perjalanan ke Solo memakan waktu 1 jam. Kereta Pramex belum penuh ketika kami naik pukul 8 pagi itu. duduk di gerbong paling depan dengan kursi2 memanjang seperti di mikrolet, kami mulai membuang waktu dengan kegiatan masing. koran yang dibeli Bohay menjadi favorit dan terpaksa rela terbelah2 untuk di baca beberapa orang. Mike, Gue, dan Bayu seperti biasa segera mengeluarkan earphone dan iPod dari tas. Laras juga.

Di Stasiun Solo Balapan

Di Stasiun Solo Balapan

Eyang sudah menyiapkan 2 kamar di rumah Solo yang emang lumayan besar (karena dulunya buat menampung semua keluarga). kamar kecil di bawah (yang hanya berisi 2 kasur besar) sedianya ditempatkan untuk cowok2 dan kamar atas (yang besar dengan kasur lebih banyak, dispenser, bantal berlimpah, kamar mandi dalam, dan tv) sedianya untuk cewek2. sayang sekali, eyang Putri berpikiran lain. hehe. jadilah kami, para pria, mendapatkan kedigdayaan dengan tidur di kamar atas. Men on top, yeah!

ga banyak yang dilakukan di Solo selain berkeliling pasar Klewer, wisata kuliner bahkan sampe ke gudeg ceker yang hanya buka jam 2 pagi! (ketemu dr.Partini juga yang lagi semangat makan ceker juga!), dan pada akhirnya yang menyenangkan adalah perjalanan ke Tawang Mangu. gue udah sering banget ke sini. tapi suasana yang di dapet ketika elo berjalan bersama teman2 selalu berbeda. apalagi dengan kamere olympus gue. semua terasa berbeda, hehe. Grojokan Sewu memuncratkan air2 yang terpaksa ditanggung kamera gue yang sesekali gue lindungi dengan badan gue. kasian dia!

di Tawang Mangu

di Tawang Mangu

Manis banget foto ini.. favorit gue

Manis banget foto ini.. favorit gue

yah itulah. bahkan kita sempat2nya berfoto di sawah dalam perjalanan pulang ke Solo. bayangin, sawah! seberapa “biasa banget” ga sih sawah itu? tapi ketika elo mengunjungi itu bersama teman2 lo kayaknya segala sesuatu jadi bagus. ada quote dari Anthony Bourdain: “the most humble person in earth is a farmer” karena begitu terkesimanya dia dengan keramahan petani Indonesia (gue ga bohong loh ini). gue juga sempat tersundut rokok yang pada awalnya gue pikir terkena gigitan sejenis serangga dengan enzim protease!! brengsek!

gue benci, wanita2 ini selalu berada dalam foto favorit gue, hehe

gue benci, wanita2 ini selalu berada dalam foto favorit gue, hehe

untungnya foto ini juga bagus! hehe

untungnya foto ini juga bagus! hehe

2 malam di Solo, kita berangkat ke Malang dengan travel yang kita sewa dengan harga 850 ribu untuk 10 orang. AC-nya panas sih, hehe, cuma untung mobilnya agak gede (L300) jadi bisa selonjoran. pas lah! Solo-Malang menghabiskan waktu sekitar 6-7 jam.

Bromo semakin dekat… mari!

-bersambung-

Gudeg Yu Djum di hari pertama itu adalah cikal bakal perjalanan kami di hari-hari berikutnya. artinya, jalan kaki selalu lebih diutamakan selagi mungkin. hehehe.

rencana hari besoknya sudah jelas di daftar acara yang udah dibikin sebelum berangkat: pergi ke pantai! pantai apakah? bukan, bukan parangtritis yang kami tuju di sini. dari hasil “pekerjaan rumah” gue sebelum pergi, gue mendapatkan nama pantai baru di daerah Wonosari, yaitu pantai Sepanjang.

menyewa Pregio dengan harga 550 ribu plus supir dan BBM, kami ga pusing. bayangin, dari jam 9 pagi sampe 9 malem, elo boleh suruh tuh supir ama mobilnya kemana aja. asal ga keluar kota, kata yang punya. gue nanya sama supirnya waktu kita baru berangkat:

“namanya siapa Pak?”

