The Price of An Effortless Breathing

Sudah sebulan ini saya sakit, batuk yang tidak kunjung sembuh juga. Saya sudah minum berbagai obat dan hal-hal lain seperti kencur dan jahe, berhenti makan dan ngemil gorengan, tetap berolahraga, tapi batuk ini tak kunjung reda juga. Berbagai diagnosis juga sudah saya pertimbangkan. Belum ada hasil.

Sebagai seorang dokter mungkin saya sesekali merasa sombong, dan lupa bahwa saya hanyalah perantara saja dari Yang Maha Kuasa ini untuk membantu orang lain. Mungkin saya sedang diingatkan.

Seringkali hal-hal yang terbaik dalam hidup itu gratis, and we all take them for granted. Keadaan ini yang membuat kita lupa untuk bersyukur. Selama 1 bulan lebih batuk dan tidak leluasa untuk bernafas, saya jadi mengerti betapa mahalnya harga sebuah tarikan nafas itu bila hal yang gratis itu di ambil sementara?

Pagi ini, di ICU, seorang anak yang dalam kondisi kritis terpaksa saya pasang alat bantu nafas melalui tenggorokannya, alat yang menggantikan fungsi otot-otot pernafasannya. This kid fought his disease a moment too long. All of a suddent his heart stopped too. The kid didn’t respond to anything we give to him. He passed away.

Sebuah tarikan nafas yang gratis itu menjadi hal yang tidak terbeli. Detak jantung yang tidak pernah kita sadari ada, yang ketika hilang beberapa detik saja akan berakibat fatal.

Dan kita masih saya menggerutu karena hal kecil?

Orang sering bilang untuk hidup mereka perlu cinta, kebahagiaan, keluarga, uang. Sebenarnya, yang benar-benar kita butuhkan untuk hidup adalah an effortless breathing and a beating heart.

[The Untold Story Series]: The Road Less Traveled to Labuan Bajo

Matahari masih berada di atas ketika kami tiba di terminal bis kota Mataram. Keadaan saat itu tidak begitu ramai, mungkin karena sudah siang. Hanya ada beberapa bis antarkota yang sedang menunggu jam berangkat. Salah satunya mungkin adalah bis yang akan mengantar kami ke Bima. “The journey has just started,” saya pikir.

Alhamdulillah tidak banyak kesulitan untuk membeli tiket di terminal ini. Tidak ada calo-calo yang menghampiri dan penipu-penipu yang mencoba mengambil keuntungan dari kebingungan kami. Harga bis AC saat itu sekitar Rp. 150 ribu, saya lupa tepatnya. “Bis-nya masih lama,” kata pak penjual tiket itu. Kami pun memutuskan untuk makan.

Sayangnya tidak banyak yang terihat cukup bersih untuk dimakan. Standar kami tidak tinggi, tapi anda bayangkan sekarang terminal bis antarkota di kota selain Jakarta, dekat pasar, dan tidak ramai. Ya, ada beberapa warung di terminal itu, dan kami pilih satu. Dalam perjalanan seperti ini, apalagi baru setengah jalan, we couldn’t afford to be sick. Even the majority of us here were a legitimate medical doctor from a respectable university (well, yeah, we’re pretty narcistic), makanan basi dan kotor tetap akan membuat perjalanan ini berantakan. So we said, Bismillah.

Sore itu bis kami tiba dan tidak lama kemudian kami sudah berada dalam perjalanan menuju Bima, yang langsung dilanjutkan menuju Sape. Roughly 24 hours ride to Sape!

Screen Shot 2012 01 11 at 9 21 06 AM

Mataram - Bima - Sape - Labuan Bajo

Continue reading

Bertanda , , , , , , , , , ,

[The Untold Story Series]: (The Monster of) Gili Trawangan

Ini adalah bagian dari cerita perjalanan saya ke Flores tahun 2009 yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Saya tulis ini agar memori itu tidak hilang begitu saja, sekaligus mungkin sebagai motivasi yang membaca untuk melakukan perjalanan yang sama. Tulisan saya tentang Flores cukup banyak dibaca dan  banyak juga yang bertanya tentang itu. Namun seperti ada sebuah jinx, mereka yang bertanya tidak pernah jadi pergi. Mungkin saya perlu bercerita bagaimana perjalanan ke Flores itu adalah pengalaman terbaik saya sampai saat ini.

————————————————————————————————————————————————–

Hari sudah sore ketika kami sampai ke pelabuhan Bangsal di Lombok. Ini adalah pelabuhan bagi mereka yang ingin berpergian ke Gili. Ada 3 kapal terakhir sore itu untuk 3 tujuan yang berbeda: Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Tujuan kami hari ini adalah: Gili Trawangan.

“Sepuluh ribu rupiah,” kata penjual tiket di loket. Kami membeli 8 tiket.

