blog de WordPress.com.