“Muslim nama saya”

Abol nyeletuk nakal: “kalo yang namanya Muslim pasti agamanya katolik kan pak?”

“hahaha”, kita tertawa.

“Saya Kristen, Mas”, kata Pak Muslim.

“Hah?”

itulah, moral cerita: apalah arti sebuah nama? hehehehe.

balik ke Pantai Sepanjang. ternyata pantai ini sejajaran dan berurutan dengan pantai krakal, drini, dan baron. pantai baron udah lumayan rame dan ga menarik lagi. efek samping banyaknya turis adalah kotor, riweh, dan sumpek. namun di Sepanjang ini, yang jalan kesananya begitu jelek dan berbatu, menyajikan hal yang sama sekali lain. inilah Gili di Pulau Jawa, sebuah pantai dengan suasana puncak! pegang kata2 gue. pantainya berpasir putih dengan angin semilir yang dingin bagai di puncak padahal gue di sana sekitar pukul 12 siang!

di atas adalah foto Michael bersama Ana yang terlihat seperti foto pre wedding yang mesrA. HEHEHE.

hari itu kita habiskan dengan makan di bakmi Jawa Doring (yang selama perjalanan kami pelesetkan untuk ngatain orang yang “boring”) dan makan wedang roonde di alun2. yang lucu beberapa dari kami ikutan mencoba untuk melewati tengah2 dari 2 pohon beringin yang katanya bertuah itu. Bayu menemukan cara yang bagus, yaitu berlari dari awal sampe akhir (kalo ga nabrak orang, hehehe), karena dengan lari entah kenapa kita cenderung lurus daripada kalo jalan pelan2. besok kita akan berangkat ke rumah eyang di Solo dengan kereta Pramex 7000-an.

-bersambung-

Jumat 1 Agustus, saat Isya, tim sudah berkumpul di pinggir lapangan basket FKUI sebelum beranjak menuju stasiun Pasar Senen. tas-tas backpack dan carrier telah tersusun rapi di bagasi mobil. gue memimpin doa bersama saat itu, memulai sebuah perjalanan panjang.

Kereta bisnis Senja Utama -seperti halnya angkutan umum lainnya di Indonesia- tidak bisa diharapkan ketepatan waktunya. untungnya kereta hanya trerlambat sekitar 30 menit dari jadwal. kita ber-8 -gue, mike, abol, ana, astri, laras, fani, dan fini- berangkat lebih dulu sebelum besok, Bayu dan  Bohay .

gue sampe di Jogja sekitar jam 7 pagi. telat banget! secara seharusnya jadwal masuk Solo Balapan jam 6.20 pagi! pantat gue dan temen2 udah berubah dari pegel sampe sakit. tapi liatb kota Jogja di pagi hari Sabtu itu kayaknya mengobati semuanya.

memanggul tas2 besar di punggung kita, sebenernya kita masih pada bingung, nginep dimana kita ntar malem,huehehe. untungnya gue udah research dan menemukan bahwa Jl. Sosrowijayan itu bagaikan Poppies Lane-nya Bali. jadi baru sebentar aja kita udah dapet losmen yang asik banget. namanya Lucy Losmen. harganya per kamar tuh 100 ribu buat 3 tempat tidur, dan 75 ribu buat 2 tempat tiudr. murah abis!

di depan Lucy Losmen

di depan Lucy Losmen

hari itu kita bener gila. gara2 buku kuliner yang gue beli cuma buat “iseng2 aja kalo ga ada kerjaan”, kita jadi sekumpulan Bondan Winarno gadungan. sehari bisa makan 4 kali! paling parah waktu kita niat2in beli Gudeg Yu Djum. naik trans Jogja dari depan alun2 selama kurang lebih 1 jam, ditambah berjalan kaki sejauh, hm……ga keitung karena muterin kampus UGM dari luar! makanya, di tengah kata Gudeg dan Yu Djum, kita tambahin kata “perjuangan”.