Kapal kayu itu dipenuhi oleh sekitar 20-30 orang dengan berbagai keperluan. Sebagian adalah pelancong seperti kami, sebagian lagi adalah penduduk Gili yang pulang dari berbagai keperluan.

Di kapal itu kami tidak banyak bicara. Selain karena lokasi duduk yang terpencar, rasa lelah setelah seharian di jalan, serta bunyi deburan ombak yang bercampur dengan bising motor listrik di belakang kapal.

P8116331

Kapal motor ini disesaki oleh 20-30 orang dengan berbagai barang bawaan mereka

30 menit kemudian, kami merapat di Gili Trawangan.

Ini kali kedua untuk saya dan Bayu, adik saya. Kali pertama hanya kami habiskan dengan diving dan tidak sempat menginap seharipun di Gili.

P8136403

Merapat di Gili dan langsung takjub (lagi) dengan air yang sebening kristal

Hari mulai gelap ketika kami berhenti sejenak di sebuah mesjid tidak jauh dari pantai. Beberapa penginapan yang kami datangi selalu mengatakan tidak ada kamar kosong. Pada akhirnya kami tahu, bahwa para pemilik penginapan sengaja tidak menerima kami karena lebih ingin penginapannya ditinggali oleh orang asing. Kami membagi tim menjadi tiga. Dua tim pencari penginapan, dan satu tim menunggu barang bawaan kami yang kami tinggal di hotel.

Saya dan Reyhan satu tim. Sedangkan Bayu, Abol, dan Mike di tim lain. Para wanita tinggal di mesjid untuk menjaga barang. Harga penginapan sudah menjadi ridiculously expensive. Hampir semua tempat penuh. Tempat yang masih ada mematok harga berkali lipat budget kami. Sebuah kamar kotor 3mx3m dengan kipas angin ditawarkan seharga Rp. 800 ribu per hari kepada kami.

Setelah gelap baru kami mendapat sebuah tempat tinggal. Sebuah keluarga yang rumahnya lumayan jauh dari pantai mempersilahkan kami tinggal dengan Rp. 150 ribu per hari. Gili Trawangan sudah gelap gulita saat kami berkumpul lagi di mesjid. Listrik selalu mati saat malam, kecuali di penginapan-penginapan mewah. Berbekal lampu senter kami menelusuri gelapnya pedalaman Gili Trawangan.

Bermenit-menit kami berjalan sebelum saya dan Reyhan curiga kami tersesat. Bayu, Abol, dan Mike yang menemukan rumah itu berjalan paling depan dengan yakin. “Gak mungkin tersesat!” kata mereka.

Ada yang aneh ketika kami menerobos semak-semak dan timbul di sebuah kebun kelapa. Its getting fucking spooky! Penerangan dari bulan yang remang-remang membuat bayangan barisan pohon kelapa menjadi semakin membuat hati tidak enak.

8

Pak Haji butuh uang tambahan karena rumahnya sedang direnovasi untuk penginapan, oleh karena itu beliau memberikan diskon untuk tinggal di rumah yang sedang direnovasi itu

Kami mencoba menembus kebun kelapa tersebut, tapi seperti tidak menemukan jalan keluar. Di sini, para penunjuk jalan mulai diliputi keraguan. Laras, Eci, dan Riri mulai merasa takut. Reyhan merasa kami cuma berputar-putar saja, tidak menuju kemana-mana.

P8126349

Kami bersantai di saung depan rumah, minum teh dan makan biskuit sambil menunggu maghrib

Tiba-tiba rombongan berhenti mendadak. Saya dan Reyhan berdiri paling belakang jadi tidak melihat apapun. Ada kesan ketakutan yang membuat teman-teman saya di depan berhenti tidak bisa bergerak. Sebuah efek yang dalam otak saya bisa ditimbulkan oleh bertemu setan. Masuk akal bukan, kami terputar-putar di kebun kelapa, di sebuah lokasi yang kami tidak kenal!

Bayu mendadak sudah berada di paling belakang. Anak ini mau lari duluan rupanya! Ada apa di depan? Mengantisipasi yang terburuk, saya siapkan pisau lipat dari kantung celana dan maju ke depan.

And there, I was experiencing one of the most terifiying scene I’ve ever scene. Di depan saya, sebuah siluet makhluk berkaki empat sebesar kuda bangkit dari duduknya, matanya biru terang. Kami tidak bisa memastikan hewan atau makhluk apakah itu.

Untuk beberapa saat saya hanya terdiam tidak bisa bergerak. Lalu perlahan kami mundur sambil tetap melihat makhluk itu yang terlihat mewaspadai gerakan kami. Salah langkah sedikit, dan dia akan menyerang. Mungkin. Tapi tidak, karena akhirnya kami berhasil melarikan diri dan setelah berputar-putar lagi di perkampungan penduduk, kami menemukan rumah yang dicari itu.