Ketiduran di Trans Jogja dalam perjalanan ke Gudeg Yu Djum

Ketiduran di Trans Jogja dalam perjalanan ke Gudeg Yu Djum

-bersambung-


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Dalam hari ke 4 sejak malam itu gue meninggalkan Jakarta, semuanya adalah saat2 yang ga akan bisa gue lupain. Banyak banget yang terjadi dalam road trip menuju Bromo ini. Sayangnya, kebahagiaan ini harus diganggu dengan hal-hal yang menyesakkan dada.

Chawpi Tuta sepertinya sudah tidak lagi dapat bertahan dalam posisinya. Kesenangan baru gue untuk travelling dan backpacking, juga rencana2 masa depan gue dianggap tidak cukup meyakinkan. Dia bilang akan lebih baik jadi sahabat dekat saja. Gue bilang, “we’ll talk as soon as I get back”, dia ga mau. Gue ga bias nahan lagi. Gue pengen banget menghargai dan menerima keputusan itu selapang2nya dada, tapi ga bisa. Tetep aja gue ngerasa tidak dihargai. Gue ga bisa ga ngerasa marah. Gue kesel.

Keadaannya sekarang, gue mungkin ga akan nyaman walaupun misalnya dia menarik keputusan itu. Gue udah pernah bilang, dalam hitungan detik, kesempatan dan keadaan bisa berubah total. Gue masih berharap bisa bersama dia nanti, atau kapanpun di masa depan nanti. Tapi ga sekarang. Gue masih cukup sakit dan kecewa dengan itu.

Tapi hidup ga berhenti di situ kan? Laut adalah sesuatu yang dapat memulihkan perasaan itu. Hari kedua di Jogja, gue ke pantai Sepanjang. Pantai itu bersih, putih, dan sepi dengan rumput laut yang kadang elo injak jika berjalan di air yang dangkal. Ombaknya yang deras dan tinggi dari kejauhan dan hancur deras di dekat pantai. The scenery was an instant beauty. Jam 12 siang, matahari masih memanggang siapapun, tapi suasana pantai itu begitu dingin dengan angina yang sejuk. Ini SEMPURNA. Lo harepin apa lagi? Pantai sepi, pasir yang putih, ombak yang bergulung, dan udara dan air yang dingin. Gue selalu ngerasa ombak itu menghibur kegalauan hati gue. Gue jatuh cinta lagi sama laut.

Teman2 seperjalanan juga membaur dengan asik. Walaupun ada Bayu, Bohay, dan Fini, yang merupakan orang baru, karena selalu bersama2, hanya dalam 4 hari kita seperti sudah berteman lama. Semangat para backpackers tetap kita embank bersama, seperti ketika mengejar gudeg “perjuangan” Yu Djum yang spektakuler. Gue akan ceritain nanti.

Tapi ya itu, kadang gue benci dibanding2in sama adek gue. But sometimes people cant help to compare you with your brothers/sisters right? Berusaha sabar agar tidak merusak suasana ini.

Huff… hati gue tetep sesak tapi. Gapapa. Gapapa. Ayo, bintang, saatnya pergi. Bromo sudah menunggu. Everything that has a beginning, has an end. I just didn’t expect this would be the end.

Ryan Adams nyanyi di telinga gue “it’s a little too late for goodbye, so ‘good morning’, and open your eyes”

Sayonara…

Beberapa hari yang lalu gue bersama ibu sedang singgah untuk solat di Mesjid Sunda Kelapa. Banyak laki-laki, perempuan, dan anak2 di dalam dan luar mesjid yang duduk2 untuk meminta-minta dan berharap paada kebaikan hati orang2 yang datang ke mesjid.

“makin banyak ya orang2 yang males” kata ibu saat itu.

Ga salah sih, bukan bermaksud mendeskriditkan mereka dan orang2 ga mampu lainnya, tapi mereka ini benar2 sehat dan masih muda! Mereka Cuma tinggal di mesjid yang sejuk dan sekali dua mendapatkan uang dari pengunjung mesjid, danmungkin juga dari pengurus mesjid. Semua orang tau mesjid Sunda Kelapa merupakan salah satu mesjid yang katanya memiliki kekuatan finansial yang baik. Siapa menyalahkan mereka kalo hanya dengan duduk2 di selasar mesjid yang sejuk mereka bisa dapat makan?

Gue ama ibu ga ngasih saat itu. Tapi ketika di luar, ada seorang laki-laki muda yang berpakian pemulung. Ia minta uang buat makan. Karena kasian, kita ngasih seribu. Tapi terus dia bilang:

“kalo nanti ibu ada kelebihan uang 25 ribu, bantu saya ya bu. Saya mau jualan koran”

Antara keragu2an dan kebimbangan, akhirnya kami memberikan juga uang itu. Maksud gue, pikir deh, uang 25ribu apa sih buat sebagian besar dari kita? Sedangkan uang segitu bisa mengubah hidup orang kayak dia – kalo dia benar2 menggunakan itu buat modal jualan! Kalo engga, dan gue Cuma kprban penipuan modus baru, males juga dan ga ikhlas kan lo? Masalahnya sampe sekarang gue ga pernah tau uang itu buat apa.

Gila ga, uang 25 ribu bisa menimbulkan hal kayak gitu. 25 ribu bisa berarti pemulung hari ini, penjaja koran hari esok. 25 ribu bisa berarti penipuan modus baru. 25 ribu adalah batas antara kepercayaan dan kecurigaan, ikhlas dan ga ikhlas, serta hati nurani atau mencoba apatis. Kalo gue ga ngasih uang itu, gue yakin sampe hari ini pasti gue kepikiran banget.

Kejadian berminggu2 sebelumnya, ketika gue membeli bakpau juga sama menyedihkannya. Adek gue teriak ama tukang bakpau untuk “1 kacang hijau, 1 coklat pak! Ya 2!”. Harga satunya 5000 dan karena udah lampu hijau si bapak musti berjalan jauh banget buat nganterin bakpau itu buat gue dan adek gue yang kelaparan. Kasian banget itu bapak. Cuma buat uang, brapa sih 10 ribu doang..

Gue kepengen ngasih lebih. Gue kasih lah 12 ribu. 2 ribu kan gede banget artinya. Pas banget ga beberapa detik kemudian, lampu hijau lagi, jadi gue langsung cabut abis ngasih uang itu. Si bapak terlihat sedih waktu nrima uang itu sebenernya, itu yang bikin gue heran. Apa uang tip gue kurang ya??

Beberapa detik setelahnya gue baru tau knapa wajahnya sedih banget… bakpaunya ada 3… artinya gue harusnya bayar dia 15 ribu. Anjing ga sih. Ketika elo berharap uang 2 ribu lo membahagiakan orang, dia malah menyakiti orang. Anjing banget!

Sejak saat itu, gue beberapa kali lewat tempat yang sama, dan berniat untuk ngasih uang kekurangan plus bunganya. Rejeki emang di tangan Tuhan, bapak tukang bakpao itu ga pernah lagi ada. Jangan2 2 ribu membuat dia bangkrut, di pecat sebagai tukang bakpao, ga punya duit buat makan dan akhirnya sakit, dan berbagai kemungkinan kejam lainnya. Itu Cuma uang 3000 perak loh…

Kadang gue sedih banget dengan kejadian2 kayak gitu. semoga kejadian kayak gitu ga pernah terulang lagi deh…

Adios??

Lo pasti tau kalo kadang pilihan itu ada ga buat dipilih, karena apa aja yang lo pilih pasti salah. Setidaknya orang lain berpikir gitu.

Sebelum ini gue dilanda kegelisahan, karena ada 3 kepentingan yang harus gue pilih dalam waktu yang bersamaan. Hari Selasa ini ada dua orang kelompok teman yang mengajak gue ke acara mereka masing2. Yang satu adalah teman2 les bahasa gue yang udah menemani gue setiap Selasa-Jumat di tempat les. Yang satu lagi adalah kelompok IPD gue dimana setahun yang lalu kita 3 bulan bareng menghadapi situasi berat danmenyenangkan itu. Sejak saat itu, gue terpisah bagian dengan sebagian besar dari mereka.