Sampai sekarang kami masih berdebat tentang makhluk itu. Kuda kah? Apakah mata kuda bersinar dalam gelap? Anjing kah? Sebesar kuda? Jangan-jangan serigala? Ah masa!

True Story!

P8136387

no, its not a pre wed photograph, hehe

IMG 0522

Saatnya kembali ke Pelabuhan Bangsal

IMG 0518

Kapal perlahan meninggalkan Gili Trawangan

P8136380

Saatnya menuju Labuan Bajo!

Bertanda , , ,

[Money_Talk] 2012, A Tough Year Indeed

Tahun 2012 bisa jadi adalah tahun yang vital untuk hidup saya puluhan tahun ke depan. Di tahun ini akan ada beberapa peristiwa penting yang mungkin akan saya alami. Sebelum pertengahan tahun ini saya sudah akan resign dari pekerjaan, lalu mempersiapkan diri untuk memasuki spesialisasi selama 4 tahun (incomeless), lalu sebuah rencana besar lain di akhir tahun.

Semua hal besar butuh niat, doa, kerja keras, dan sebagian besar butuh biaya. Dan kesemuanya tidak mudah dilakukan.

Salah satu yang benar-benar butuh usaha keras adalah mengusahakan tabungan sebesar mungkin agar bisa semandiri mungkin. Apalagi pada laki-laki yang belum berkeluarga seperti saya, penghasilan cukup, dan pekerjaan yang kadang sangat padat sehingga butuh sebuah perasaan untuk ingin selalu memberikan sesuatu pada diri sendiri. Entah itu berupa makanan enak, gadget mahal, atau beberapa sesi traveling.

Saya sendiri termasuk tipe yang agak susah mengatur uang. Oleh karena itu seringnya di awal bulan, saya langsung memecah gaji bulanan saya ke beberapa pos tabungan dan investasi dan hanya meninggalkan sekitar 20% saja di tabungan yang available untuk saya belanjakan bulan itu. Bila tidak seperti ini, uang saya akan habis di awal.

Bertahun-tahun saya sulit sekali menabung disebabkan karena kemalasan saya berurusan dengan bank seperti antrian panjang, tanda tangan yang kurang mirip, dsb. Hal ini sudah tidak menjadi halangan lagi karena dari 4 bank tempat saya menabung, 3 diantaranya dapat menggunakan internet banking. Jadi saya tinggal duduk di depan macbook saya, memencet-mencet tombol, dan they do the rest.

My Investments

Selain tabungan, I religiously invest my money into mutual funds and precious metals. Jadi selain 4 buah tabungan bank, saya punya 4 buah reksadana (mutual fund), emas, dinar emas, serta dirham perak. Apakah saya seorang milyuner?!! Apa penghasilan saya puluhan juta per bulan?!! Sesungguhnya saya hanya karyawan swasta rendahan seperti kebanyakan orang. Semua itu akan segera habis tahun ini, dan saya akan memulai lagi semuanya dari awal. Tapi itu tidak menyurutkan niat saya.

Kadang ada teman-teman saya yang tertarik menanyakan kepada saya tentang selak beluk reksadana sebagai salah satu moda investasi yang mulai sering dibicarakan, khususnya oleh financial planner. Saya sendiri rasanya cukup tahu diri untuk tidak sok tahu. Semua yang saya tahu pun saya dapatkan dengan bergerilya di internet serta toko buku. Dari hanya ingin tahu tentang unit link, tiba-tiba saya sangat tertarik dengan personal finance.

Investing cartoon

Reksadana (Mutual Funds)

Tapi untuk mencoba menyederhanakan, awam ke awam, reksadana itu menitipkan uang kita kepada sebuah tim yang lebih mengerti tentang investasi di saham, obligasi, dan teman-temannya. Kita tinggal pilih komposisi yang sesuai dengan kemauan kita. Saya sendiri termasuk tipe yang lebih senang di reksadana saham.

Salah satu keuntungannya (atau kerugiannya, tergantung darimana melihatnya) adalah kita tidak perlu sibuk memantau saham-saham perusahaan apa yang perlu dibeli/dijual karena sudah diurus orang yang lebih tau. Jadi sebenarnya ini adalah cara yang sangat nyaman dan menyenangkan bagi kita yang tidak mengerti serta tidak punya waktu dan minat untuk belajar investasi langsung di saham.

Lalu apakah pasti untung? Kuncinya ada pada kata “pasti”. Karena tidak ada yang pasti, oleh karena itu, jawaban pertanyaan tadi adalah: tidak pasti untung. Seperti salah satu reksadana saham saya, Panin Dana Maksima, saya membeli dari nilai satuannya 49 ribu, hingga pernah mencapai 59 ribu dalam beberapa bulan saja, lalu ambruk saat krisis kemarin sampai 46 ribu dan sekarang cukup stabil di 53 ribuan. Ketika kita tahu apa tujuan kita berinvestasi, maka ketika harga jatuh kita tidak berpikir “rugi”, tapi justru sedang “diskon”. With that thought, I bought some more!