Teman2 les gue sudah memberi tahu beberapa minggu sebelumnya bahwa mereka akan menginap di Puncak untuk hari Selasa ini sehabis les. Sedangkan teman2 IPD gue dari bulan lalu susah sekali mencari tanggal dan waktu yang pas untuk pergi karena masing2 sibuk dengan urusan pasca-kuliah mereka, entah her, rapat ini itu. Akhirnya ditentukanlah hari yang sama persis, Selasa ini. Ribet lah gue.

Tapi sebenernya pilihan hati gue udah tetap sih. Gue pergi ama teman2 IPD gue. Hal yang jelas disambut “keadaan tidak enak” oleh teman2 les gue sewaktu gue mengumumkan untuk tidak pergi. Seseorang mempunyai temper yang buruk sekali saat marah, seseorang yang lain sempat menanggapi dengan sinisme dan kekecewaan. Gue ga nyalahin sih. Tapi gue ketua kelompok IPD gue. Ini adalah salah satu tim terbaik semenjak gue di kampus. Gue ga mungkin ninggalin mereka.

Kepergian gue ama mereka ini juga masih menyisakan dilema buat gue. Gue tau lah gimana kondisi badan gue yang riskan banget sakit kalo udah capek. Sebenernya gue pengennya istirahat penuh beberapa hari ini di rumah, tapi ga mungkin. Sedangkan besok Jumat tanggung jawab gue udah lebih besar dari ngurus diri gue sendiri. Backpacking dengan teman2 yang sebagian besar cw yang baru kali ini menjalani perjalanan seperti ini, sama adek gue juga. Gue sampe beli pisau lipat buat jaga2! Sial, gue parno banget.

Ngomong2 soal pilihan dan traveling nih, gue kemaren beli ngasal majalah Nat Geo tahun 2000 bekas. Ternyata di dalamnya ada berita tentang kematian seorang extreme travellers bernama Alex Lowe. Dia tertimpa longsoran salju dari gunung Xixabangma. Kematian ini dibahas secara mengesankan oleh editor in chief Nat Geo saat itu. Dia bilang gini:

“Some sentimentals might say he would have wanted to go that way. But those who knew Alex understand that his love of climbing was in no way tarnished by recklessness. I’m sure that as he scaled Xixabangma, he had no thoughts other than reaching the top, skiing down safely, and returning to his wife and three children in Montana”

Anjir, sedih banget gue. Keinget sama film Into The Wild dan kejadian near-death experience gue sendiri di Lombok. Apa gue bener pengen mati di bawah laut?? Artikel itu sbenernya diawali kalimat yang juga bagus:

“for some of us an adventure is taking a different route to work or making a salad with Romaine lettuce instead of iceberg”

Di dalem Nat Geo bekas itu juga gue menemukan artikel perjalanan pendaki gunung yang menaiki Patagonia (chile) dan bersumpah bahwa Cerro Torres (puncaknya yang setengahnya kering setengahnya bersalju) adalah puncak gunung terindah di dunia. Gila, ya, impian gue dari beberapa tahun lalu selalu pengen pergi ke Chile dan liat Patagonia mountain. Apa ini pertanda? Pertanda buruk atau baikkah?

Sedangkan pacar gue kemaren juga baru aja minjem Readers Digest lama dari perpus sekolah tempat dia ngajar. Tau ga, dia nemuin berita tentang Bromo dan kematian beberapa orang yang datang ketika Bromo sedang aktif. Dia langsung sms: “don’t ever push your self over the limit”.

Are those really signs for me? Or just some kind of coincident. Pacar gue bilang “I believe in God much more than I believe in signs”. Gue bales “but sometimes God talks with signs…”

Hasta!

sama seperti ketika mau pergi ke Bali-Lombok tahun lalu, hari2 terakhir hati gue selalu dipenuhi dengan campuran antara kegundahan dan excitement. perasaan yang gue benci sekaligus gue suka. perjalanan pajang kayak gitu butuh banyak sekali pertimbangan dan perisapan, walau mungkin ga semua orang berpikiran seperti itu.

berapa kali sih gue ke Solo, Jogja? sering. tapi kali ini bakalan beda banget. gue juga udah 2 kali ke Bromo, tapi tetep aja gue seperti belum pernah ke sana. Annissa bilang: “Tang, Malang lagi dingin. bawa jaket yang tebel ya..”