Screen Shot 2012 01 03 at 8 02 39 PM

Mulai membeli reksadana sendiri sebenarnya tidak sulit. Hampir semua bank besar menjualnya. Saya sendiri sempat beli di Bank Mandiri, walaupun sudah tidak lagi, karena di Bank Mandiri pembelian reksadana harus datang ke kantor cabang. Akhirnya saya memakai Commonwealth Bank yang bisa membeli reksadana dengan internet banking. Dan pembelian yang paling murah ada yang hanya Rp.100.000. Jadi kita bisa menabung sedikit demi sedikit.

Saya sendiri berharap bahwa ketika diperlukan nanti, investasi saya sudah membuahkan hasil walau mungkin belum begitu terasa. Entah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang makin baik sehingga IHSG menembus angka 4000an lagi, serta perkembangan harga emas yang melonjak ke angka 600 ribuan mungkin. Kita lihat saja.

Tapi seperti saya bilang di atas. Seringkali kita ingin sebuah reward dari pekerjaan yang sudah kita lakukan. Dan sialnya tidak cukup dengan melihat tabungan. Kita ingin sesuatu yang nyata! Hah! Oleh karena itu, saat menulis artikel ini pun, saya sambil membeli sebuah iPhone 4 white 32 GB. Ya ampuuunnnn…

NB:
Untuk bacaan bagus mengenai reksadana, silahkan download pdf dari Bapepam di sini

Bertanda , , , , ,

Dirham yang Mana?

Baru hari ini tiba-tiba saya terpikir untuk mengkonversikan tabungan haji saya ke dalam dirham. Ide ini muncul tiba-tiba saja ketika akan tidur tadi. Oleh karena itu segera setelah bangun saya membuka macbook saya dan mulai browsing di internet.

Sebenarnya sudah beberapa waktu ini saya berminat membeli dirham hanya saya belum bertemu dengan sistem yang semudah m-dinar, dimana saya menabung dinar saya. Gerai dinar saya tahu juga menjual dirham, tapi saya cari-cari sepertinya tidak ada yang online seperti dinar.

Kenapa konversi ke dirham? Alasan investasi sebenarnya. Bila disimpan dalam rupiah, pastinya nilai tabungan haji saya terus menurun karena biaya haji juga terus naik. Dirham pun masih terbilang murah, dan menurut pendapat berbagai ahli masih akan terus naik karena fitrahnya berada pada kisaran 1/15 dari dinar. Saat ini masih sekitar 1/30. Alasan lain tentunya karena ingin sedikit banyak mengaplikasikan hal-hal islami dalam kehidupan saya.

Tapi itulah awal dari kebingungan saya.

Saya akhirnya menemukan ada 3 harga dirham yang cukup jauh berbeda dari penjual yang berbeda. Gerai dinar (GD), wakala induk nusantara (WIN), dan dinarfirst (DF).

Selama ini saya selalu mengira dinar dan dirham yang dijual sudah terstandardisasi dan diakui masyarakat Islam di dunia. Ternyata saya salah. Di Indonesia saja 3 organisasi ini tidak mengakui DD satu sama lain. Semua beranggapan paling benar.

Ini adalah hal yang miris buat saya. Ketika 3 organisasi itu mengklaim ingin memajukan DD sebagai salah satu jalan tegaknya ekonomi Islam dan ingin agar DD menggantikan uang kertas yang penuh riba, mereka sendiri saja tidak mengakui sesama pemroduksi DD. Bagaimana bisa DD menggantikan uang kertas kalau begitu? Bagaimana masyarakat awam seperti saya bisa sepenuhnya percaya pada DD? Ini semua menggelikan!

Ini baru soal mata uang, di 1 negara. Kita belum bisa akur dan sepakat. Belum masuk masalah akidah, di seluruh dunia pula. Saya tidak begitu paham agama, tapi saya merasa ada yang salah dengan ini.

Bahwa pada akhirnya saya memilih salah satu organisasi bukan berarti saya menganggap mereka paling benar dan terpercaya. Saya yakin semua bisa dipercaya. Harapan saya suatu hari nanti masalah di antara mereka bisa selesai dan mata uang DD benar-benar bisa maju demi kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Dan semoga tabungan saya benar-benar bisa mengantar saya ke tanah suci. Amin.

Salam.

link:

1. gerai dinar

2. wakala induk nusantara

3. dinarfirst

Dinar/Dirham geraidinar

gerai dinar

Dirham win

WIN

dinar/dirham DF.jpg

Dinarfirst

Bertanda , , , , , ,