rute perjalanan hampir pasti (atau malah udah pasti?). dari Jakarta kita naik kereta bisnis ke Solo. i cant recall when was the last time i used that “kereta bisnis”. it must be a long long long time ago. gue inget banget dulu kalo malem banyak orang2 yang gelar tiker di lantai dan tidur. haha. masih kayak gitu gak ya? kayaknya emang harus siap2 tiker nih.

di Solo, eyang gue yang makin lama makin lemah dan terlihat tua, tapi ntah kenapa makin gue berat ngelepasnya, dan makin gue sayang, udah nunggu. dia seneng banget waktu gue bilang bawa temen2. dia aja sempet bilang kangen sama Mike waktu itu. hahaha. eyang bilang dia selalu ngerasa lebih muda di deket gue dan adek2 gue, apalagi kalo ama temen2nya. wisata kuliner kelas bawah harus menjadi incaran di Solo (yeah, we’re on a -very- tight budget here).

2 hari di Solo, Jogja udah nunggu dengan kreta Pramex-nya. 7000 sampe Jogja euy! ada beberapa penginapan di Jogja yang udah gue dapet nomernya. tinggal nelpon untuk konfirm. harganya berkisar 65 ribu - 150 ribu per hari! hihihi! tapi kalopun ga dapet, santai aja. katanya di sana ada jalan namanya jl. Sosrowijayan, yang disebut2 sebagai Poppies Lane-nya Jogja! jadi, ga perlu khawatir dengan penginapan. rencana kita pengen ke Pantai. ada sebuah pantai pasir putih namanya pantai Semenanjang kalo ga salah dan disebut2 sebagai Kuta-nya Jogja juga. nyewa mobil kayaknya wajib deh…

ke Malang naik bis ekonomi, hehehe. di sana udah ada penginapan yang bakal ngatur sekalian ke Bromonya. gue ga sabar melihat Sunrise itu lagi. kali ini dengan Olympus E-500 yang dibeliin bokap, gue lebih siap.

pulangnya kita mampir dulu ke Surabaya. beristirahat sejenak sebelum menyudahi tur panjang 10 hari ini. kebayang kan kenapa gue ga sabar sekaligu khawatir. kemungkinan cowok yang ikut cuma gue ama Mike, dengan kemungkinan nambah Nana dan Wahyu. sedangkan cewek udah ada Ana, Astri, Laras, dan Fani, dengan tambahan mungkin Ipti.

tunggu cerita gue sepanjang perjalanan ya! gue sampein salam kalian ke Bromo! hahaha!

Adios..!

ga kerasa banget tiba-tiba besok udah ujian terakhir di tingkat 5. setahun lagi gue lulus, insya Allah. 5 tahun yang terlewatkan di belakang kayak masih baru kemaren banget. fiuh… tapi, beberapa jam terakhir sebelum ujian terakhir di bagian Neuro malah menyesakkan banget. pikiran gue udah melayang entah kemana. bukannya mikirin penatalaksanaan stroke dan spondilitis TB misalnya, gue malah browsing internet, nyari bahan dan info tentang liburan gue.

liburan ini mungkin bakal beda banget ni seandainya jadi. temen2 yang udah kepisah di berbagai bagian, yang sejak tingkat 4 jarang sekali ngobrol. biasanya kita selalu ketemu dan ngobrol panjang saat ada di antara kita yang ultah dan nraktir. tapi sejak tingkat 5 semua jadi jarang. kadang pada sibuk dengan urusan masing2, pacar masing2.

awalnya gue sama Ana yang merencanakan liburan ini. liburan biar kita semua bisa kumpul lagi, like the old times. tadinya gue cuma bilang ke Jawa aja yuk. travelling, backpacking. apa yang dicari sih di Jawa? bukan tempat wisatanya, tapi perjalanan itu sendiri tujuannya. waktu dimana lebih dari seminggu kita bisa deket lagi, mungkin ada yang brantem, bete, tapi pasti ada ketawa2nya, gila2nya. lo ga akan kehabisan cerita selama beberapa tahun ke depan. akhirnya, rute kita makin jelas dan ambisius. Jakarta-Solo-Jogja-Surabaya-Bromo.

Bromo? ya, bromo! untuk yang ke-3 kalinya Insya Allah! SUNRISE!

Deo mungkin udah pasti ga ikut. tapi gapapa. semoga aja yang lain bisa ikut: Mike, Nana, Ana, Wahyu, Fani. astri masih terhambat oleh pacarnya. tapi kita masih berharap.

dari rencana kasar, mungkin 10 harian. 10 hari yang mungkin bisa bercerita untuk 10 tahun ya, hehe. sebuah perjalanan tanpa pacar tentu saja!

Gue tu sering banget deh iri sama orang-orang yang mungkin buat orang banyak ga ada penting2nya banget. Knapa? Karena mungkin buat sebagian orang emang ga menarik.

Waktu tingkat 3 dulu, gue tiba2 iri banget sama temen sekelompok gue yang harus ke Cile karena ada pertemuan organisasinya. Bukan, bukan karena temen gue itu dipercaya untuk keluar negri oleh sebuah organisasi, dan gue belom pernah. Tapi lebih kepada tujuannya, Cile. Entah kenapa, gue ga pernah ngerasa iri sama temen2 lain yang ke Belanda, Inggris, atau apalah. Nah ini, Cile!! Sampe akhirnya gue menetapkan Cile sebagai salah satu negara tujuan utama gue. Paling ngga, Amerika Latin lah. Bolivia atau Argentina gitu.

Sekarang, tiba2 aja, salah seorang temen akan berangkat ke Ukraina untuk summer school. Awalnya dia iseng aja, apply ke beberapa summer school “pinggiran” yang sepi peminat, tanpa harapan diterima. Eh, Tuhan berkata lain. Tapi, darimana uangnya? Kehidupan dia di Ukraina emang dijamin, tapi tiket pulang pergi ngga. Sebulan terakhir teman gue ini banting tulang melakukan fund raising.

Gue iri aja. Ukraina men. Negri dimana Andriy Shevchenko, si pengangguran 30 juta pound itu lahir. Negri dimana ledakan besar nuklir Chernobyl ada. Negri dimana kemisteriusan Uni Sovyet mungkin masih terasa. Gimana lo ga iri? Walaupun mungkin di sana ga seindah Liverpool, misalnya. But you get the story that only few will.

Gue bilang:

“gila, keren banget lo. Orang boleh bilang mereka uda ke Red Light District (Amsterdam). Tapi elo, Jo, udah ke Ukraina!”

Gue jadinya sekarang juga sibuk nyari info sekolah spesialis di luar. Bukan belanda, bukan Jerman. Gue lagi ngesearch di Cile, hehe. Ntar mungkin liat2 juga negara2 Eropa Timur deh. Siapa tau ada yang memberikan peluang beasiswa.

Akhir kata, waktu temen gue ini lagi antri visa, seorang ibu yang juga mau pameran baju di sana bilang:

“wah, di sana cewek2nya cantik! Kayak barbie! Jangan lupa pulang ya!”

DAMN! IRI!

jaga IGD emang ga pernah bisa lo duga gimana hasilnya.  kalo lo jaga berdua, lo arus yakin betul teman lo ini termasuk si “pemanggil pasien” ataukah malah si “penolak pasien.” udah itupun, lo masih harus yakin juga bahwa residen jaga yang bareng elo pun tipe yang mana. baru lo bisa memprediksi kira2 bagaimana nasib lo sepanjang jaga kali itu.

kemaren mungkin adalah salah satu jaga terhectic yang pernah gue lakukan, dan gue jalani saat malam sebelumnya gue masih demam. datang ke IGD sangat tepat waktu, yaitu pukul 3 sore. sudah menunggu dua pasien. lalu perlahan2 pasien mulai datang dan pergi. terus. dan terus. gue bahkan ga berkesempatan untuk capek dan ngantuk.

6 pasien lama, 12 pasien baru, dan 12 jam tanpa berhenti adalah hasil jaga malam itu. indah sekali rasanya tidur setelah saat2 seperti ini..

ale..!

 

Agosto 2008
L M X J V S D
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031